Rabbit Hole, Dunia Paralel, Konsolasi

Gara-gara menyebut Rabbit Hole pada tulisan sebelumnya yang saya unggah sekitar empat jam selepas sholat Jumat, beberapa saat setelah makan malam saya menontonnya ulang dan betapa film ini ternyata tetap menghadirkan rasa yang sama seperti ketika saya menontonnya untuk kali pertama dan kali-kali berikut yang sebelumnya. Nuansanya yang ngêlangut namun tetap mengabarkan denyut dan riak di bawah permukaan adalah satu di antara banyak hal yang membuat film yang lebih pahit daripada pahit ini memiliki tempat istimewa di dalam perpustakaan imajiner bertangga melingkar-lingkar di kepala saya. Belum lagi kesederhanaan gambar yang ditampilkannya yang membuat saya merasa dekat dengan baik karakter maupun latarnya yang manusiawi. Ditambah dengan banyak cahaya Matahari dengan kualitas yang sama menenangkannya baik di dalam rumah maupun di ruang-ruang terbuka sehingga segala kegetiran yang terus-menerus merembet antara ada dan tiada di sepanjang cerita, seperti halnya kehidupan itu sendiri, berjalan beriringan dengan harapan yang betapa pun tampak padam namun sesungguhnya selalu ada di sana untuk menunggu dan menunggu dan menunggu hingga tiba saatnya untuk kembali meledak supernovaik.

Becca dan Howie adalah sepasang urkoda. Oh, ok, urkoda adalah kata yang saya buat ketika menulis sebuah cerpen bertahun-tahun yang lalu untuk menyebut orangtua yang ditinggal mati anaknya, di situ saya menulis: “Kau tidak perlu bersedih seperti itu, ini memang sudah waktuku, dan demikianlah yang seharusnya, yang tua meninggalkan yang lebih muda, nenek meninggalkan anak dan cucunya. Adalah ketidakwajaran apabila yang terjadi sebaliknya. Kau menyebut suami yang ditinggal mati istrinya sebagai duda, kau menyebut istri yang ditinggal mati suaminya sebagai janda, kau menyebut anak yang ditinggal mati bapaknya atau ibunya atau keduanya sebagai yatim atau piatu atau yatim-piatu. Tapi, adakah sebutan bagi bapak atau ibu atau keduanya yang ditinggal mati anaknya?” Dan… terciptalah urkoda. Mereka mengalami perubahan signifikan di dalam hidupnya, bahkan tidak jarang bertengkar hanya karena hal-hal sepele yang kemudian menyeret mereka memecah jalur dan mulai saling merahasiakan sesuatu yang tentu saja senantiasa berpotensi membunuh relasi mereka. Kehadiran orang lain dengan segala usaha untuk menguatkan, menghibur, atau setidaknya mengalihkan perhatian mereka dari keterpurukan akibat kesedihan yang berlarat-larat pun tidak serta-merta membuahkan hasil positif, dan kondisi semacam ini saya pikir lumrah karena yang paling memahami masalah seseorang yang orang itu sendiri, yang paling tahu solusinya adalah orang itu sendiri, yang paling mengenal batas-batas kemampuannya adalah orang itu sendiri, dan tentu saja, orang lain senantiasa memiliki kecenderungan untuk menasihati ini-itu dengan semacam keangkuhan bahwa mereka benar-benar yakin bahwa yang mereka katakan bisa membantu atau bahkan yang terbaik bagi mereka juga baik bagi orang di hadapannya, padahal seseorang yang sedang terbebani oleh masalah apa pun bisa jadi sekadar membutuhkan pendengar, penyimak yang baik tanpa perlu berkomentar ini-itu. Becca dan Howie sempat saling merenggangkan genggaman tangan karena mereka tidak menyepakati cara menjalani hari-hari dan menanggung derita urkoda: Becca memilih bergegas secepat-cepatnya meninggalkan masa lalu dengan salah satunya menyingkirkan segala sesuatu yang berkaitan dengan anak mereka dari rumah bahkan berencana menjual rumah, sebaliknya, Howie memilih berjalan lambat-lambat di tempat yang sama dengan terus-menerus memutar ulang memori dan menekuri memorabilia. Meskipun demikian, hal yang tampak meremuk-redamkan ini tetap menyimpan sesuatu yang manis bagi saya: Becca yang tegas rasional bertahan bersama Howie yang sensitif melankolis nostalgik. Berawal dari ketidaksengajaan, ya,  ketidaksengajaan yang datang dari manusia, bukan kebetulan karena saya tidak percaya pada kebetulan, Becca bertemu dengan Jason yang menjadi akar permasalahan kemeluat rumah tangganya. Pada titik inilah cerita menjadi semakin menarik karena menghadirkan pengakuan dan penerimaan atas kesalahan yang pernah dilakukan yang meluncur lancar di bangku sebuah taman, kemudian muncul pula jatidiri judul film ini dalam bentuk cerita singkat tentang lubang kelinci yang saling-silang sebagai semacam topeng dunia paralel, yang kemudian menghadirkan airmata dengan alasan yang berbeda dari yang mengalir di bagian awal cerita.

