Joker Loki Silva Khan

Pra-skriptum: Tulisan ini membocorkan beberapa bagian cerita.

Monolog interior tentang Star Trek Into Darkness kemarin mengantarkan saya pada sore ini kembali menekuri laptop yang semakin lama kinerjanya semakin melambat seiring pertambahan usia yang hampir mencapai lima tahun namun tetap saya anggap tangguh dan sanggup memenuhi kebutuhan saya yang toh tidak pernah jauh dari menyalin citra dan fantasi di dalam pikiran menjadi tulisan panjang dan pendek yang adakalanya disertai memasukkan gambar-gambar untuk kemudian disunting sana-sini dengan teknik yang sangat sederhana serta tentu saja menyiapkan materi presentasi yang sayangnya bukan dengan Prezi untuk kelas-kelas yang saya pandu. Pembaca tulisan ini yang berstatus sebagai moviegoer saya pikir setidaknya memiliki bayangan tentang yang akan saya tulis, dan jika memang demikian adanya, saya adalah bagian dari penonton yang melihat sekaligus menganggap hal-hal berikut ini sebagai salah satu yang paling menarik dan menyenangkan dalam sejarah perfilman Hollywood, bahkan mungkin rangkaiannya bisa lebih panjang namun hingga pada delapan belas jam selepas kelahiran hari kedua puluh dua bulan kesembilan tahun dua ribu tiga belas ya sebatas inilah yang saya ketahui. Seperti biasa yang terjadi di blog ini, juga pada tulisan lain saya yang bahkan mereka bilang mengandung roh ilmiah, saya tidak menulis dan mendiskusikan sesuatu dengan kerja bolak-balik antara teks dan konteks, antara objek dan pengarang dan pembaca dan hal-hal yang melatarbelakangi penciptaannya, sehingga tentu saja saya tidak melakukan penggalian data, pemeriksaan silang, dan bahkan sama sekali tidak peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan keterpengaruhan, baik besar maupun kecil, baik sengaja maupun tidak, yang untuk menyiginya tentu memerlukan waktu dan energi dan lebih penting lagi niat yang bahkan jauh lebih besar daripada yang diperlukan untuk mandi pada hari Minggu lebih-lebih jika sama sekali tidak tebersit rencana atau keinginan untuk berpetualang dari mall ke mall.

