Utopia, Isolasi, Revelasi

Pra-skriptum: Tulisan ini membocorkan cerita-hingga-ke-bagian-akhir.

Lagi-lagi hal yang berkaitan dengan semesta paralel kembali menetas di antara sejumlah embrio hasil perkawinan hibrida banyak hal yang diserap indera dan berhibernasi di dalam perpustakaan imajiner saya selama bertahun-tahun seolah menanti masa terbaik yang memberi peluang terbesar untuk bertahan hidup dan tumbuh hingga usia-yang-entah-berapa, semacan kawanan paus bungkuk kewl! yang melanglang separuh Buana untuk menemukan sangtuari terhangat dan terdamai untuk menjalani persalinan yang telah berlangsung sejak sekian milenia tahun yang lalu dan menginspirasi mamalia tertinggi gabungan malaikat dan iblis untuk melakukannya dengan alasan mengurangi pengalaman traumatik pada si jabang bayi, atau kupu-kupu yang ternyata tidak serapuh sayap-sayap tetragramatoniah mereka yang bermigrasi melalui jalur udara yang tidak senantiasa searah arus angin untuk melintasi beberapa zona waktu hingga tiba di oasis-oasis fantasi yang bisa menjadi ruang rehat bagi yang sebagian sekaligus tanah makam tanpa bau bangkai bagi sebagian yang lain, meskipun kali ini memang tidak sepenuhnya bersifat semesta-paralel-yang-itu yang memang melibatkan lebih-besar-sama-dengan-dua himpunan yang saling berhimpitan dengan kandungan yang sama namun tidak beririsan dan tidak persis karena segala yang ada di dalam salah satunya memiliki lintasan yang berbeda dari yang ada di yang lain.

Utopia menjadi salah satu kata yang sejak mengenalnya hingga hari ini tidak henti-hentinya memijarkan pesona yang meskipun pasang-surut semacam keimanan manusia kepada segala hal yang diyakininya namun tetap menguarkan hangat serupa api dalam sekam yang tinggal menunggu seulas hembusan yang tidak menghabiskan satu tarikan penuh nafas untuk menyemarakkannya kembali dan melayangkan retihan-retihan jingga kemilau ke udara setenang malam dengan langit kelam berpasir bintang. Utopia juga menjadi salah satu motor terkuat dan tahan segala cuaca dalam perjalanan saya berimajinasi atas banyak hal, dalam mencipta dunia yang bukan dunia yang saya tempati, dalam mencipta manusia-manusia yang bukan manusia-manusia yang saya kenal atau bahkan kelak saya temui, dalam meyakini hal-hal yang selama ini saya percayai dan membuat saya bertahan hidup. Utopia yang saya kenal tidak senantiasa berkaitan dengan hal-hal yang sesempurna surga yang bahkan belum pernah saya datangi yang ketika saya letakkan pada kerangka berpikir duniawi menjadi begitu membosankan karena sehari-hari manusia-manusia surga sekadar bermalas-malasan dan menikmati hal-hal yang justru terkesan sangat ragawi tanpa sedikit pun berkaitan dengan nalar manusiawinya, tetapi lebih mengarah pada suatu ruang dan waktu yang hingga kapan pun saya pikir tidak akan mampu sepenuhnya saya wujudkan namun menyediakan semacam target ultima yang membentuk garis putus-putus sebagai jalan saya untuk mencapainya sekaligus jangkar yang menjaga saya dari oleng dan tenggelam ke samudera-samudera khayali yang lebih dalam daripada palung-palung terdalam, sebentuk dunia yang memberi peluang kepada saya untuk melakukan banyak hal tanpa membelenggu dengan katakanlah pekerjaan-pekerjaan administratif dan manusia-manusia kepo yang tidak pernah puas dengan masalah mereka sendiri dan memiliki tabiat untuk sok urun rembuk di kehidupan orang lain bahkan tanpa perlu diminta dan seolah-olah mereka memiliki pengalaman sepanjang sejarah manusia di muka Bumi dalam hal mengalami problematika yang tentu tidak pernah sama antara satu orang dengan orang yang lain dan tidak ada satu pun solusi yang bisa berlaku universal. Berawal dari titik bernama utopia inilah pada suatu hari saya memperoleh pemahaman tentang menggambar masa depan.