Rabbit Hole kembali mengingatkan saya pada salah satu masalah bahkan mungkin paradoks terbesar yang pernah dikenal manusia ketika ia menginginkan memperbaiki banyak hal di dalam kehidupannya dengan melakukan perjalanan ke masa lalu entah dengan mesin waktu maupun secara gaib, dan betapa hal ini sebenarnya tidak berbeda apabila manusia yang  sama melakukan perjalanan antardunia paralel. Katakanlah ia berhasil melakukannya, ia tidak akan mampu mengubah apa pun karena begitu ia tiba di masa lalu atau dunia-di-sebelah-dunianya ia bukanlah dirinya-yang-di-masa-lalu atau dirinya-yang-di-dunia-di-sebelah-dunianya, melainkan tetap dirinya-yang-di-masa-kini atau dirinya-yang-di-dunianya sehingga yang bisa dilakukannya hanyalah mengamati atau mungkin menemui dirinya-yang-lain, dirinya-yang-itu, yang tentu saja semua itu akan berdampak pada dirinya-yang-ini, sehingga segalanya pun seolah dinihilkan. Duh, pusing. Bagaimanapun, diskusi tentang dunia paralel senantiasa menarik bagi saya, dan saya pun meyakini keberadaannya, bahkan ketika saya mengetik di sini pada saat ini, ada saya-yang-lain yang mungkin sedang menghabiskan waktu berjam-jam di Starbucks yang mungkin juga terpecah-pecah lagi ke dalam kemungkinan memesan Caffee Mocha ukuran grande plus smoked beef quiche atau White Chocolate Mocha ukuran venti plus Raisin Oatmeal Scone, atau memutuskan nonton Riddick yang hingga hari ini sama sekali tidak membuat saya tergerak bahkan untuk sekadar memanfaatkannya guna mengalihkan perhatian dari kesuntukan pascarutinitas sepanjang minggu, atau yang lebih jauh, sedang berada di pedalaman Amazon dalam sebuah ekspedisi internasional bersama sejumlah ahli Palaeontologi, atau baru masuk rumah selepas sesi konsultasi dengan seorang klien yang selama tidak kurang dari dua jam memuntahkan apa pun dari dalam kepala tanpa malu atau sungkan karena ia toh membayar mahal psikolog yang berada di hadapannya, atau sedang menjalani sesi foto sebagai model Abercrombie and Fitch, atau sempat mengenyam pendidikan Biologi Kelautan dan menjadi bagian dari The Cousteau Society dan sedang berada di tengah Samudera Pasifik untuk melakukan observasi atas kawanan paus atau lumba-lumba, bekerja di Large Hadron Collider milik CERN, duduk anteng sambil menyimak layar monitor yang tidak berhenti menayangkan hasil tangkapan teleskop radio di salah satu ruangan di kompleks Very Large Array, mengepel lantai salah satu museum di jaringan Smithsonian, terjebak bersama aktivis Greenpeace di wilayah Rusia, entah berada di mana dan sedang melakukan apa sebagai kontributor National Geographic, bercakap-cakap dengan pengunjung kafe atau toko permen atau toko buku milik sendiri yang tidak sekadar menjual buku tetapi juga menawarkan kehagatan seorang kawan sambil sesekali meladeni permintaan membaca kartu Tarot, atau… apa pun.

Hal mengesankan lain kembali saya jumpai di muara film ini ketika Becca berbincang dengan ibunya di gudang rumah: “Does it ever go away?” Becca. “No. It changes, though” Nat. “How?” Becca. “I don’t know. The weight of it, I guess. At some point, it becomes bearable. It turns into something that you can crawl out from under and carry around like a brick in your pocket. And you even forget for a while, but then you reach in for whatever reason, and there it is” Nat. Saya pikir memang demikianlah adanya merengkuh segala yang menyakitkan karena ingatan tentu tidak bisa terhapus begitu saja. Waktu pun tidak sepenuhnya menyembuhkan. “Andai aku bisa memutar ulang segalanya” nyatanya sungguh percuma. Hanya “Jalani saja” yang kiranya paling mungkin untuk dilakukan, bahkan tidak perlu melakukan apa pun karena “Jalani saja” cukup dimaknai sebagai “Jalani saja”. Konsolasi terbaik tentu tidak datang dari orang lain, melainkan tumbuh dari diri sendiri. Dan semoga kebaikan senantiasa menyertai kita.

~Bramantio