Gravitasi, Cuarónesque, Phoenix

Saya mengakhiri tulisan sebelumnya di blog ini dengan “[M]anusia benar-benar mengenal dirinya hanya dengan menyepi sendiri,” dan tentu bukan sebuah kebetulan ketika hari ini saya dibuat merasakan campuran antara senang dan tercengang ketika menjumpai realisasi atau setidaknya visualisasi atas yang demikian melalui sebuah film yang hampir selama dua minggu terakhir menggasing di pikiran saya dan membuat saya tidak tenang karena saking penasarannya setelah menyaksikan trailer-nya baik versi pendeknya di YouTube maupun versi panjangnya ketika saya menonton Insidious Chapter 2 sebagai semacam tayangan ekstra sebelum bintang utama naik panggung. Bukan pula kebetulan ketika satu hari yang lalu saya masih membayangkan baru bisa menikmati film ini minggu depan karena ia toh minggu lalu belum masuk daftar tayangan tengah malam di bioskop sehingga saya tentu harus lebih bersabar menjalani beberapa hari penuh siksa karena saking mupengnya pada sesuatu yang pasti datang namun baru bisa direngkuh seminggu kemudian, tetapi pagi tadi saya mendapati berita menyenangkan bahwa film ini ditayangkan perdana hari ini, dan betapa rangkaian peristiwa ini membuat saya menjalani Jumat Legi ini dengan daya hidup yang lebih besar daripada Jumat-Jumat yang lain yang senantiasa membuat saya berbahagia bahkan melebihi yang dihadirkan oleh Sabtu karena Jumat berarti besok tidak perlu meninggalkan rumah sedangkan Sabtu sekadar hari sebelum Minggu yang tentu berjarak lebih dekat ke Senin daripada Jumat. Ya, Gravity adalah muse saya hari ini.

Gravity menjadi salah satu film yang membuat saya memandangnya tidak sebatas rangkaian gambar bergerak karena ia telah memiliki sejarahnya di dalam perpustakaan imajiner saya bahkan sebelum seluruh parabola yang juga imajiner menangkap segala citra yang dihadirkannya karena ia lahir dari daya cipta Alfonso Cuarón. Bagi sebagian orang, nama ini mungkin bahkan tidak seterang bola lampu redup yang tergantung dan sesekali berayun pada kamar superkelam yang tidak memiliki satu pun celah yang menghubungkannya dengan dunia di luarnya dan memberi peluang bagi sinar samar lain untuk menjadi bagian dirinya. Bagaimanapun, si Alf ini dengan caranya yang tidak pernah gegap-gempita telah berhasil menyelinap ke relung perpustakaan imajiner saya lalu berdiam di sana bahkan membuat semacam ruang koleksi khusus yang bahkan tidak dimiliki oleh kreator lain yang memiliki sejarah lebih panjang dan kaya dalam hal penciptaan dunia di dalam dunia.

Saya mengenal Alf melalui Great Expectations yang mempertemukan Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, Robert DeNiro, dan Anne Bancroft meskipun dua di antara mereka tidak pernah berbagi layar yang sama. Film yang diadaptasi dari novel Charles Dickens dalam bentuknya yang lebih kontemporer dan hadir pada 1998 ini menjadi salah satu film yang mengisi tahun-tahun pertama saya ketika mulai menumbuhkan kecintaan pada film dan pengalaman nonton di layar bongsor bioskop. Bagi saya pada masa itu hingga hari ini, yang paling menarik dari film ini bukan ceritanya namun hal-hal di luar cerita yang memperkaya sekaligus memberi jalan bagi cerita untuk menjelma lebih memesona: latar perairan pada bagian awal cerita termasuk bocah Finn yang berpetualang solo dengan perahu bermotornya dan menggambar hal-hal inosen akuatik, Paradiso Perduto yang menjadi kediaman Nyonya Dinnsmore yang menjadi ruang berlangsungnya hal-hal kontradiktif antara yang telah renta dan kuncup yang bersiap meletup, antara yang remuk membusuk dan yang segar dalam ketidakpastiannya, antara masa lalu yang menghantui dan masa depan yang juga tidak setegas duri dalam daging, lukisan-lukisan cat air Finn dengan gayanya yang nonrealis namun memiliki kedalaman seperti buku sejarah bayangan benda-benda yang menerpa indera dan album kronik segala rasa yang mendera bahkan merajam kalbu, dan tentu saja monokromatik hijau yang melekati banyak hal dan menghadirkan nuansa yang membuat saya terus-menerus merasakan: bahkan dalam kehancuran tetap ada yang tumbuh dan berniat hidup bagaimanapun caranya. Karena bagi saya, penceritaan tidak pernah berkedudukan lebih rendah daripada cerita karena penceritaanlah yang merealisasikan cerita, film ini pun menjadi salah satu yang memberi saya pengalaman sinematik terbaik.