Menggambar masa depan. Bombastis, secara sepintas. Bagaimanapun, tiga kata inilah yang kemudian disadari atau tidak menjadikan seseorang berpikir secara unik dan bergerak secara khusus, bahkan menggambar masa depan juga memiliki pengaruh pada para penganut jabbariyah atau supralapsarian yang secara jelas meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada mereka sejak lahir hingga mati telah ditentukan dan tidak ada satu kuasa pun yang bisa membelokkan mereka dari jalan takdir yang bukan garis putus-putus pada layar komputer yang bisa dihapus hanya dengan sekali menekan tombol dan seandainya mereka memutuskan memilih hal-hal yang tidak biasa pun merupakan bagian dari yang serbaditetapkan tadi. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu masa sekitar lima belas tahun yang lalu ketika setiap Senin hingga Jumat pukul tujuh hingga sekurang-kurangnya pukul empat belas kecuali hari libur mengenakan putih-kelabu dan cokelat muda-cokelat tua: saat itu say dan kawan-kawan satu angkatan baru saja melihat papan pengumuman yang dipenuhi kertas-kertas putih berisi tabel distribusi siswa kelas dua, yaitu kami mulai hari itu hingga satu tahun kemudian, yang tentu saja juga membuat kami berpisah dari kawan sebangku selama satu tahun sebelumnya. Di antara riuh-rendah obrolan dan tawa antarkawan lama yang kini menjadi kawan baru di kelas yang sama, salah seorang kawan menyuarakan kekecewaannya karena ia masuk kelas unggulan. Yap, sekolah kami memiliki satu kelas unggulan untuk siswa kelas dua dan tiga, yang keduanya berhasil saya hindari dengan mulus karena saya meminta secara langsung kepada wali kelas sebelum pengacakan siswa kelas satu dilakukan untuk memasuki slot-slot kelas dua untuk tidak memasukkan saya ke kelas unggulan, dan karena saya lagi-lagi meminta secara langsung kepada wali kelas untuk menjadi bagian dari kelas IPS pada tahun ketiga masa studi saya yang tentu tidak berembel-embel kelas unggulan. Nah, si kawan ini menempuh jalur berbeda, yang hingga hari ini tetap terasa lucu-lucu-gimana-gitu bagi saya, lebih-lebih ketika saya membandingkannya dengan cara yang saya tempuh yang tentu berada pada tataran yang superbanal apabila dilihat dari perspektifnya. Ia menggunakan, katakanlah, jalur ilahiah. Ketika kami berada pada tahun pertama, yang menjadi kelas unggulan pada tahun kedua periode itu adalah kelas 2-1, maka si kawan pun dalam setiap doa yang dipanjatkannya bahkan pada hening tahajud di sepertiga akhir malamnya menyatakan “Yaowoh, please, saya tidak mau masuk kelas 2-1”. Dan doanya terkabul dong kurang dari satu tahun kemudian: ia masuk kelas 2-3! Tapi, ini nih yang seru, pada tahun kedua kami, kelas unggulan tidak lagi 2-1 namun 2-3! Betapa pun mencoba menahan diri, kami yang pada awalnya begitu khusyuk mengelilinginya untuk menyimak curhatnya yang statusnya bukan lagi colongan, akhirnya meledak dalam tawa kurang ajar yang membuat si kawan ini mengalami momen Nano-Nano: campuran terberkati, kesal, terhibur, sekaligus mungkin merasa tolol, yang tentu semakin terasa menusuk karena dia adalah salah satu siswa terbaik di angkatan kami. Dari tragedi komedik ini pun saya memahami: menggambar masa depan harus benar-benar spesifik, karena jika tidak, semesta pun akan memberi secara suka-suka-gw-dong yang bisa jadi akan membuat siapa pun merasakan yang kawan saya tadi rasakan: campuran terberkati, kesal, terhibur, sekaligus tolol, dan tentu saja tidak bisa menyalahkan semesta yang saya bayangkan, apabila ada yang menyalahkannya, dengan biyatch-nya menanggapi: “Terus… salah gw jugak?! Lo aja yang gak becus doa! Noooh… gw kasih!” Apa pun yang diperoleh kawan saya, mungkin memang demikianlah yang terbaik baginya karena toh di kelas barunya ia tetap secemerlang masa satu tahun sebelumnya dan sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan atas perlakuan khusus yang diterimanya sebagai konsekuensi menjadi bagian dari segelintir golongan elit di sekolah kami, dan hal serupa berulang satu tahun berikutnya meskipun tidak lagi berkaitan dengan doa yang terkabul namun salah sasaran. Kisah kawan saya memang bukan hal utopian, tetapi dengan segala keterbatasannya ia tetap memiliki kuasa-bebas untuk membayangkan yang ideal, menggambar utopianya.

