Ender’s Game, Psikologi Dasar, Alien Beeyooteeful

Pra-skriptum: tulisan ini membocorkan beberapa bagian cerita.

Akhir-akhir ini saya menumbuhkan sebuah kebiasaan baru atau lebih tepatnya melakukan semacam upgarding atas kebiasaan lama: menonton sebuah film di bioskop lebih dari satu kali dalam rentang waktu yang adakalanya sekadar berjeda satu-dua hari. Bagaimanapun, hal yang demikian tentu tidak terjadi pada semua film, tetapi film-film yang pada kesempatan perdana saya menontonnya menyediakan sejumlah hal untuk membuat saya terpesona tidak sekadar pada cerita namun lebih sering pada visualisasi-cerita atau penceritaannya, memberi saya kurang-lebih dua jam yang privat-di-ruang-publik dan menyenangkan dalam pengertian tidak sekadar membuat saya tersenyum manis atau kecut atau getir hingga tertawa namun sekaligus menggugah mata untuk berair meskipun tidak serta-merta sampai melinangkan sungai vertikal, juga dada berdenyut-denyut samar hingga berdagdigdug rusuh karena tersentuh atau terharu atau memendam amarah atau mencelos, serta mengantarkan saya kembali ke rumah dengan pikiran yang lebih ringan terang-benderang menyegarkan serupa Matahari pada teduh pagi yang cerah daripada dua jam sebelumnya, atau justru menimbun hari-hari ke depan saya dengan gagasan-gagasan yang serupa lemari sarat warna-warni benang kusut saling menyimpul mati yang tidak terlacak pangkal dan ujungnya. Ender’s Game adalah salah satu yang demikian dan saya telah menontonnya tiga kali di layar lebar gedung bioskop tanpa sedikit pun mengurangi kenikmatannya.

Ketika menonton trailer-nya, saya sempat berpikir film ini akan berada pada arena yang sama dengan franchise Star Trek yang betapa pun mengandung kompleksitas berlapis seperti halnya tampak pada dua yang terbaru, tetap mengedepankan nuansa hiburan yang kemudian seringkali hampir tidak menyisakan apa pun selepas menontonnya, semacam habis dalam satu kali baca. Hal ini masih ditambah dengan sifat trailer-nya yang seperti trailer-trailer akhir-akhir ini yang entah mengapa memiliki kecenderungan memperlihatkan keseluruhan cerita bahkan membocorkan bagian-bagian yang semestinya adalah titik-titik puncaknya seperti yang terjadi pada trailer The Conjuring yang sangat saya sesali karena dengan kurang ajar memunculkan tepukan setani yang mengakibatnya berkurangnya kenikmatan menonton film utuhnya.

Meskipun begitu, kesan awal yang demikian ternyata sedikit demi sedikit luntur bahkan sejak rangkaian adegan awal yang berwarna vanila senja sutra. Kejutan demi kejutan muncul sepanjang film: cerita yang bergerak lurus bersahaja namun memiliki daya jerat yang tidak main-main, Ender yang berwibawa sekaligus berlapis-lapis secara emosi, casting keren khususnya para bocah yang bahkan dengan porsinya yang terbatas tetap mampu membangun karakter masing-masing dengan baik dan saling mengisi, seperti Valentine yang minimalis namun memiliki kedewasaan dan kedalaman yang tidak sekadar hadir dari tutur kata, juga Bean mungil yang tengil sekaligus kocak dengan guyonan tukang ledengnya, Dep yang besar brewok sangar namun intonasi bicara dan caranya merespon para bocah justru membuat saya tergelak, wardrobe ciamik baik untuk berlatih perang lengkap dengan helm yang kata seorang kawan mengingatkannya pada bocah-bocah peri maupun setelan putih-putih berpotongan hampir tunik untuk bersantai yang saya bayangkanya memang sangat nyaman dipakai, adegan di Battle Room yang spektakuler mulai sesi pengenalan medan dilanjutkan latihan menembak hingga perang antartim yang tidak kalah heboh dibandingkan Quidditch dan bahkan sempat membuat saya tidak bisa menahan kesumringahan dan akhirnya bertepuk tangan sendiri, serta simulasi pertempuran final yang aduhai dengan menghadirkan virtual reality ke tataran yang lebih tinggi karena tidak sebatas dunia-seberang-artifisial di dalam visor namun visualisasi starships gigantik awesometacular! yang berseliweran seperti ikan-ikan bongsor di Sea World gelap pekat di kanan kiri atas bawah sekeliling Ender dan kawan-kawannya.

