David Grimaldi, Kliping, Inspirasi

Pagi ini selepas sarapan alakadarnya namun mengandung kombo karena melibatkan Indomie jumbo rasa ayam panggang yang lebih sering saya sebut Indomie Biru karena demikianlah warna bungkusnya dan telor ceplok dobel yang digoreng hingga keriting di sejumlah bagian, juga sebotol cebol Good Day Tiramisu Bliss yang memang terasa blissful lebih-lebih untuk kopi dalam kemasan siap minum seharga lima ribuan, saya membuka Twitter tanpa disertai tujuan untuk ngetwit apa pun, dan mendapati di bagian teratas lini(bukanbatara)kala berita dari People Magazine tentang Grace of Monaco yang dibintangi Nicole Kidman, saya pun mengkliknya dan beberapa detik kemudian menjumpai foto bernuansa aristokrat dan artikel pendek. Meskipun demikian, ini bukan tentang Nicole yang rekor film The Hours-nya sejak awal 2002 belum tergeser sebagai film terbaik yang pernah saya tonton, dan Rabbit Hole-nya menjadi salah satu di dalam daftar film tergetir versi saya bersama Atonement dan The Painted Veil, tetapi tentang satu kata di dalam artikel itu: Grimaldi.

Begitu mata saya mendapati kata itu, dengan proses yang senantiasa sangat jauh lebih singkat daripada penjelasan tentang proses tertangkapnya bayangan hingga tiba di retina yang melengkapi sebuah gambar besar penampang bola mata yang digantung di papan tulis oleh para guru kita, terjadilah sebuah proses yang saya bayangkan serupa search engine yang tanpa alasan khusus mengaktifkan dirinya sendiri untuk mencari informasi yang mungkin sekadar dibisikkan dengan seperempat sadar tiga perempat iseng namun sepenuhnya ilahiah oleh sosok tidak kasatmata hingga mencapai masa-masa yang telah berlalu dan muncullah sebuah nama yang menjadi salah satu yang paling gemilang di dalam sepuluh tahun pertama kehidupan saya: David Grimaldi.

Si search engine imajiner tadi lalu semakin merajalela dengan membuka-tutup lemari-lemari gelap yang juga imajiner dan menyalakan kembali lampu-lampu gantung di dalamnya yang bertahun-tahun berhibernasi namun nyatanya masih memiliki daya hidup yang tidak meredup sedikit pun dan mengantarkan saya melintasi ruang dan waktu menuju semesta yang Matahari paginya senantiasa disertai janji-janji indah dan malamnya tidak pernah jahanam. Saya mengenal David Grimaldi setelah melalui semacam evolusi bacaan, dari Bobo beralih ke Ananda lalu terakhir mendarat ke Kawanku, ya, Kawanku yang itu, Kawanku ketika ia belum memutuskan memilih mengkhususkan diri untuk pembaca perempuan. Masa itu menjadi salah satu masa terbaik karena di luar segala tugas sekolah yang tentu terasa sangat manusiawi dibandingkan tugas-tugas bocah berseragam putih-merah saat ini, seminggu sekali saya mempunyai waktu khusus untuk menenggelamkan diri dengan satu di antara banyak kesenangan seperti bermain Super Mario Bros. atau Castlevania di Nintendo, bermain mobil-mobil futuristik Tamiya dengan lintasan milik sendiri hingga tidak jarang rumah menjadi semacam basecamp karena teman-teman bisa mengadu Tamiya-nya gratis, membuat herbarium asal jadi berisi tanaman-tanaman paku lengkap dengan catatan tentang klasifikasinya berdasarkan buku fotokopian dari seorang guru, dan berkeliling ke tanah-tanah liar Surabaya lalu nyemplung ke bagian-bagian berairnya guna memperoleh telur-telur katak, baik yang berupa busa pekat maupun koloni gelembung jeli transparan berbintik hitam berkedut-kedut yang strukturnya mengingatkan saya akan sarang lebah untuk dibawa pulang hingga semuanya menetas menjelma berudu buntung lalu berkaki belakang lalu berkaki lengkap lalu kehilangan ekor dayungnya lalu melompat meninggalkan ember untuk berkelana melalui jaringan selokan kota, menciduk sejumlah sampel air dengan botol-botol kecil untuk kemudian diamati dengan mikroskop bermata tunggal dengan pembesaran maksimum seribu lima ratus kali hadiah dari Bapak yang bebas saya pilih sendiri di sebuah toko piranti kedokteran dan laboratorium di Jalan Biliton yang memperkenalkan saya pada arti trial and error karena adakalanya kecewa dengan air yang tidak mengandung hal menarik selain ganggang-ganggang bisu sekaligus di lain waktu mengalami petualangan yang mendebarkan karena bertemu Volvox yang serupa alien-hantu-unyu berwarna kehijauan, Paramaecium yang senantiasa tampak bermalas-malasan dan mager abis, dan yang paling menarik tentu saja Euglena viridis yang melesat ke sana-ke mari dengan flagel tunggalnya yang memaksa saya untuk terampil memutar makrometer dan mikrometer supaya bayangan tetap fokus dan menggeser-geser preparat naik-turun-kiri-kanan yang untungnya dibantu oleh mekanika di bagian bawah landasan preparat: dengan berbekal gunting, lem, dan sebundel kertas kuarto atau beberapa buku gambar, saya membuat kliping dari terbitan berkala yang sampai ke tangan saya sepanjang minggu itu, tiga besarnya sih ya Kawanku, koran Jawa Pos, dan koran Kompas.