Tidak seperti kawan saya, Truman menjalani hidup yang serbadeterministik, bukan deterministik dalam pengertian ia memiliki keteguhan untuk mencapai ini-itu namun deterministik karena ia berada di dunia semacam metafora yang sempurna atas doktrin jabbariyah atau supralapsarian, dan tidak berhenti sampai di situ karena segala aktivitas kesehariannya pun menjadi hiburan bagi orang lain, sebuah reality show yang bahkan dijalaninya sejak hari kelahirannya. Menonton The Truman Show adalah salah satu pengalaman sinematik terbaik saya, tidak berkaitan dengan sinematografi yang selama ini menjadi salah satu hal utama yang membuat saya pada akhirnya jatuh cinta bahkan mempertahankan cinta saya kepada sebuah film hingga bertahun-tahun kemudian namun lebih pada rasa yang dibangunnya sejak muncul pemahaman bahwa Truman hidup di dalam studio besar, hal-hal yang terjadi padanya berdasarkan skrip, dan ia sama sekali tidak menyadari hal itu, hingga… sebuah lampu sorot jatuh dari langit-langit kubah yang dalam perspektifnya tentu saja menjadi semacam horor karena bagaimana mungkin ada lampu sorot jatuh dari langit sedangkan tidak satu pun pesawat pernah melintas di atasnya. Momen jatuhnya lampu sorot ini pun juga menjadi horor tersendiri bagi saya yang bahkan sejak usia saya belasan tahun adakalnya membayangkan Big Boss yang mungkin tersenyum simpul menyaksikan bagaimana saya bereaksi atas peristiwa-peristiwa yang tersusun rapi di dalam skrip setebal usia saya yang tentu saja berisi adegan demi adegan yang saya lakoni melebihi kecepatan ketukan sinetron kejar tayang karena tidak ada jeda antara satu take ke take berikutnya lebih-lebih masa hiatus yang memberi jeda antara satu season dengan season berikutnya. Selepas peristiwa lampu sorot jatuh, bukan malaikat jatuh namun tetap membuat saya membayangkan peristiwa malaikat jatuh yang tentu tampak megah sekaligus rapuh serapuh-rapuhnya, Truman sedikit demi sedikit mulai merasakan kejanggalan-kejanggalan kecil di sekitarnya, mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterimanya begitu saja, mulai mengingat kembali hal-hal yang seolah terhapus dari ingatannya, dan mulai menyadari posisinya di dunianya. Dengan caranya yang kocak namun justru mendatangkan iba bahkan miris, ia melakukan perlawanan secara tidak langsung atas takdir yang telah ditulis untuknya dengan menjelajahi semesta raya studio yang sebesar alayhumgambreng! hingga pada akhirnya melepaskan diri dari daratan untuk menjelajahi lautan dan tiba di tepi dunia yang tidak lebih daripada layar tebal berwarna putih yang menghadirkan selapis langit yang bertemu laut di cakrawala yang tidak lagi khayali antara ada dan tiada karena bergeser-geser sesuai posisi pemandang yang dapat berubah warna sesuai dengan yang disorotkan pada permukaannya. Momen jebolnya layar oleh ujung perahu yang ditumpanginya, yang semestinya tidak mencapai tepi dunia karena si Big Boss dan para malaikatnya mengerahkan segala angin dan air untuk menggempurnya dengan tujuan mengaramkannya, supaya show berbintang utama Truman tetap bisa dinikmati oleh para penonton fanatik, menjadi momen yang menjadi kutub yang bertentangan dengan momen jatuhnya lampu sorot. Apabila yang di awal berdampak pada meletup lalu menjalarnya perasaan berada di bawah pengawasan, bermain di dalam permainan yang tidak ingin dimainkan namun terpaksa dilakoni karena memang hanya demikianlah cara menjalani hidup, tertekan lalu nyaris gila akibat terus-menerus bertanya mengapa begini mengapa begitu dengan harapan menemukan jawaban yang bahkan sama sekali tidak memiliki tanda-tanda ingin ditemukan, meragukan diri dan kewarasannya sendiri, dan ketidakberdayaan yang pengahabisan, yang di akhir adalah sebuah celah menuju entah-ke-mana yang meskipun tidak memberi kepastian apa pun namun memberi beragam kemungkinan yang tidak bisa diperolehnya di dalam studio, dan rangkaian scene pamungkas The Truman Show menghadirkannya secara gamblang: menemukan tangga, menapakinya ke atas, menjumpai pintu, dan memasukinya menuju kegelapan yang gemilang.

