Di Antara Dua Hati: Meja Poker dan Rumah Riwayat

Selepas maghrib hari ketujuh belas yang sama sekali tidak berhubungan dengan nuzulul quran karena Ramadhan telah berlalu dan kini adalah bulan milik para manusia Virgo yang kata si penggagas astrologi menjadi salah satu kawan terbaik bagi manusia Taurus meskipun nyatanya tidak senantiasa demikian karena karakteristik ternyata juga berkaitan erat dengan shio dan weton, saya mengalami peristiwa mirip dengan yang pernah terjadi beberapa bulan yang lalu dan secara gamblang saya nyatakan di dunia maya melalui media sosial: “Pergulatan batin adalah suatu kondisi yang serbamendua dalam menentukan album terbaik Westlife: Back Home atau Where We Are.” Kali ini yang terjadi tidak berkaitan dengan musik, melainkan film. Tanpa ada peringatan sebelumnya tentang datangnya kemelut ini karena sepanjang hari saya harus menggenapi jam tayang selama tidak kurang daripada tiga jam back to back pada dua kelas Pengantar Kajian Budaya Urban yang lumayan banyak dipenuhi keceriaan yang semoga tidak sekadar euforia awal semester dilanjutkan dengan menyelesaikan sejumlah tagihan termasuk duduk berjam-jam di meja kerja dan seolah becermin sangat samar pada layar laptop demi menata artikel jurnal mahasiswa lengkap dengan gangguan-gangguan kecil dan besar dari orang-orang yang wira-wiri di sekitar, saya tiba di sebuah pertanyaan yang penting tidak penting yang semestinya bisa saya abaikan begitu saja tetapi nyatanya terus mengganggu hingga beberapa jam kemudian berkaitan dengan mana yang lebih baik antara dua dari tiga film terakhir James Bond.

Dua dari tiga di situ memang benar adanya karena bagi saya Quantum of Solace tidak perlu diperhitungkan lebih-lebih dibandingkan dengan Casino Royale dan Skyfall. Saya bukan penggemar sejati franchise ini dan memang tidak menonton semua filmnya. Saya mulai akrab dengan agen ini ketika ia mewujud melalui Pierce Brosnan yang pertama kali saya kenal sebagai detektif swasta di serial televisi klasik Remington Steele yang menjadi salah satu tayangan pada masa itu yang selalu saya tonton berdua dengan bapak saya selain serial Manimal yang seumuran dengannya sekaligus fantastik khususnya pada scene-scene ketika si tokoh sentral malihrupa menjadi fauna, MacGyver yang besahaja namun canggih habis-habisan yang sungguh memotivasi saya untuk banyak membaca karena berharap bisa sekreatif dia dan betapa episode perburuan harta karun Atlantis menjadi salah satu episode serial televisi terbaik yang pernah saya tonton jauh sebelum saya mengenal Indiana Jones dan Lara Croft, dan Melrose Place bertahun-tahun kemudian yang lumayan sarat dengan liplock, full body contact, dan relasi antarmanusia yang mengusung jargon “Don’t try this at home!” seperti kata salah satu intermeso pada tayangan MTV dan jauh lebih rumit sekaligus suka-suka-gw daripada Beverly Hills 90210 yang seingat saya lahir dari kreator yang sama. Ketika James Bond memiliki vessel baru yaitu Daniel Craig yang pada awalnya sempat mengundang pro dan kontra cukup riuh di kalangan movigoer, saya merasa film-film James Bond menjadi lebih menarik karena ia tidak lagi sibuk menghadirkan citra flirtatious Bond, tetapi mengembalikannya ke Bumi yang berdebu dan meremukkan, demikian pula dengan jalan cerita yang tidak melulu bermain-main di ranah perjalanan antarnegara antarbenua dan piranti berteknologi tingkat wahid berlabel too good to be true. Keberhasilan Casino Royale dalam mengonstruksi citra baru Bond inilah yang menjadi alasan utama saya agak kecewa dengan Quantum of Solace yang semestinya seru karena ia terjadi beberapa jam setelah Casino Royale tetapi sayangnya terasa tidak memiliki kedalaman. Bagaimanapun, beberapa tahun kemudian saya sangat terhibur oleh Skyfall.