Di artikel pendek berjudul kurang lebih “David Grimaldi si Raja Lalat”, terdapat foto David bersama sebuah foto seekor lalat hammerhead yang meskipun sama-sama berwarna hijau tentu saja terasa lebih alien daripada Volvox karena keanehan Volvox saya terima begitu saja mengingat ia adalah bagian dari dunia mikro yang hanya bisa dicapai dengan piranti khusus semacam kacamata Schufftein yang dikenakan Abe Sapien untuk menyingkap tabir glamour di Hellboy II: The Golden Army, sedangkan untuk lalat pada masa itu yang saya kenal hanyalah yang berbentuk standar dan berisik berwarna hitam polos-los-los atau adakalanya saya menjumpai yang bermata merah dan berukuran jumbo.

Search engine tadi pun membuat saya teringat akan betapa beberapa menit ketika membaca artikel itu, saya merasa kagum pada sosok David sebagai ahli entomologi yang mengkhususkan diri pada studi lalat, terlebih lagi karena hal-hal berkaitan dengan Biologi selalu menarik minat saya pada masa itu, sekali lagi, pada masa itu. Dan betapa manusia tidak pernah benar-benar tahu bahwa hal-hal kecil dan seolah tidak signifikan yang terjadi sepanjang hidupnya ternyata membawa dampak besar pada masa-masa berikutnya, betapa secuplik profil David Grimaldi begitu menginspirasi untuk lebih banyak membaca dan menulis, salah satu yang masih saya ingat adalah tulisan goblok-goblokan tentang batu ambar yang terbentuk oleh getah genus Hymenaea dan menjadi kepompong tahan banting bagi sejumlah serangga yang hidup jutaan tahun lalu, yang tentu semakin mengembang dengan datangnya satu seri Ensiklopedi Indonesia pada suatu sore yang sumuk sebagai hadiah dari Bapak tanpa perlu menunggu peringatan hari kelahiran saya.