Yang terjadi pada Truman juga saya jumpai pada sosok Aeon di Aeon Flux yang di permukaan tampak biasa meskipun visualisasinya sukses membuat saya senang, dan diangkat dari kartun MTV dengan guratan-guratan mirip salah satu film pendek di omnibus Animatrix yang mengesankan dialog subtil antara yang kasar dan yang halus, yang keras dan yang lembut, keliatan yang melenakan, keteguhan yang membuai. Bedanya, Aeon tidak menjadi korban semacam voyeurisme orang-orang di depan layar televisi rumah, dan ia memiliki kebebasan lebih untuk bertindak ketika mulai menyadari ada yang tidak beres pada hal-hal di sekitarnya bahkan tanpa perlu didahului oleh momen jatuhnya lampu sorot dari langit. Semesta Aeon Flux juga sebuah utopia dengan Big Boss kasatmata dan beraroma politis karena selama masa-masa yang panjang berhasil menghembuskan gagasan bahwa tidak ada hal baik di balik benteng kota, dan terasa semakin utopian karena ia berada di ruang dan waktu yang nun jauh di sana yang tentu memiliki bangunan berstruktur fantastik, wardrobe yang secara sepintas tampak sebagai gabungan antara Gaultieresque, Emporio Armani, koleksi Burberry Prorsum tahun 2007 sehingga semacam sintesis antara yang edgy, classy, dan ready-to-wear, bahkan individu dengan kapabilitas fisik dan mental yang sengaja difabrikasi sedemikian rupa ke tataran yang lebih tinggi meskipun tidak kemudian menjadikan mereka manusia super. Tidak sekadar memperlihatkan semesta utopian, di film ini saya juga mendapati Aeon sebagai manusia utopian karena… okeh, dia adalah Charlize Theron berambut hitam, memiliki intelegensia logis strategis sebagai pencari solusi sekaligus intelegensia mentalis yang mampu berkomunikasi secara telepatis, bertutur dengan ketukan yang baik dan menatap lawan bicaranya yang membuat mereka merasa menjadi orang paling mendapat perhatian sedunia sekaligus bersiap diri untuk dilahap bulat-bulat, paham bahwa dia seksi namun tidak menumpah-ruahkan diri, berbulu mata ultralentik yang bisa memerangkap lalat serupa tanaman Venus namun tidak untuk diperah habis melainkan untuk kemudian dilepas bebas, terlatih sebagai individu kombatan namun beraroma balerina bertutu jambon, memiliki ketakutan manusiawi namun berani mati, dan seterusnya. Bagaimanapun, manusia utopian di semesta utopian Aeon Flux baru benar-benar merasa dan memperoleh kembali kehidupannya ketika Big Boss yang senantiasa melayang-layang di udara berhasil dipaksa membumi dan benteng yang mengular mengelilingi kota berhasil diruntuhkan yang ternyata berfungsi tidak lebih daripada pembatas antara manusia dengan hangat fajar yang menjanjikan banyak hal.

