Antara Yang-Ada-Kini dan Yang-Ideal-Kelak

Pagi menjelang siang beberapa minggu yang lalu ketika sejumlah orang mungkin sedang melenakan diri di dalam brunch yang tidak seberapa, dan memang tidak pernah seberapa karena namanya juga sekadar makan tanggung antara sarapan dan makan siang sehingga tidak banyak waktu untuk mempersiapkan kulinari yang sesemerbak sarapan dan selegit makan malam, namun senantiasa menyimpan peluang menimbulkan selarik dengki pada orang lain yang telah berkutat dengan urusan pekerjaan yang nyaris semacam déjà vu setiap hari di balik kubikel industrial atau mengembangkan senyum tanpa henti kepada klien-klien yang bisa jadi lebih menyebalkan daripada bocah-bocah yang mulai mengetahui hal-hal yang diinginkannya hingga sedikit-sedikit merengek bahkan menumpah-ruahkan airmata demi ini-itu, saya dan dua orang kawan akhirnya bisa mengatur lintasan hidup masing-masing untuk kemudian bertemu pada satu titik selama tidak kurang daripada tiga jam berikutnya.

Setelah satu-dua kali berubah pikiran menentukan tempat ngobrol enak dan nyaman, di bawah terik Matahari yang sedang senang-senangnya menggahar, kami bertiga memutuskan untuk… ngemol, yang setelah dipikir-pikir lagi, di antara banyak pilihan, adalah yang paling logis, setidaknya untuk saya: adem, lengang, bisa makan dan minum enak, sekaligus membuka peluang untuk menghedon tanpa beban. Begitu keluar dari elevator yang mengantar kami dari area parkir ke lantai dasar mall, saya pun langsung tahu sekaligus dengan cemerlang membuat visualisasi kami selama beberapa waktu ke depan: obrolan seru mungkin bahkan saru, sepasang meja kecil, dua pasang kursi di sekelilingnya, di sudut dekat pilar yang berbatasan dengan pagar kaca berangka metal, dengan alunan musik yang satu kali pernah saya anggap terlalu berisik untuk tempat itu.

Dengan tiga gelas minuman yang tidak sama satu dan yang lain, beberapa kuntum macaroon aneka warna dan rupa-rupa rasa yang menggungah a la Bakerzin yang mengandung nuansa agak berbeda dengan yang diusung The Harvest nun tidak jauh di sana namun sudah mulai jarang saya kunjungi, dan sepiring platter yang bagi saya tidak pernah tidak memesona, pembicaraan pun mulai mengalir: dari semacam bisnis kecil sekaligus krusial yang tidak terikat deadline yang memang menjadi latar belakang pertemuan kami, cerita tentang senyum simpul namun tulus si kawan di balik patah hatinya yang baru terjadi pada hari itu juga dan membuat kami berdua terkejut sekaligus kagum betapa ia sanggup mengatasi kecamuk perasaan dengan tetap memenuhi janji untuk bertemu, hingga diskusi tentang relasi anak dan orangtuanya yang seolah tidak lagi alami karena telah dipolitisi oleh segala doktrin agama dan norma sosial.

Bagaimanapun, bukan rangkaian hal itu yang membuat tiga jam itu terasa menyenangkan dan kontemplatif, bukan pula segala hiburan bagi lidah yang dalam satu setengah jam kemudian semakin semarak dengan datangnya selingkaran penuh pizza bersahaja karena tidak tampil dengan topping menor dan sepiring fillet dori berhias kentang-kentang mungil nyêmpluk menggemaskan yang diolah dengan irisan bawang bombay, melainkan pertanyaan yang saya lontarkan sambil lalu dan jawaban kedua kawan atas pertanyaan tersebut, pertanyaan uzur sih: “Mana yang akan kalian pilih: tetap bersama partner-in-love kalian selama ini, atau kelak meninggalkannya demi sosok ideal, seseorang yang memenuhi segala harapan dan impian kalian?” Daaan… seperti halnya tidak kurang dari delapan puluh persen orang yang kepada mereka saya ajukan pertanyaan yang sama, tanpa banyak berpikir, tanpa mengambil jeda untuk meneguk minuman dan mencomot makanan, kedua kawan ini langsung memilih yang kedua sebagai jawaban. Saya pun cuma tersenyum, bukan senyum yang bermuatan ini-itu semacam agenda terselubung, tetapi karena hanya itulah yang bisa saya lakukan. Salah satu kawan tiba-tiba bertanya balik: “Tapi, sosok ideal itu mau juga sama saya, kan?” Hahaha, ya tentu saja dia mau laaaah. Ia pun semakin mantap dengan pilihannya sambil mèsam-mèsêm. Saya sendiri lebih memilih yang pertama karena yang senantiasa terbayang oleh saya: betapa masa-masa yang kita jalani bersama seseorang yang padanya telah kita bagi banyak hal, kita curahkan banyak hal, yang mengandung airmata lebih-lebih yang menyeruakkan sukacita, telah kita gambar masa depan bersama, telah kita lebur segala hasrat menggebu berapi-api hingga menjelma serupa mata air tanpa riak namun menenteramkan, adalah momen kefanaan yang tidak begitu saja dapat digantikan oleh sosok ideal. Pada sosok ideal tentu kita akan menemukan segala kebaikan yang tidak perlu dipertanyakan lagi, namanya juga ideal, tidak perlu berusaha untuk beradaptasi, tidak perlu belajar untuk mengenal satu sama lain, tidak perlu merasakan mungkin sêmriwing perih dan ngilu demi mewujudkan kestabilan irisan antara dua himpunan individu. Namun demikian, apakah kemudian kita bisa semudah itu untuk melepas seseorang yang begitu berarti bagi kita? Melepas karena kita beralih ke kalbu yang lain? Melepas bukan karena ia membuat kita kecewa karena memutar balik amanat menjadi khianat? Melepas bukan karena ia menyeberang ke keabadian yang tentu saja absolut dan ia tidak akan pernah kita rengkuh kembali? Apa pun itu, saya pikir ini bukan tentang benar dan salah, atau baik dan buruk, tetapi sekadar pilihan yang disadari atau tidak tidak senantiasa memikul konsekuensinya masing-masing. Lalu, cerah hari itu pun mendadak agak terbebani oleh tanya-jawab yang tidak kami rencanankan, tetapi tidak apa, toh tetap menawarkan sesuatu untuk direnungkan lagi dan lagi dan lagi selepasnya, tidak terkecuali saya, meskipun mungkin tidak seintens kedua kawan saya karena mereka tidak pulang dengan membawa satu eksemplar majalah DaMan edisi terbaru yang sedikit-banyak mampu mengalihkan perhatian saya dengan lembar-lembar glosi berisi paparan tentang fashion, eskapisme, dan yang happening! dari benua ke benua selama dua bulan terakhir.