Pada tahun kedua di SMP saya bertemu beberapa kawan yang memiliki minat sama dengan saya berkaitan dengan hal-hal ilmiah sehingga kami bahkan sempat mengajukan saran kepada guru Fisika kami untuk menyelenggarakan semacam ekstrakurikuler yang memberi wadah bagi kami, memandu kami menulis dalam kerangka scientific sekaligus melakukan penelitian kecil-kecil. Meskipun hingga kami menyelesaikan studi dua tahun berikutnya impian kami akan ekstrakurikuler itu tidak terwujud sempurna, karena hanya ada semacam pertemuan tidak rutin yang tergantung pada isu yang kami bawa untuk didiskusikan lebih lanjut, kami sempat melakukan sejumlah penelitian yang jika saya pikir-pikir lagi kok ya semacam ketidakwarasan dan mungkin ada yang mencibir kami sebagai geng lunatik, salah satunya adalah usaha kami untuk mengetahui tentang kaitan antara cara dan kondisi belajar dengan prestasi siswa. Omagat! Kami pun membuat semacam pendahuluan yang sederhana untuk kemudian kami lengkapi dengan sejumlah referensi yang harus kami cari dengan mendatangi sejumlah perpustakaan, seperti Perpusda dan perpustakaan kecil di kompleks Balai Pemuda, karena, hellooo, pada masa itu kami cuma punya eyang kakung dan eyang putri, belum ada Eyang Google. Belum pula ada ponsel yang tentu akan memberi kami sedikit keleluasaan untuk bertemu atau batal bertemu sehingga segala sesuatu yang kami lakukan pada saat itu benar-benar sesolid memenuhi janji pada diri sendiri dan orang lain yang telah kami buat beberapa hari sebelumnya baik secara langsung maupun melalui pesawat telepon rumah, setiap kesepakatan bertemu pada pukul X maka kami pun telah berada di lokasi pada pukul X-30 menit, dan yang terasa lebih mengangumkan adalah: kami melakukan semua itu tidak dengan kendaraan pribadi karena usia kami belum mengizinkan untuk mengemudi sendiri, tetapi hanya dengan naik bemo yang tentu saja tidak bisa diprediksi kecepatan rata-ratanya atau sebanyak apa ia akan menepi untuk menunggu penumpang. Kami pun juga mengurus izin internal dan eksternal untuk menyebarkan kuesioner ke beberapa SMP sampel dari seluruh SMP di Surabaya sebagai populasinya, dan itu sungguh tidak mudah, belum lagi uji kesabaran berkaitan dengan keterlambatan pengembalian kuesioner bahkan ada yang tidak kembali. Trivia: meskipun tidak lagi berkontak dengan mereka, jika saya ingat-ingat lagi, dua di antara kawan satu tim itu termasuk orang-orang yang tanpa mereka sadari juga memotivasi saya untuk mencapai apa pun yang saya ingin capai, yang sebenarnya berawal dari cemburu-yang-tidak-buta karena, bagaimana tidak cemburu, yang satu jago bermain tenis lapangan dan bola basket serta menjadi salah satu pelari terbaik di angkatan kami, yang satu lagi jago bermain piano lengkap dengan membaca partitur tentu saja, dan itu sudah menjadi rahasia umum, sedangkan saya… cuma bisa bernyanyi karaoke “Jembatan Merah”, “Sepasang Mata Bola”, dan, yang paling sulit dari ketiganya, “Selendang Sutra”, di lomba Agustusan antarkelas. Krik-krik-krik.

Serupa dengan yang terjadi di SMP, di SMA saya kembali berkutat dengan tulis-menulis ilmiah. Bedanya, di SMA memang ada ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja yang memiliki jadwal rutin seminggu sekali untuk nge-lab, berdiskusi, berdebat, observasi, dan merencanakan penelitian. Awalnya saya juga berminat dengan ekskul paskib yang memang selalu tampak keren dan elit, lebih-lebih jika disertai bayangan menjadi paskibraka nasional, tetapi saya menguburnya begitu saja karena jadwal latihannya sore guna menghindari terik Matahari, sedangkan saya terlalu malas untuk berlama-lama di sekolah, sehingga KIR menjadi satu-satunya ekskul yang saya ikuti karena ia dilaksanakan selepas Jumatan, berakhir selambat-lambatnya pukul enam belas, daaan… tentu saja karena KIR adalah satu-satunya ekskul yang bebas perploncoan-yang-nggak-penting-blas-itu-apa-pun-alasan-dan-variasinya.