Utopia lain saya dapati di The Village, film yang dicaci-maki banyak orang yang mungkin merasa dipermainkan oleh cerita yang berakhir seperti itu atau memiliki harapan bahkan melebihi langit ketujuh karena disutradarai oleh M. Night Shyamalan yang pernah menghebohkan dengan The Sixth Sense dan Unbreakable, tetapi bagi saya tetap menjadi salah satu yang terbaik yang pernah saya tonton karena ia mengalir tenang dengan sinematografi bernuansa melankolis yang mengesankan masa lalu ketika dunia masih lebih mudah untuk dinikmati daripada akhir-akhir ini, tokoh-tokoh keseharian yang dalam segala kesahajaannya menyimpan duka mendalam sekaligus idealisme tingkat tinggi, kata-kata cinta yang tidak terucap namun begitu kental menggelegak dalam arusnya yang sublim, didukung oleh musik latar karya James Newton Howard, ia pun menghadirkan horor yang tidak berfondasi dan berpupur pada kejutan-kejutan berdebam-debam namun citra yang merembet sangat pelan tanpa bunyi hingga bersemayam di tengkuk dan meresap ke pikiran. Cerita dibuka dengan Lucius yang ingin pergi ke kota dan ditentang kuat oleh para tetua di komunitas itu karena ada mitos yang selama bertahun-tahun menyelimuti mereka tentang sejumlah larangan dan makhluk-entah-apa yang menghuni hutan pembatas antara desa dan kota, seperti yang secara eksplisit tertera di poster film ini: 1. Let the bad color not be seen. It attracts them. 2. Never enter the woods. That is where they wait. 3. Heed the warning bell. For they are coming. Trilogi mitos ini kemudian disikapi masyarakat desa ini dengan menghindari merah bahkan mencabut dan mengubur tanaman berbunga merah yang tumbuh di sekitar rumah, memakai pakaian-pakaian berwarna lantai hutan dengan dedaunan gugur yang baru saja mendarat hingga yang telah membusuk, membangun menara pengawas di perbatasan desa dan hutan lengkap dengan lonceng yang bunyinya adalah penanda datangnya teror. Satu kali makhluk-entah-apa benar-benar menyatroni desa tidak dengan berderap gahar bin brutal namun serupa hantu merah yang mengambang sunyi dengan sepasang tangan bercakar panjang dan menimbulkan kengerian tanpa teriakan-teriakan amburadul namun merembes hingga bahkan ke balik pintu-pintu rumah yang terkunci dan tempat-tempat persembunyian di bawah tanah. Dari titik inilah kemudian tersibak satu per satu tabir yang menyelimuti desa yang ternyata berakar dari masa lalu ketujuh tetua mereka.