Ah, mungkin saya saja yang keterlaluan. Tetapi, memang demikianlah yang saya imani selami ini. Dan karena itu pula ada masa-masa ketika saya merasa latah patah hati hanya karena melihat sejumlah orang yang bahkan tidak saya kenal berpisah dari kekasihnya. Yang paling dahsyat tentu saja ketika saya tahu, dan itu sangat terlambat, bahwa Charlize Theron tidak lagi bersama Stuart Townsend setelah mereka bersama hampir satu dekade. Betapa saya masih ingat ketika Charlize menerima Oscar untuk permainannya yang mengerikan sekaligus rapuh di Monster, mengekspresikan kegembiraannya, dan menjadikan Stuart sebagai orang yang bahkan bisa jadi lebih berbahagia pada malam itu hingga ada kaca yang nyaris berderai-derai di sepasang matanya. Hal senada, penyesalan yang, tentu saja, sebenarnya bukan hak saya, juga saya rasakan ketika untuk kali pertama membaca berita bahwa Mark Feehily tidak lagi bersama Kevin McDaid. Mungkin itu adalah momen WTF! terbesar dalam sejarah saya sebagai penikmat musik setelah bubarnya Westlife. Seperti halnya ketika Charlize merengkuh gelar best actress in a leading role di ajang Academy Awards, pada konser peringatan sepuluh tahun Westlife di Croke Park Stadium Irlandia, di jeda antarlagu menjelang finale, kalau kalau tidak salah selepas “Flying without Wings”, atau mungkin sebelum, Mark juga membuat saya terharu dengan pernyataannya tentang Kevin di dalam hidupnya. Charlize dan Mark hanyalah segelintir kisah di antara banyak yang lain berkaitan dengan remuknya tulang belakang yang menyangga hangat-teduh-semilir cinta antara dua manusia. Berkaitan dengan itu pula, yah apa pun kata orang, setiap kali saya melihat pasangan, entah itu pasangan yang nyata atau sekadar saya bayangkan, tanpa pernah saya niatkan, ada sebersit bahagia disertai harapan, terkadang juga doa dalam bahasa sendiri, mereka senantiasa mampu untuk terus-menerus saling berkomitmen dan berkompromi memelihara irisan agar dua himpunan mereka tidak terlepas satu sama lain. Hal itu pula yang hingga hari saya bubungkan ke semesta raya untuk banyak orang, yang saya kenal secara personal maupun sekadar persona di layar kaca dan dunia maya, termasuk Neil Patrick Harris dan David Burtka, yap, mereka berdua bersama kedua bocah-semacam-kembarnya yang bagi saya merupakan personifikasi yang nyaris sempurna akan citra A Home at the End of the World Michael Cunningham yang saya baca bertahun-tahun yang lalu dan hingga hari menjadi salah satu novel termanis -realistis.

Daaan… karena tidak ada lagi yang sekiranya bisa saya tulis berkaitan dengan kisah cinta dan relasi antarmanusia, saya pun mengizinkan diri saya untuk mengutip bulat-bulat lirik salah satu lagu terbaik, bahkan mungkin yang terbaik, yang pernah saya jumpai: “That’s Where You Find Love” dari Westlife, disertai harapan bahwa siapa pun memperoleh kesempatan luar biasa seperti halnya si aku lirik di dalam lagu ini. Amin yaowoooh….

In your eyes, I found the greatest prize. You and I could not be closer. And in your arms, is everything I want. Now I know my search is over.

And I don’t know where you take me. But it’s exactly where I wanna be.

It’s where the stars line up. It’s where the ocean’s touch. It’s in a place you’ve never been that feels like home. It’s in the air right now. It’s when you give your all, and give a little more. I’ve never been so sure, that’s where you find love.

People pass, and listen to us laugh. Wishing that they had the same thing. And our friends they ask, how we made it last. I just smile and say the same thing.

I’m not sure how we got here. Baby I’m just glad that we got here

It’s where the stars line up. It’s where the ocean’s touch. It’s in a place you’ve never been that feels like home. It’s in the air right now. It’s when you give your all, and give a little more. I’ve never been so sure, that’s where you find love. That’s where you find love.

It’s where the stars line up. It’s where the ocean’s touch. It’s in a place you’ve never been that feels like home. It’s in the air right now. It’s when you give your all, and give a little more. I’ve never been this sure, that’s where you find love.

Find love. That’s where you find love.

#letloveleadtheway

~Bramantio