Katy Perry, Alien, Crichtonian

Sepanjang beberapa minggu ini saya berada pada moda menenggelamkan diri pada semesta paralel. Saya pun didekatkan pada hal-hal yang demikian, baik yang secara langsung yaitu dari sejumlah judul film dan buku yang pernah saya baca yang kemudian membuat saya ingin membaca dan menontonnya lagi bukan untuk mencermati kembali yang mungkin terlewatkan pada kesempatan sebelumnya atau disertai motivasi tulus untuk menjadikannya materi tulisan namun sekadar untuk mengalami segala rasa dan nuansa yang pernah mereka tumbuhkan, salah satunya adalah buku yang saya tangguhkan untuk sementara waktu namun hingga hari ini belum juga berhasil saya tamatkan yaitu buku kedua 1Q84 Haruki Murakami meskipun telah saya bawa-bawa ngemol dan cangkruk-cangkruk-agak-fensi di sejumlah tempat, maupun secara tidak langsung dari sejumlah ujaran seorang kawan tentang mimpi-mimpinya yang melibatkan peristiwa atau kehidupan alternatif di ruang dan waktu yang berbeda yang terasa asing sekaligus akrab baginya atau dari percakapan acak ke sana-ke mari bertema what if dengan kawan yang lain, dan saya sama sekali tidak memiliki penjelasan logis versi saya sendiri berkaitan dengan rentetan peristiwa ini, paling-paling sekadar nyeletuk-masa-bodo bahwa Tahun Ular Air benar-benar mencairkan segala sesuatu hingga bergerak dengan cara yang tidak terduga karena tidak berada di selokan yang sejauh apa pun ia mengalir membelah-belah kota bermuara di laut atau bahkan menenggelamkan tanpa kejelasan akankah berakhir dengan kematian, sekadar katastropi menuju katarsis, atau kelahiran-kembali menjadi yang lebih indah daripada Phalaenopsis amabilis atau lebih OMG! daripada Acherontia styx. Setelah melalui titik demi titik, moda ini pun mendaratkan saya pada sebuah landasan berlabel Katy Perry.

Si mbak satu ini saya kenal, tentu tidak dalam pengertian pernah berjabat tangan plus cipika-cipiki plus makan nasi goreng-dan-telor-ceplok dan ngopi-ngopi bareng, kali pertama sekitar tiga tahun yang lalu dengan cara yang hingga hari ini menjadi salah satu imaji terkocak: unggahan berdurasi tidak lebih daripada empat menit di YouTube berisi remaja bernama Keenan Cahill me-lipsyncTeenage Dream”, salah satu lagu bubblegum-pop terbaik di dalam daftar saya bertahun-tahun kemudian, dengan ekspresi dan gesture yang yaoloooh!, dan sempat menjadi tayangan komedi dadakan bagi saya dan beberapa kawan pada suatu siang yang cerah-cerah-lembab di Protein Café di area Pusat Studi Jepang kampus UI Depok pascakataman semangkok mie ayam yang rasanya canggung karena bernuansa soto-tanggung namun tetap membuat saya memesannya lagi untuk ronde kedua secara porsinya hanya memenuhi hasrat separuh lambung.

Dari situlah saya kemudian mencari tahu tentang Katy Perry dan pada kesempatan berikutnya menyimak lagu-lagunya yang beberapa di antaranya berhasil membekas di benak saya yang tentu saja didukung oleh sosok Katy Perry yang membangun citra arumanis-bianglala-lolipop-Barbie-ish. “Firework”, klip videonya tampak biasa namun liriknya dahsyat karena mengandung “permainan gelap dan terang” serta membuat saya pada sejumlah kesempatan membayangkannya dinyanyikan pada acara malam perpisahan angkatan di sekolah atau wisuda sebagai bentuk perayaan hidup. “The One That Got Away”, nuansanya serupa dengan “Firework” karena menyajikan hal-hal ugh-berat-bok! namun dengan balutan beat yang penuh semangat sehingga mungkin sempat mengaburkan beban yang ditanggung liriknya. Bagaimanapun, saya lebih menyukai versi akustiknya yang terasa lebih getir, bahkan tanpa perlu menonton klip videonya yang memang memiliki konsep naratif-biografis-romantis-miris, dan menempatkannya sebagai anggota Klub Nelangsa Abis yang salah satu anggota lainnya adalah “Someone Like You” Adele. Lagu ini ternyata tidak sekadar menarik dalam hal Janusiannya, tetapi juga memercikkan hal-hal yang berkaitan dengan fiksi ilmiah, khususnya… ya, semesta paralel, pada bagian berikut: In another life. I would be your girl. We’d keep all our promises. Be us against the world. In another life. I would make you stay. So I don’t have to say you were the one that got away. The one that got away. Tentu saja secara umum chorus ini akan terbaca sebagai momen berandai-andai yang mengandung penyesalan karena hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan dan mengkhianati impian, tetapi di sisi lain, dengan hadirnya In another life secara eksplisit, dapat terbaca sebagai momen ketika membayangkan dirinya berada di ruang dan waktu bernama kehidupan-yang-lain sebagai dirinya-yang-lain yang menempuh jalur berbeda dari yang sedang dijalaninya pada kehidupan-yang-ini, yang malaikat tentu juga tahu banget bahwa semua itu toh sama sekali tidak menghadirkan penghiburan yang membebaskan namun justru perasan ngênês berlarat-larat yang bahkan, seperti biasa, berpeluang menggugah orang lain berkomentar “Sauwwwaknoh kooon mbak ikih!” Tidak berhenti sampai di situ, dengan timbre vokal Katy Perry yang terkesan meraung-raung-teredam bahkan pada turunan-turunan landai yang tidak perlu mengerahkan tenaga untuk melaluinya, derita aku lirik berlanjut pada bagian bridge: All this money can’t buy me a time machine. Can’t replace you with a million rings. I should’ve told you what you meant to me. ‘Cause now I pay the price. Nah, di sinilah, setidaknya bagi saya, lagu ini menjadi semakin science fiction dengan munculnya mesin waktu meskipun memang tidak bisa dibeli oleh uang sebanyak apa pun dan hanya bisa dimiliki dengan modal bernama imajinasi, imajinasi Crichtonian, bukan imajinasi Gaimanesque.