Puncak aktivitas saya di KIR terjadi pada tahun kedua ketika saya dipercaya mengelola sebuah kumbung berisi jamur tiram alias Pleurotus ostreatus dengan empat perlakuan pada media tanamnya: setiap pagi saya tiba di sekolah setengah jam sebelum jam pelajaran pertama untuk menyiram dinding kumbung luar dan dalam, bukan dengan slang lengkap dengan penyemprotnya melainkan dengan gembor yang harus saya isi bolak-balik dengan air kran, guna mempertahankan kelembabannya, begitu pula selepas jam pelajaran berakhir, kecuali Sabtu dan Minggu yang dibantu oleh petugas kebersihan, saya juga harus mengukur pertumbuhan miselium, kecepatan bertunas, dan pertumbuhan tubuh buah setiap jamur di tidak kurang dari lima puluh polibag lalu membuat reratanya sehingga pada akhirnya bisa diketahui komposisi terbaik serbuk-gergaji-bekatul-kapur yang mana yang paling cepat menumbuhkan sekaligus mengoptimalkan pertumbuhan jamur tiram. Pada masa itu pula saya baru tahu bahwa jamur tiram tumis atau goreng ternyata enak dan nyaris-daging-ayam, asal tidak dijadikan sup karena rasanya hambar dan hampir tidak ada bedanya dengan kembang tahu. Pada saat yang sama saya juga menjadi bagian dua tim yang melakukan penelitian tentang kunyit untuk pereda sakit gigi dan, yang paling penuh intrik karena harus menjadi raja tega dan melibatkan sesuatu yang bergerak melata menggeliat secara aktif, daya regenerasi cacing tanah. Saya sempat juga mengikuti pelatihan kultur jaringan dan membuat saya beberapa kali tersenyum sendiri dan mungkin menjadikan saya sebagai orang paling berbahagia sepanjang beberapa jam itu karena membuat saya membayangkan menjadi bagian dari para ilmuwan di InGen yang ultramutakhir milik John Hammond yang ultrakaya di Jurassic Park. Oh, puhlies. David Grimaldi juga sempat mengantarkan saya, tentu saja tidak secara harfiah, melakukan riset pencemaran air Kali Mas yang membuat saya wira-wiri ke Dinas Perindustrian dan Dinas Kesehatan untuk bertanya ini-itu sekaligus memperoleh sejumlah data, yang tidak seperti ketika di SMP, kali ini bergerak secara solo dan dengan taksi, yang hasilnya kemudian saya presentasikan pada sebuah kompetisi. Ah, masa itu, materi presentasi harus diketik terlebih dulu dengan program komputer sederhana asalkan ada warna dan gambar, kemudian dicetak pada lembar transparan khusus yang bisa memerangkap tinta printer yang harga per lembarnya lumayanlah, untuk kemudian ditayangkan dengan OHP yang senantiasa memiliki kemungkinan menghasilkan bayangan terbalik karena salah meletakkan lembar transparan. Betapa hal-hal yang kini begitu sepele pernah harus ditempuh dengan proses yang cukup merepotkan. Sejumlah pengalaman inilah yang bertahun-tahun kemudian membuat saya dipanggil secara khusus seolah terlibat kasus aibiah untuk menghadap kepala sekolah di ruangannya karena tanpa sepengetahuannya saya memutuskan memilih dan resmi menjadi warga kelas IPS yang seolah mengingkari track record saya selama dua tahun sebelumnya. Pagi itu saya pun dengan entengnya menyatakan hal-hal yang jika diletakkan pada kerangka berpikir masyarakat awam, khususnya dalam kaitannya dengan prestise, menjadi sesuatu yang naif kuadrat, yang kurang-lebih: “Begini, Pak. Saya suka Biologi, tetapi saya tidak mengerti Fisika, Matematika, Kimia meskipun nilai saya tidak sampai di bawah rata-rata. Mereka semacam pelajaran berkhayal karena saya toh tidak pernah melihat wujud elektron lebih-lebih elektron valensi seperti halnya yang tercantum pada Tabel Periodik Unsur. Lalu bagi saya kok ya rumit sekali hidup dalam kerangka berpikir “menghitung berapa daya yang dibutuhkan dan sudut yang