Terlepas dari Casino Royale memang diangkat dari buku pertama Bond yang tentunya menjadi semacam memutar kembali kehidupan Bond dari film ke film sebelumnya menuju titik awalnya, sebagai sebuah film ia memiliki independensi penuh sebagai individu tunggal. Ketika menontonnya untuk kali pertama, meskipun memang prosesnya tidak bisa berlangsung jernih dan sepenuhnya, saya tidak lagi memandangnya sebagai bagian dari sejarah panjang kehidupan sinematik agen ini, saya pun lebih mudah menerima sosoknya sebagai manusia biasa dan bukan semacam the untouchable dan agen super. Rangkaian adegan permainan kartu di kasino memiliki muatan dramatik yang bisa jadi menghapus kesan film aksi spionase yang selama ini melekat pada franchise ini. Kehadiran Eva Green sebagai Vesper Lynd juga menorehkan kesan tersendiri di dalam sejarah Bond Girl, ia mengusung sejumlah façade mulai aura kecerdasan yang bisa jadi membuat rekan bicaranya berkomentar “Biyatch banget sih lo!” atau bahkan “Pengen gw gampar?!”, benteng bening yang menyuarakan “Minggir lo dari jalan gw!”, ketulusan seorang rekan kerja merangkap kawan akrab merangkap kekasih, jebolnya pertahanan hingga menyeruaklah kerapuhan di bawah siraman shower, enigmatik, sekaligus meretihkan pesona dan sensualitas di sana-sini tanpa terkesan berlebihan khususnya ketika ia mengenakan gaun halter ungu berkategori kombo dan va-va-voom! karena backless sekaligus deep plunge, dan dari sejumlah Bond Girl yang saya kenal dan memang tidak banyak, ia adalah yang terbaik. Sosok antagonis di film ini pun tidak sekadar manusia yang serta-merta jidatnya layak distempel dengan logam panas yang kurang-lebih bermuatan tulisan “Halal Dibunuh”, Mads Mikkelsen yang serial televisi Hannibal-nya membuat saya kepo namun hingga hari belum berhasil saya tonton, menghidupkan Le Chiffre sebagai bapak anteng, kewl, pokerface, elegan dalam bermain-main dengan lawannya, ditambah sisi melankolis miris yang muncul ketika ia menangis darah yang tentu saja tidak berkaitan dengan stigmata, juga kutub sesatnya ketika melancarkan aksi penyiksaan dengan metode “Pecahkan Saja Bolanya!” yang membuat ngilu.

Berbeda dengan Casino Royale yang dari judulnya bisa dibayangkan hal-hal apa saja yang sekiranya hadir di dalamnya, Skyfall membuat saya bertanya-tanya bahkan setelah menyaksikan trailer-nya: apakah ia berkaitan dengan dunia media yang begitu digdaya  dalam mengonstruksi ini-itu seperti halnya Tomorrow Never Dies, ataukah berkaitan dengan semacam konspirasi para dalang internasional seperti di The Sky is Falling Sidney Sheldon, ataukah berkaitan dengan teknologi penyedia hari kiamat yang jauh lebih mutakhir daripada satelit Icarus di Die Another Day sehingga tentu saja mampu meruntuhkan langit, ataukah… entahlah. Kesan umum yang hinggap untuk kemudian membangun sarang di pikiran saya selepas menyaksikan Skyfall adalah ia membentuk lingkaran penuh dengan Casino Royale yang menjadi titik awal karir James Bond sebagai 007 dan Skyfall mengantarkannya menjumpai hantu masa lalunya sekaligus menyelesaikan urusan dengannya, menghidupkan kembali dirinya meskipun tentu saja tidak sedramatis Phoenix bahkan yang versi Fawkes di Harry Potter and the Order of the Phoenix, dan melangkah menuju hari baru bersama bos baru yang pernah Lord Voldemort. Selain itu, sinematografi Skyfall saya pikir memanjakan mata, baik untuk ­­scene-scene di luar maupun di dalam ruangan, landscape maupun cityscape, impresi jiwa setiap kota yang menjadi latar cerita pun mekar dengan manis. Bagaimanapun, hal paling mengesankan bagi saya dari Skyfall adalah aura mistis dan horornya yang membuat saya tidak nyaman sepanjang menyaksikannya, hampir sama dengan ketika saya menyaksikan If Only yang semestinya adalah cerita cinta yang masyaowoh! tetapi menjelma semacam Final Destination karena sepanjang film dibuat khawatir dan mau tidak mau terus-menerus berpikir “Mati deh, mati deh, mati deh.” Setidaknya ada tiga titik yang paling nyata mengusung aroma yang demikian: pertama, Golden Dragon Casino di Macau, segala api dan sentuhan orientalnya berpadu dengan komodo montok yang muncul dari ruang-ruang gelap di area berpasir di bawah jembatan; kedua, pulau kecil tidak berpenghuni namun penuh bangunan beton yang seolah digentayangi hantu-hantu Chernobyliah sebagai tempat pertemuan Bond dengan Raoul Silva sebagai personifikasi horor itu sendiri; dan ketiga, rumah masa kecil Bond yang pada akhirnya menarik cerita film ini yang pada awalnya tampak gegap-gempita dengan terorisme saiber, termasuk dengan kehadiran Q yang cardigans-nya sempat membuat saya mupeng, menuju hal-hal yang begitu membumi: relasi hormat-cinta-benci antara anak dan ibunya, karma, kepulangan si anak hilang, dan usaha berdamai dengan masa lalu. Rasa penasaran saya akan arti kata Skyfall pun terjawab dengan cara yang tidak saya duga.

Baiklah, kembali ke urusan awal. Seperti halnya saya yang pada akhirnya memutuskan bahwa Where We Are adalah album terbaik Westlife, setelah menimbang ini-itu dengan memerhatikan relasi antarunsur yang membentuk struktur (halah!) Casino Royale dan Skyfall, saya memutuskan, setidaknya untuk saat ini, bahwa saya melabuhkan hati pada… Skyfall.

~Bramantio