Sepanjang film saya juga terus-menerus diingatkan pada Marvel’s The Avengers. Hal ini berkaitan dengan betapa film ini merupakan sebuah proses membentuk regu yang terdiri atas bocah-bocah tercerdas di muka Bumi dengan latar belakang dan kondisi psikis berbeda. Seperti halnya Marvel’s The Avengers yang pernah saya putar di salah satu sesi Latihan Ketrampilan Manajemen Mahasiswa beberapa bulan yang lalu, saya membayangkan suatu hari nanti film ini akan ditayangkan di kelas-kelas pelatihan pembentukan karakter pemimpin juga team building mengingat keduanya kaya akan individu potensial dengan karakteristik berbeda namun memiliki tujuan sama dan berusaha mewujudkannya dengan tidak saling menenggelamkan oleh ego masing-masing namun dengan saling beririsan yang meskipun tidak serupa kurva berpotongan mulus namun tetap menancap dengan pas. Di samping itu, Ender dan kawan-kawannya, termasuk Bonzo yang kêmênthus nauzubillah bacokable dan harus membayar mahal atas hal itu, merupakan gambaran kondisi kejiwaan dasar manusia: keraguan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, keberanian, ketakutan, kekhawatiran, dan tipu daya, yang tampak semakin menarik karena ditanamkan pada bocah-bocah inosen. Betapa pun brilian dan tangguh mereka sehingga berhasil bertahan hidup di dunia yang membebankan masa depan umat manusia kepada mereka, Ender dan kawan-kawan tidak lebih daripada manusia-manusia pemula yang usianya belum melampaui dua dasawarsa sehingga cara mereka memandang dan menyikapi segala sesuatu pun juga berdasarkan pengalaman yang terekam oleh pancaindera dan otak yang belum lama tumbuh. Dengan begitu pula, aksi dan reaksi hadir dalam bentuknya yang alami, kebaikan dan keburukan dalam wujudnya yang jujur, serupa malaikat dan iblis yang paling murni.

International Fleet yang merekrut bocah-bocah terbaik juga langsung mengingatkan saya pada manga Mai, the Psychic Girl yang pertama kali saya baca ketika saya SD kelas 6 dan menjadi salah satu bacaan terbaik saya hingga saat ini sekaligus bagian dari fondasi pemikiran saya hingga masa-masa yang terentang jauh sesudahnya. Di situ diceritakan bahwa Mai, gadis belasan tahun dengan kemampuan psikokinetik yang bahkan lebih gargantuan daripada yang diperkirakan, terlibat secara paksa pada sebuah proyek berskala ultra yang bertujuan untuk menciptakan semacam bahtera Nuh namun berisi manusia-manusia terpilih. Mai bersama sejumlah remaja seusianya dari seluruh dunia dipertemukan guna merealisasikan proyek ini namun berakhir katastrofe karena mereka justru saling baku hantam tanpa ampun dengan cara yang jauh lebih brutal dan ah-may-zink! daripada yang pernah dihadirkan oleh film Chronicle sekitar satu tahun yang lalu. Baik Ender’s Game maupun Mai dengan caranya masing-masing telah memperlihatkan bahwa adalah sebuah kebodohan yang tidak termaafkan ketika generasi yang lebih akhir dipaksa memakai sepatu butut berbau apak milik generasi sebelumnya, adalah semacam dosa yang tidak terampuni ketika generasi yang lebih muda diharuskan menanggung neraka yang diundang dan dikobarkan sendiri oleh generasi bangka yang senantiasa memiliki alasan pembenaran dengan mengatasnamakan masa depan yang lebih baik bagi umat manusia.

Di atas segalanya, bagi saya, yang terbaik dari Ender’s Game adalah sosok alien Formic yang seolah sihir itu sendiri. Betapa tidak, dengan mata-mata kelingnya yang sekelam malam, kelabu raganya yang menghadirkan ilusi berkeredap hampir sulap, dan keanggunan eteriahnya yang bahkan hanya muncul sekelumit diiringi airmata yang mengalir oleh sebenar-benar pemahaman yang bermuara pada kasih berhasil membuat saya mlongo semlongo-mlongonya terharu sekaligus bahagia. Ia adalah salah satu gambaran terbaik tentang keindahan yang saking indahnya bahkan terasa sureal, lebih-lebih karena ia sejatinya sekadar produk manipulasi subtil teknologi grafis. Dan dengan caranya, seperti halnya E.T. dan Super 8, film ini telah mencipta ulang citra alien buruk rupa invasif destruktif menjadi sekuntum kehidupan yang juga layak dan berhak menempati sepetak kecil semesta raya ini. Bee-yoo-tee-ful!

~Bramantio


About this entry