diperlukan untuk memasukkan bola basket seberat sekian kilo ke dalam keranjang yang terletak pada jarak sekian meter dari si pelempar”. Sincostangen dan limit pun saya pikir tidak akan saya gunakan dalam keseharian saya. Mending Antropologi dan Sosiologi, kan, Pak? Kecuali kalau di sekolah ini ada kelas bahasa.” Si bapak pun hanya mèsêm berwibawa. Meskipun demikian, pada masa itu nyatanya saya tetap membaca Black Holes and Baby Universe Stephen Hawking dilanjutkan dengan perdebatan tentang theory of everything yang membuat saya terkapar sesudahnya karena seolah usai menyelesaikan lari hinga beberapa kilometer melebihi batas kemampuan saya, The Origin of Species Charles Darwin, tetap terpesona oleh pemikiran Gregor Mendel tentang Genetika yang kemudian sangat membantu saya dalam memahami para karakter di komik X-Men atau mutan-mutan di komik lain, dan sempat berkutat dengan dua pertanyaan beraroma fisika: Pertama: katakanlah dibuat sebuah lubang yang menembus Kutub Utara ke Kutub Selatan, lalu dengan mengabaikan segala elemen yang menyusun Bumi, seperti magma dan lain-lain, dicemplungkan sebuah bola logam katakanlah seberat satu kilogram dari Kutub Utara, apa yang terjadi pada bola itu? Akankah ia mencuat keluar mengejutkan siapa pun yang menanti di Kutub Selatan ataukah ia akan berhenti tepat di titik tengah Bumi? Jawaban yang saya peroleh sebatas kemampuan berpikir saya pada waktu itu adalah: dengan mengabaikan segala gaya gesek sepanjang diameter Bumi, bola tidak akan berhenti bergerak dari Kutub Utara ke Kutub Selatan karena setiap setengah perjalanan menembus Bumi sisi Utara karena tertarik oleh gravitasi, energi yang sama akan ia gunakan untuk melalui setengah Bumi lainnya menuju Kutub Utara, tetapi tidak akan sampai mencuat karena energi yang dimiliknya akan mengalami semacam penihilan oleh gravitas yang akan kembali menariknya menuju pusat untuk kemudian diteruskannya ke Kutub Utara, dan lagi, dan lagi, dan lagi tanpa capek deh. Kedua, dipicu secara tidak langsung oleh klip video ‘N Sync “Bye Bye Bye” yaitu pada adegan kejar-kejaran di atas rangkaian gerbong yang melaju: katakanlah ada dua kejadian: orang pertama melompat setinggi-tingginya di dalam sebuah gerbong yang melaju dan orang kedua melompat setinggi-tingginya pada mobil pick-up yang melaju. Pada kejadian pertama, si orang akan mendarat pada titik awal lompatannya, sedangkan pada kejadian kedua, si orang akan mendarat pada permukaan tanah karena tetinggal oleh mobil. Kedua kejadian tersebut bisa dianalogikan dengan: manusia biasa melompat di permukaan Bumi dan mendarat  pada titik awal lompatannya, dan manusia super besar yang tingginya melampau atmosfer yang melompat dan bisa jadi mendarat di titik yang berbeda sejalan dengan rotasi Bumi. Hmmm, konyol sih. Saya pikir memang ada penjelasan ilmiahnya, tetapi pada waktu itu yang saya simpulkan adalah: kedua kejadian tersebut berkaitan erat dengan ruang: orang pertama tidak tertinggal karena ia berada di dalam ruang, yang kedua tertinggal karena ia berada di “ruang” pick-up sekaligus “ruang” Bumi yang terbuka, ia melampaui “ruang”, sehingga begitu ia meninggalkan pick-up, ia tidak lagi tunduk pada “hukum” pick-up melainkan “hukum” Bumi, dan tentu saja berbeda seandainya ia melakukan hal yang sama pada mobil pick-up dengan box. Ah, whatever. Apa pun itu, pengalaman saya selama sekitar tiga tahun di SMA membekali saya dengan pengetahuan tentang tulis-menulis ilmiah sehingga sama sekali tidak gagap ketika menjumpai tugas-tugas berupa penulisan makalah pada masa kuliah. Dan David Grimaldi, sekali lagi, sangat menginsipirasi.

~Bramantio