Enam tahun kemudian saya menonton film ketiga dari franchise Harry Potter yang kursi sutradaranya beralih dari Chris Columbus ke Alf dan membuat sejumlah kritikus menganggapnya tidak seimpresif dua film sebelumnya karena nada dasarnya yang terasa minor namun justru hal itulah yang membuat saya bisa menikmati film ini dengan lebih baik. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban berhasil meletakkan fondasi bagi semesta Harry Potter pada tahun-tahun berikutnya yang menurut saya berada pada titik puncaknya pada Harry Potter and the Half-Blood Prince yang meskipun tampak kurang fantastik dibandingkan Harry Potter yang, justru terasa paling ajaib karena menghembuskan hawa manusiawi sekaligus memberi jeda pada hingar-bingar sihiriah. Rangkaian peristiwa di kereta api di bagian awal cerita menjadi salah satu visualisasi terbaik dari seluruh film Harry Potter karena di situlah Dementor hadir untuk kali pertama dengan wujudnya yang tidak terkatakan selain keuzuran berbalut jubah tercabik-cabik serupa gemulai rumput laut di perairan dangkal namun mematikan, dan betapa serpihan kain yang melayang-layang dari sisi kanan layar disusul tangan berjemari kerontang yang menjulur dan pintu kompartemen yang bergerak membuka bahkan sebelum gagangnya disentuh menjadi horor sunyi yang tidak mengejutkan namun menebar kengerian yang membekukan. Selain itu, film ini juga paling menarik pada bagian visualisasi perjalanan antarwaktu yang dilakukan Hermione dan Harry dalam rangka menyelamatkan Buckbeak. Hmmm, lagi-lagi saya membicarakan hal-hal berkaitan dengan semesta paralel.

Berselang dua tahun, saya pun tiba di Children of Men, sebuah film yang secara sepintas semestinya tidak termasuk pada daftar favorit saya karena berkaitan dengan politik dan kekerasan fisik yang lebih mengerikan daripadan film slasher namun nyatanya berhasil masuk hitungan karena muatannya yang lebih berat daripada sekadar distopia kumuh keotik dan raga-raga yang menerbangkan nyawa melalui celah-celah yang mengalirkan darah. Tidak seperti Harry Potter and the Prisoner of Azkaban yang meningkatkan standar serial ini ke tataran yang lebih dunia-lain, film ini justru menempuh jalan yang berbeda dan menarik segala yang terlalu begini-begitu pada film-film aksi terorisme untuk kembali menjejak Bumi, membuatnya lebih dekat dan mengancam, dan hidup dalam realitas yang dikenali bahkan oleh yang jauh dari Inggris alternatif. Duet Faron dan Julian dalam rangka menyelamatkan jabang bayi pertama setelah selama bertahun-tahun umat manusia entah mengapa menjadi steril menjadi tulang punggung cerita yang bisa jadi begitu-begitu saja seandainya tidak ada dukungan visual khususnya sejumlah unbroken shot berdurasi panjang yang baru saya sadari setelah beberapa kali menonton film ini. Selain itu, momen-momen sunyi yang mengisi beberapa bagian cerita juga berhasil memberi citra kontemplatif yang langsung membuat saya menyeretnya ke kenyataan yang saya jalani yang memang senantiasa membutuhkan hal semacam ini untuk mempertahankan kewarasan di dunia yang seolah semakin mencintai keriuhan ini.

Dan malam ini saya menyaksikan Gravity, sebuah film reinkarnasi sekaligus dari Great Expectations, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, dan Children of Men. Scene pembuka cerita langsung mendatangkan perasaan serbamelayang pada diri saya: antara menikmati gambar-gambar menyejukkan berkaitan dengan kehampaan yang mistis, membayangkan perspektif siapa pun di luar Bumi ketika memandang sebuah bola gigantik yang mengambang di bawahnya di atasnya di sampingnya di sudut matanya di sekelilingnya secara bergantian akibat tidak adanya titik pijak yang pasti hingga membuat segalanya menghantu, mengagumi rangkaian yang tidak terputus gambar-gambar tadi yang berlangsung selama belasan menit sambil bertanya-tanya tentang cara Alf dan sinematografernya menangani hal itu yang bahkan secara eksplisit tampak jauh lebih sulit dibandingkan scene panjang yang melibatkan mobil berkecepatan tinggi di Children of Men, dan tentu saja perasaan bahagia karena bisa mengalami semua itu yang kemudian menumbuhkan segugus keteduhan yang tidak disebabkan oleh hijau daun pepohonan pagi beraroma embun terbakar Matahari. Perasaan senada terus-menerus menerpa saya sepanjang film dengan intensitas yang berbeda-beda semacam sejumlah varian dari melongo, terbelalak, tercekat, lega, tersenyum, terharu, dan menahan airmata supaya tidak tumpah lalu menetes ke kaos ungu muda yang saya pakai saat itu. Satu kali saya bahkan dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang terasa begitu akrab karena telah menjadi salah satu yang paling mengakar di ingatan saya sejak pertama kali mengenal mitologi Yunani: jatuhnya Ikarus. Oke, oke, oke, dan ini bukan spoiler, film ini memang sama sekali tidak membicarakan lebih-lebih menghidupkan kembali anak Daedalus namun yang demikianlah yang saya lihat di salah satu bagiannya sekaligus merealisasikan keterbakaran agung yang terjadi pada Ikarus, dan betapa yang begitu mati adalah yang terjadi pada yang begitu muda. Dengan gayanya yang khas, setidaknya yang saya amati dari ketiga film sebelumnya, Alf senantiasa menghadirkan ini-itu secara mutidimensional, berlapis-lapis, memiliki keindahannya masing-masing sehingga segala yang secara kasatmata tampak sepele pun tidak habis dalam satu kali baca.

Gravity adalah sebuah perjalanan meditatif, puitis, rahimiah, revitalis, dan supranatural. Sembilan puluh menit duduk tanpa kawan tanpa minum tanpa popcorn di kursi pada deretan paling belakang menikmatinya membuat saya seolah berada di sebuah kuil tanpa nama entah di mana yang dipenuhi cermin awam dan kacabenggala sehingga kemudian saya meninggalkan bioskop sebagai diri yang seolah sempat melebur dengan segala rasa dan nuansa yang dialami Phoenix ketika kembali dari kematian dan melahirkan dirinya sendiri. Dan oleh karena itu, meskipun tidak secara langsung, saya berterima kasih kepada Alfonso Cuarón sebagai bapaknya.

~Bramantio