Kesan yang demikian semakin kuat pada lagu E.T. yang dari judulnya saja langsung bisa dibayangkan bercerita tentang apa yang tentu saja tidak akan seinosen film E.T. yang super-legendaris atau Super 8 yang bisa-jadi-akan-legendaris karena ia datang dari Katy Perry, dan memang demikianlah adanya ketika saya menonton klip videonya yang pada beberapa bagian langsung mengingatkan saya pada momen ketika si perempuan Orakel di film 300 mulai menari-melayang-menggelinjang-ekstase di kuil puncak cadas guna menerawang masa depan Leonidas dan pasukannya. Saya benar-benar menyukai lirik lagu ini, dengan patahan-patahan dan diksi di beberapa bagian yang mirip dengan “Love You Like A Love Song Selene Gomez & The Scene plus spirit Angels & Demons Dan Brown, karena di balik permukaannya yang tampak berbinar-binar-tralala-bombastis, ia sesungguhnya adalah cerita cinta yang dianut oleh sebagian manusia. Betapa tidak, ia dibuka dengan You’re so hypnotizing. Could you be the devil? Could you be an angel? yang memperlihatkan momen struck by lightning hingga luluh-lantak-termehek-mehek namun sekaligus ada keraguan yang tidak seringan uap teh hijau yang baru diseduh dengan air-panas-yang-tidak-sampai-mendidih karena mencuatkan pertanyaan berkaitan dengan jalan terang dan jalan gelap yang sebenarnya sama-sama berpeluang mendatangkan sukacita. Bagian berikutnya, Your touch magnetizing. Feels like I am floating. Leaves my body glowing, adalah fase hampir lunatik namun sepenuhnya sadar bahwa awal cerita tadi membuatnya merasa lebih hidup daripada hari-hari sebelumnya yang bahkan tidak senantiasa berkaitan dengan kepastian akan hari esok namun juga oleh sekadar sentuhan-sentuhan menggetarkan yang bisa saja tidak membekaskan apa-apa ketika tanggal di kalender bergerak maju satu langkah. Kerealistisan cerita, meskipun tetap dengan gaya yang “Lo sebenernya ngomong apaan seeeh?!”, semakin terasa ketika di antara dua orang senantiasa ada orang ketiga orang keempat orang kelima orang kesekian, bukan yang serta-merta menghancurkan relasi, tetapi menyebabkan galau-gundah-gulana-gak-guna karena sifatnya yang kembali mendatangkan keraguan dengan alasan mereka peduli namun sebenarnya mungkin tidak lebih daripada sembilu cemburu (uhuk!) pada kebahagiaan orang lain. Bagian ini langsung mengingatkan saya pada pembuka “If Love is Blind” Tiffany: People say that you’re no good for me.
People say it constantly.
I hear it said so much, I repeat it in my sleep. Maybe I am just a fool for you.
Maybe you’re no angel too.
But all that talk is cheap.
When I’m alone with you, tetapi dengan cara yang lebih blak-blakan, baik dalam hal kecepatan ketukan maupun muatan mellow-nya: They say, be afraid. You’re not like the others. Futuristic lover. Different DNA. They don’t understand you. Bagian ini juga menyegarkan kembali ingatan akan ujaran sebagian orang ketika melihat pasangan yang tidak merepresentasikan pasangan ideal versi mereka: “Kok bisa sih X jadian sama Y? Kan mereka nggak level! Jauh banget malah! Mending jadian sama gw ke mana-mana deh!” Bitch please. Selain itu, rangkaian not like the other, futuristic lover, dan different DNA tidak melulu harus diletakkan pada konteks hal-hal nun sejauh kuman-di-seberang-lautan sonoh namun ya seperti itulah kiranya sebuah relasi, tidak lagi menghitung-hitung sebanyak apa persamaan di antara kedua pelakunya hingga menyimpulkan keduanya cocok atau tidak, dan segala yang mengandung benih alien, yang asing, liyan, senantiasa menimbulkan perasaan takut yang bahkan tidak beralasan padahal aliennya lho alien apik yang ingin mencinta (halaaah!). Ketika seseorang berhasil melewati fase yang penuh gangguan dan intrik dari pihak ketiga dan mungkin dengan santainya berujar “Lo ngomong sama tangan!” sambil memamerkan telapak tangannya, bisa jadi berikut inilah yang dirasakannya: You’re from a whole another world. A different dimension. You open my eyes. And I’m ready to go. Lead me into the light, atau dengan kata lain: perbedaan tidak lagi penting untuk dibicarakan, toh sekuntum terang sudah ada di genggaman.

