Doppelganger Menjelang Maghrib

Minggu lalu pada jeda antarjam kuliah ketika saya berkumpul dengan kawan-kawan di ruang dosen dan ngobrol ke sana-ke mari diselingi derai tawa sopan hingga ngakak kurang ajar, datanglah seorang kawan. Ia menarik salah satu kursi di sisi lebar meja besar lalu duduk dan berkata sambil melihat ke arah saya, “Kemarin ngajar sampai sore ya?” Saya pun langsung memasang ekspresi “Wooottt?” Melihat raut muka saya, ia pun menambahkan, “Iya. Di ruang sebelah. Saya kan kemarin juga ngajar sampai sore.” Saya pun langsung memahami dan kali ini memasang ekspresi “Oh, no way Jose!” Dan betapa ekspresi itu ternyata merembes lalu merambat melalui udara sejuk di ruang yang memisahkan kami lambat-laun hinggap dan meresap ke wajahnya disertai selapis kengerian. Saya pun menjelaskan bahwa pada hari sebelumnya saya meninggalkan kampus lebih awal daripada biasanya dan tidak untuk kembali yang tentu saja benar-benar menutup peluang bagi siapa pun untuk menjumpai saya di kampus pada menjelang maghrib terlebih lagi duduk anteng di sebuah ruangan dengan wajah serius menyampaikan materi kuliah. Saya menambahkan canda yang dalam segala keringanannya tentu mengandung seraut kebenaran, “Mungkin karena selama dua minggu sebelumnya saya terus-menerus berada di ruangan itu ketika menjadi ketua panitia UTS. Jadi, aura saya tertinggal di situ deh. Hehehe.” Bagaimanapun, hal itu tidak juga mengurangi bahkan menghilangkan kengerian di wajahnya. Saya bisa memahaminya.

Bagi sebagian orang, hal-hal asing lebih-lebih ajaib senantiasa memiliki peluang untuk mendatangkan rasa tidak nyaman bahkan ketakutan yang menggoncangkan untuk kemudian membekukan sehingga tidak mengherankan apabila hal demikianlah yang tergambar jelas di wajah kawan saya. Sebaliknya, bagi saya, segala benda alienatik semacam itu merupakan bagian dari kefanaan semesta ini sehingga cerita horor tadi saya anggap sebagai hal biasa dan pada saat-saat tertentu terasa menarik bahkan seru. Bagaimana tidak seru, untuk kali pertama ada orang yang bercerita dengan gamblang sekaligus disertai keyakinan seyakin-yakinnya bahwa ia melihat doppelganger saya.

Beberapa saat setelah kawan saya berlalu dari meja besar untuk kembali menekuni urusannya sendiri, saya langsung mencoba menelaah goblok-goblokan peristiwa tadi: Kemarin hari apa ya? Kemarin “hari” apa ya? Adakah yang istimewa pada hari itu menurut penanggalan-penanggalan uzur non-Masehi? Bahkan, saya sempat berpikir untuk bertanya pada dedaunan teh bisu namun mengujarkan beribu kata berbahasa simbolis sarat makna pada cangkir bantat berwarna pucat pasir dan bermulut menganga ketika tiba di rumah.

Keesokan harinya, peristiwa perjumpaan dengan doppelganger tadi kembali mencuat di tengah pembicaraan ngalor-ngidul bersama kawan-kawan. Seorang di antara mereka pun menuturkan salah satu kultur kuno berkaitan dengan hal itu, “Di Bali, kami punya kebiasaan. Setiap kali kami menempati sebuah ruangan dalam durasi lama, misalnya di hotel selama beberapa hari, begitu meninggalkannya kami senantiasa bilang “Yuk, pulang yuk!” pada apa pun yang ada di ruangan itu.” Nah, nah, nah, menarik nih! “Tujuannya ya kurang-lebih supaya tidak ada yang tertinggal di ruangan itu.” Bagaimanapun, rasa-rasanya hanya saya yang menganggapnya demikian karena nyatanya kengerian berumur satu hari yang sudah mulai mereda kembali menyeruak di mata kawan-kawan saya. Yang lebih menarik, berselang satu-dua hari setelah “Yuk, pulang yuk!” tadi, dalam pembicaraan dengan seorang kawan, hal senada kembali muncul. Katanya, “Dulu ketika masih di Jambi, nenekku juga punya kebiasaan setiap kali selesai acara kumpul-kumpul dengan “Ayo, semua pulang yaaa….” yang disampaikannya tidak sekadar pada orang-orang di situ, tetapi juga kepada apa pun yang ada di ruangan itu.” Spuuukiii….

Bagi saya, keduanya tidak sekadar tentang kebiasaan serupa, tetapi betapa baik yang di Bali maupun di Jambi dan saya yakin di banyak wilayah kebudayaan lain ada kesadaran yang begitu besar tentang hal-hal yang tidak kasatmata. Hal ini bukan pula melulu tentang hal-hal yang berkaitan dengan hantu-hantuan atau setan-setanan, tetapi lebih tentang makhluk-makhluk astral dan dari semesta di seberang sana, yang adanya semakin lama semakin terabaikan oleh semesta kita yang bergerak di atas roda-roda logika yang mungkin disertai keangkuhan bahwa segala-yang-lain tidak penting.

Rangkaian peristiwa yang menyangkut doppelganger ini meskipun tidak membuat saya merasa terganggu hingga merusak hari-hari saya atau bahkan membuat saya suntuk, tetap membuat saya bertanya-tanya: Mengapa doppelganger saya muncul? Adakah yang ingin disampaikan semesta kepada saya? Bukan sekadar semesta-yang-ini, tetapi juga semesta-yang-itu. Saya membayangkan pada saat doppelganger saya muncul, ada retakan antara semesta-yang-ini dan semesta-yang-itu sehingga saya-yang-lain bisa terlihat dari semesta-yang-ini seolah berada di balik kaca satu arah yang hanya bisa digunakan untuk melihat dari salah satu sisi. Saya pun membayangkan hal yang lebih ekstrem: kaca ini membuka kesempatan bagi siapa pun di kedua sisinya untuk saling melihat tetapi tidak untuk berkomunikasi.

Peristiwa doppelganger ini juga membuat saya mengingat kembali salah satu cerita lama dari para tetua, “Ketika lahir, kita tidak benar-benar sendiri, tetapi disertai oleh kembaran yang senantiasa mendampingi kita sepanjang hidup.” Dan betapa cerita itu menenangkan. Mendamaikan.

#inthemoodforparalleluniverse

~Bramantio


About this entry