Desa di The Village adalah sebuah utopia yang diciptakan oleh mereka yang pernah terluka, mengalami kehilangan, dan tidak ingin kembali merasakan derita akibat kematian orang-orang tercinta. Dipimpin oleh seorang profesor ilmu sejarah, yang kemudian dikenal sebagai para tetua membangun sebuah dunia yang menurut mereka ideal dan menjauhkan baik mereka maupun orang-orang terdekat mereka dari mengalami kegelapan, mengalami “suami yang dibunuh, saudara perempuan yang dibunuh, bapak yang dibunuh, adik lelaki yang dibunuh, kakak lelaki yang dibunuh” dan sebagainya yang di sepanjang film diungkap dengan cara-cara halus, baik secara langsung melalui tuturan yang tetap menyembunyikan kebenaran yang hakiki maupun secara tidak langsung melalui kehadiran semacam kotak bertuah yang dimiliki oleh para tetua yang sebenarnya berisi foto mereka dan potongan artikel berita di surat kabar. Dengan uang dalam jumlah besar yang mereka miliki, dibangunlah semacam area konservasi yang dikelilingi dinding tinggi lengkap dengan penjaga di baliknya untuk mencegah pihak luar memasukinya bahkan membayar kepada entah siapa untuk membuat kebijakan larangan terbang di atas area supaya yang utopia bernuansa desa kuno tetap utopia. Mereka pun menyegel semua itu dengan sumpah untuk saling menjaga rahasia. Karena itu pula kemudian menjadi logis ketika mereka menciptakan mitos yang menyatakan bahwa merah adalah warna tabu dan dianggap dapat mengundang makhluk-entah-apa yang juga mereka ciptakan karena merah adalah warna darah dan darah mengingatkan mereka pada kematian-kematian di masa kehidupan mereka di kota, menciptakan mitos tentang Hutan Terlarang yang langsung mengingatkan saya pada The Dark Forest di dongeng Snow White yang fungsi sebenarnya tidak lebih dari usaha preventif supaya anggota komunitas tidak memikirkan kemungkinan untuk meninggalkan desa, termasuk dengan hadirnya tujuh tetua yang senantiasa bisa dikembalikan ke dongeng-dongeng dari semesta “pada zaman dahulu yang tidak terdefinisikan” atau “pada suatu hari yang belum mengenal penanggalan” yang secara universal mengarah pada tujuh lapis Bumi, tujuh lapis langit, tujuh lapis neraka, tujuh lapis surga, tujuh samudera, tujuh benua, tujuh dosa mematikan, tujuh cabang Pohon Kehidupan, tujuh Pilar Kebijaksanaan, dan sebagainya.

Bagaimanapun, manusia bukanlah malaikat atau robot yang tahan hidup berlama-lama secara statis di alam yang stagnan, manusia adalah sekeping mata uang yang salah satu sisinya diayomi malaikat dan di sisi lain dirajai iblis, sehingga bahkan ketika telah memperoleh segala yang dibutuhkan dan kedamaian yang didamba sepanjang sejarah peradaban, mereka tetap berhasrat untuk memberontak dan mengacaukan hal-hal yang bahkan telah memberi mereka teduh rumah pada sepetak tanah edeniah. Karena itu pula, terjadilah pembunuhan di utopia The Village. Saya pikir hal inilah yang mungkin diabaikan oleh Big Boss mana pun yang membangun utopia, gagasan cemerlang mereka untuk merealisasikan tatanan masyarakat ideal senantiasa berhadapan dengan variabel dinamis dan tidak terduga, partikel nakal yang melesat ke sana-ke mari tanpa bisa diprediksi, anomali yang lahir dari hakikat manusia itu sendiri, yang bahkan sebenarnya mereka pahami dengan baik karena salah satu tetua sempat berujar bahwa manusia bisa lari namun derita akan senantiasa menemukannya.

Yang juga saya anggap menarik dari The Village adalah karakter Ivy, perempuan buta yang justru paling cemerlang di antara manusia lain karena ia melihat yang orang lain tidak lihat, merasa dengan rabaan yang lebih peka dari ujung-ujung jemari orang lain. Kebutaan Ivy membuatnya tidak takut akan kegelapan dan monster, dua hal yang apabila dicoba untuk dipahami secara lebih baik pada dasarnya mengacu pada ketakutan manusia akan hal-hal yang tidak terjelaskan, akan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, akan ketidakpastian yang menjadi satu-satunya kepastian di dalam kehidupan, akan diri sendiri sehingga membuat mereka enggan becermin. Namun demikian, adakalanya isolasi yang menyaru semesta utopia seperti di The Truman Show, Aeon Flux, dan The Village mungkin memang diperlukan sebagian orang untuk merasakan keserbaterbatasan, mengalami dialog tanpa henti dengan hantu-hantu masa lalu, menekuri baik-baik monsternya sendiri untuk kemudian mengendalikan atau bahkan berdamai tanpa saling memusnahkan, dan bermuara pada revelasi yang meskipun tidak senantiasa surgawi namun memberi bekal yang tidak tanggung-tanggung untuk melintasi lorong-lorong gelap beraroma belerang neraka.

Akhirnya: manusia benar-benar mengenal dirinya hanya dengan menyepi sendiri.

#inthemoodforparalleluniverse

~Bramantio