Tidak berhenti sampai di situ, E.T. justru membuat saya agak mengerutkan kening ketika pre-chorus, yang semestinya menuju chorus yang memperkuatnya, bermanuver dengan: Kiss me, ki-ki-kiss me. Infect me with your love and. Fill me with your poison, yang membombardir konstruksi menuju-adem-ayem yang telah terbangun, khususnya dengan munculnya infect dan poison yang saling-silang dengan love dan fill, dua pasang kata yang berkonotasi gelap dan terang, negatif dan positif, karena tentu bentukan finalnya adalah terinfeksi oleh cinta dan terjejali oleh racun. Apakah kemudian cinta adalah racun yang lebih racun daripada racun teracun? Entahlah. Bait kedua chorus semakin menajamkan citra yang seperti itu: Take me, ta-ta-take me. Wanna be a victim. Ready for abduction. Holy Cavalli! Ingin menjadi korban dan siap diculik? Oleh alien pula! Guyonannya bisa jadi: si aku adalah penganut sebuah cult yang sepanjang hidupnya memang mencari cara untuk mengalami abduksi oleh makhluk yang bahkan hanya bisa dibayangkannya tanpa pernah benar-benar diketahuinya wujud dan karakteristiknya. Hmmm, baeklaaah… Ok, ok, woleeesss, karena toh secara umum memang demikianlah yang terjadi pada orang-orang yang jatuh cinta, jatuh cinta lho ya, bukan berada di dalam cinta, sehingga, namanya juga jatuh, tentu yang terjadi adalah tidak ada kendali atas banyak hal karena fokus semua indera bergerak ke arah jatuh yang sejatuh-jatuhnya, dan semakin ditegaskan oleh: Boy, you’re an alien. Your touch so foreign. It’s supernatural. Extraterrestrial. Liyan, yang so foreign, bisa jadi mengerikan bagi sebagian orang, tetapi sebaliknya, ia pun bisa memijarkan berjuta pesona bagi sebagian yang lain, eksotika virginal yang bahkan gagal diwakili oleh kata-kata yang terwadahi bahasa-bahasa manusia, dan kata supernatural, supranatural, di situ, berbeda dengan kesan yang dihadirkan oleh “The One That Got Away,” menjadikan lagu ini Crichtonian sekaligus Gaimanesque karena mempertautkan fiksi ilmiah dan fantasi tingkat wahid. Pada tahap ini, hal-hal berkaitan dengan relasi interasial, baik dalam pengertian harfiah maupun universal, juga semakin menyeruak: antara yang manusia dan yang bukan manusia, antara dua manusia yang berbeda dunia, antara dua individu yang bagai langit-tinggi dan laut-dalam namun tetap bertemu dalam ke-ada-dan-tiada-an cakrawala yang menjadikan Bumi sebagai Eden kedua.

Lebih lanjut, ada sedikit penurunan tensi pada bagian kedua lagu: You’re so supersonic. Wanna feel your powers. Stun me with your lasers. Your kiss is cosmic. Every move is magic, yang seandainya tidak menonton klip videonya, tentu akan membuat saya membayangkan Superman, salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Bumi yang mungkin, meskipun disadari bahwa ia adalah Kryptonian, sering terlupakan oleh sebagian besar orang bahwa ia adalah alien, dan lebih dipandang sebagai sosok pengayom dan pelindung yang memiliki energi gargantuan berkualitas hampir ilahiah. Bridge lagu ini pun memberi jeda untuk memikirkannya kembali sekaligus memantapkan keyakinan akan hal yang demikian: This is transcendental. On another level. Boy, you’re my lucky star. I wanna walk on your wave length. And be there when you vibrate. For you I’ll risk it all. All. Dan selepas menyimak bagian ini, pikiran saya tidak mau bergerak dari titik yang berkaitan dengan tuhan, entitas yang transendental, yang meskipun tidak pernah sepenuhnya bisa dipahami, dengan berbagai cara mampu menumbuhkan keinginan bahkan kebutuhan untuk kembali sejauh apa pun pernah pergi, untuk pulang ke rumah yang pintunya tidak pernah tertutup dan terkunci rapat-rapat bahkan bagi monster dari relung-relung tergelap dunia sekalipun, yang membuat manusia, meskipun sekadar bersitan setipis kabut metropolitan pagi, tanpa disadarinya ingin senantiasa berjalan di atas panjang gelombang yang sama dengannya, dan ikhlas melepas segalanya. Segalanya.

#inthemoodforparalleluniverse

~Bramantio