Dari Ular Air ke Kuda Kayu

Beberapa bulan terakhir di 2013 lalu saya merasakan ketidakwajaran yang sebenarnya tanpa saya sadari telah bergelayut sepanjang tahun seperti mendung yang menggantung rendah menjelang badai. Bagi saya, terlalu banyak berita duka pada tahun itu, baik berkaitan dengan kematian maupun lara-lara yang lain, baik yang menimpa orang lain maupun yang saya alami. Sejumlah orang di sekitar saya pun entah mengapa tidak lagi seperti yang saya kenal sejak bertahun-tahun sebelumnya, mereka sungguh menyebalkan, kaplokable, gibêngable, dan beberapa di antaranya berhasil membuat saya patah arang yang tentu tidak mungkin diutuhkan kembali seperti sediakala. Tahun itu saya melakukan semacam kegiatan bersih-bersih lemari dari kawan-kawan yang kemudian dengan berat hati saya labeli “Matèko aé, cux!”. Bahkan, pada suatu hari saya sempat berpikir bahwa 2013 terasa lebih depresif daripada 2004 ketika ibuk saya sèda dan 2008 ketika bapak saya menyusul ibuk pada hari yang sama dalam versi pasaran Jawa dengan selisih sekitar setengah jam.

Mungkin yang berikut ini di mata orang lain akan tampak sebagai lelucon dan omong kosong pengisi keranjang sampah, tetapi tidak demikian bagi saya. Setelah melalui sejumlah pembicaraan di sana-sani dan membuka-buka kembali buku-buku “terpinggirkan”, saya tiba pada sebuah simpulan bahwa akar permasalahan segala problematika yang mendera saya dan orang lain pada tahun itu adalah Ular Air. Iyes! Ular Air. Sejak sekitar akhir Januari 2013 hingga akhir Januari 2014, Ular Air merajai masa dan massa. Saya memang tidak terlalu paham tentang primbon China, tetapi dari yang sekelumit itu saya memperoleh keyakinan bahwa shio satu ini memiliki peran yang tidak kecil sepanjang tahun itu.

Saya tidak akan mengutip apa pun berkaitan dengan Ular Air dari sejumlah bacaan tentangnya karena selain terlalu banyak dan membuang-buang waktu tentu akan membosankan bagi saya yang sedang terlalu malas untuk melakukan ini-itu. Saya sekadar merangkumnya dari pemahaman dasar tentang Ular Air yang tentu saja memiliki setidaknya tiga kata kunci: Ular, Ular Air, dan Air. Semua orang tahu bahwa ular yang senantiasa saya kagumi karena bisa melakukan hal-hal wow! dengan lancir fisiknya memiliki sejumlah konotasi negatif, mulai sosok yang dianggap menjatuhkan sepasang manusia pertama dari Eden hingga fauna mematikan; kali ini saya harus mengabaikan Ouroboros, Caduceus milik Hermes, dan Asclepius. Sebagian orang tahu bahwa ular air adalah kelompok ular paling mematikan, kekuatan bisanya bahkan lebih dahsyat daripada kobra paling letal. Dan air, selain berkaitan dengan kehidupan, elemen ini di sejumlah tradisi di dunia merupakan simbol kegelapan, seperti yang pernah divisualisasikan dalam The Ring dan The Ring Two versi remake, Dark Water, dan The Possession yang kemarin malam baru sempat saya tonton. Jadi, bisa dibayangkan bentukan akhir dari kombinasi antara ular air yang oh-so-Slytherin dan sifat dasar air yang mengalir, melarutkan, bahkan menenggelamkan. Sejak memahami fakta tersebut, saya berharap untuk segera mengalami pergantian tahun. Untuk kali pertama saya merayakan pergantian tahun baru Masehi bersama kawan-kawan di rumah dengan menonton tiga film secara hampir nonstop diawali dengan menyantap nasi bebek transgenik diikuti dengan segambreng Chitato, softdrink, teh botolan, dan jus buah, diselingi bermain Uno Stacko yang senantiasa menimbulkan dagdigdug pada hampir setiap langkah dan ledakan tawa menutupi keterkejutan ketika menara Babel mini amburadul itu akhirnya benar-benar runtuh berantakan dengan suara yang sangat tidak elok, saya pun merayakan pergantian tahun China sendirian sambil bersyukur bahwa Ular Air hanya datang sekali dalam enam puluh tahun. Fiuh!

Kuda Kayu yang menjadi wujud masa selanjutnya pasca-Ular Air memang tidak saya kenal, ini pun merupakan Kuda Kayu pertama saya karena, seperti halnya setiap shio, ia hanya datang setiap enam dasawarsa, hasil dari perkalian dua belas shio dengan lima elemen: metal, air, kayu, api, tanah. Sebagian orang yang mengetahui lebih banyak tentang shio menyatakan bahwa untuk bertahan di tahun ini dibutuhkan kerja keras. Hei, tetapi, bukankah setiap tahun kita butuh berkerja keras? Bagaimanapun, yang melegakan bagi saya adalah elemen kayunya. Kayu kering memang dapat menyulut api, tetapi setidaknya ia solid, tidak seperti air yang seolah suka-suka gue, dan pada setiap kayu ada tunas yang tumbuh, harapan yang bersemi (halah!).

~Bramantio


About this entry