Jadi, begini cerita lengkapnya. Ketika menyaksikan Star Trek Into Darkness pada momen Khan menyerah setelah baku hantam dengan trio Kirk-Spock-Uhura lalu dibawa ke USS Enterprise, ingatan saya langsung meletup-letup seperti bocah Taman Kanak-Kanak yang begitu antusias mengacungkan telunjuk tinggi-tinggi sambil adakalanya berteriak tertahan “Saya! Saya! Saya!” sebagai reaksi atas pertanyaan sederhana yang ia ketahui jawabannya atau permintaan untuk menceritakan kembali pengalaman liburnya dan seolah bersaing mendapat perhatian dari guru, menayangkan kembali, dengan cara yang agak brutal karena cepat, bersamaan, dan berulang-ulang, sejumlah perisitiwa serupa yang pernah saya tonton di jaringan bioskop yang sama di gedung yang berbeda di kursi yang berbeda. Saya sekadar manggut-manggut sambil menenangkan diri sendiri bahwa suatu hari hal itu tentu akan saya tulis meskipun singkat-singkat saja yang baru bisa terwujud hari ini setelah melalui serangkaian bermalas-malasan, berjalan gontai, berjalan pelan, berjalan cepat, bergegas dengan langkah besar, tersandung beberapa kali bahkan hingga tersungkur dan menyisakan luka baret dan memar di sana-sini, berlari-lari kecil hingga sprint, terjeblos ke jebakan-jebakan kurang ajar dan membuat senang Tiga-Bersaudara Takdir yang tidak pernah lepas dari benang dan gunting, terengah-engah kehabisan nafas di tanah tandus tanpa oasis, berhenti sesaat di tanjakan untuk menerawang ke kejauhan, nyaris masuk jurang yang dihuni entah apa dan lebih gelap daripada lubang hitam, tetapi tetap bertahan hidup. Khan di dalam aquarium tanpa air dan terang-benderang menjadi semacam déjà vu atas yang terjadi pada tiga karakter lain semesta yang lain: Joker di The Dark Knight, Loki di Marvel’s The Avengers, dan Silva di Skyfall. Mereka adalah tiga villain yang dengan caranya masing-masing memorak-porandakan stabilitas para karakter hero, meskipun untuk Loki nuansa yang diusungnya berbeda karena bagi saya Loki sekadar bocah haus perhatian dan pengakuan sehingga melakukan ini-itu tentu sekadar untuk memperlihatkan eksistensinya meskipun pada akhirnya harus mencelos karena dibanting-banting cuek dan hina oleh Hulk, dan Khan menjadi yang keempat di dalam klub “Catch Me Please & Let Me Kill You All from the Inside” yang menurut saya sangat menarik karena hal ini seolah mengingkari konvensi umum yang menempatkan tertangkapnya bajingan sebagai penanda telah tercapainya resolusi sehingga cerita pun semestinya segera berakhir. Pada awalnya, kesan yang dihadirkan oleh keempatnya adalah keberhasilan si jagoan meredam si bajingan untuk kemudian menempatkannya di dalam sel khusus guna diinterogasi, tetapi hal ini lambat laun bergerak ke arah yang mendatangkan kengerian tersendiri karena mulai hadir pemahaman baru bahwa keempatnya tidak memperlihatkan problematika manusia-manusia yang terbelenggu, mereka justru menikmatinya dengan kepuasan berbinar, dan semua euforia itu ternyata bagian dari rencana Joker, Loki, Silva, dan Khan untuk mencapai sebuah target yang bahkan telah didambakannya sejak lama. Saya pun membayangkan perlakuan khusus para ahli pada sejumlah alien purba dan letal yang berhasil mereka tangkap namun tanpa mereka sadari telah menanamkan benih di dalam tubuh mereka hingga pada saat yang tepat menerobos keluar dengan meledakkan torso bagian depan bahkan tanpa didahului dengan denyut-denyut yang menggelembung di sana-sini dan pada akhirnya tentu berimbas pada terpisahnya raga dan nyawa.

Hal ini semakin menarik ketika dikaitan dengan kehadiran keempatnya dalam rentang kurang dari satu dekade. Ini bukan melulu tentang sosok villain yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata manusia bahkan manusia jagoan sebagai kutubnya yang lain, karena hal semacam ini telah muncul pada katakanlah salah satunya Hannibal Lecter di The Silence of the Lambs yang terlepas dari kebrutalannya adalah sosok yang memesona bahkan menumbuhkan perasaan dan relasi cinta-benci dengan Clarice Starling yang semakin tampak di Hannibal khususnya pada peristiwa yang secara singkat bolehlah diwakili kalimat “Gue bunuh orang-orang yang menghalangi jalan lo!”, juga romantisisme bocahiah nyaris inosen di area komidi putar, serta pemberian hadiah berupa deep plunge & backless dress hitam dan stiletto Gucci secara diam-diam yang menjadikan Clarice dalam wadah Julianne Moore sungguh… mmm… voluptuous. Bagi saya, setidaknya untuk saat ini, kehadiran Joker, Loki, Silva, dan Khan adalah kehadiran kesadaran yang semakin optimal dalam memahami manusia yang pada hakikatnya tidak pernah hitam putih namun gradasi antara keduanya dengan kualitas yang tidak pernah stabil, mengingatkan bahwa seseorang hampir tidak pernah bisa benar-benar mengenal orang lain yang bahkan telah dikenalnya sekian lama, mengangkat kembali ajaran klasik tentang siapa pun akan menanggung konsekuensi atas segala hal yang dilakukannya pada masa-masa yang telah, dan… membuka mata kita untuk ke sekian kali supaya bisa melihat dengan lebih baik bahwa kehancuran yang paling meleburkan lebih sering datang bukan dari wilayah-wilayah di luar benteng yang bahkan telah dikelilingi berlapis-lapis pasukan berzirah dan parit berisi makhluk-makhluk yang lebih fantastik daripada naga, namun dari kuil di kedalaman.

~Bramantio