Prakognisi, Masa-Depan-yang-Tidak-Lagi-Rahasia, Horor

Kemarin malam ketika jelaga langit sesekali memucat bahkan hingga pasi di sana-sini akibat ledakan benih-benih kilat dari kawanan awan hujan selepas menikmati semangkok penuh soto bersubjudul ayam tanpa satu pun irisan daging unggas melainkan potongan-potongan jeroan yang bagi saya terasa lebih ringan sekaligus menguarkan keanekaragaman tekstur dan citarasa disertai segelas es teh manis yang sayangnya dibuat dengan dedaunan kering yang kurang berkualitas untuk ukuran lidah saya di sebuah warung pinggir jalan, saya menonton kembali film Knowing. Masih saya ingat dengan baik kesan yang dihadirkan trailer film ini beberapa tahun yang lalu ketika saya pertama kali menontonnya dan membuat saya berasumsi: ini pasti tentang ESP (Extra Sensory Perception) deh. Hal itu dipicu oleh beberapa aspek: judul, tentu saja; kehadiran Nicolas Cage dan kalimat “There is a pattern to predicting the future”, yang langsung mengingatkan saya pada film Next yang juga dibintanginya dan mengusung isu senada namun jauh lebih ringan; adegan kereta api keluar jalur dengan urakan dan pesawat jatuh yang terasa lebih mengerikan daripada pesawat terbelah di udara di serial Lost, yang dalam bayangan saya saat itu merupakan dampak atas ulah seseorang atau sekelompok orang dengan kemampuan telekinetik atau psikokinetik bertaraf alayhumgambreng!, seperti yang ada di komik Mai, the Psychic Girl dan sebuah film produksi entah Hongkong entah China tentang polisi-polisi supranatural; dan adegan bebatuan membubung lalu membeku di udara malam. Dan ketika pada akhirnya saya menontonnya di bioskop beberapa bulan kemudian, segala yang terjadi di film ini ternyata melebihi harapan saya: lebih dalam, lebih menghantui, dan lebih membuat melongo. Bagaimanapun, meskipun sangat tergoda untuk melakukannya, kali ini saya tidak memiliki cukup energi (halah!) untuk menulis tentang seluk-beluk Knowing dan interprasi atasnya, termasuk citra empat yang senantiasa berulang: empat tokoh sentral, empat makhluk selestial, dan empat anggota sebuah keluarga, yang mau tidak mau mengingatkan saya akan hal-hal biblikal: empat penginjil dan The Four Horsemen of The Apocalypse, belum lagi Pohon Pengetahuan dan nama-nama tokohnya.

Prakognisi ternyata sekadar merupakan titik awal Knowing untuk kemudian menjadi bahan bakar cerita yang melaju ke titik akhir yang sekaligus menjadi babak awal episode lain. Ketika menontonnya lagi dan lagi dan lagi termasuk yang kemarin malam, saya mendapati semacam pembenaran atas pemahaman yang selama ini telah saya yakini: kemampuan menerawang jauh hingga masa-masa yang akan tidak serta-merta merupakan berkah. Sebaliknya, ia lebih banyak merupakan semacam kutukan karena dari sejumlah hal yang saya baca, tonton, bahkan alami, alih-alih mendatangkan kelegaan tralalatrilili, hal ini lebih sering menyarangkan kegelisahan yang bisa merembet pada kemunculan insomnia berlarat-larat hingga pengambilan keputusan-keputusan yang justru menyesatkan dan bermuara pada momen hancik. Hal yang demikian terjadi pada salah satu tokoh film ini yang kemudian tewas pada tengah malam di perempatan jalan memenuhi ramalan atas dirinya sendiri.

Para moviegoer pun tentu ingat betapa visi salah seorang tokoh di setiap awal franchise Final Destination memperoleh reaksi yang terasa berlebihan dari orang-orang yang tewas di dalam visi itu. Mereka pun berusaha begini-begitu untuk membaca tanda-tanda dalam rangka menghindari kematian yang pada akhirnya melahirkan pemahaman bahwa kematian-kematian superhoror dan sangat tidak elok yang mereka alami sesungguhnya tidak akan terjadi atau katakanlah tidak akan sevulgar itu apabila mereka sumèlèh. Rangkaian tindakan serba-kêmrungsung dan grusa-grusu justru mengantar mereka secara langsung ke haribaan terkelam Hades dan seolah tanpa perlu membayar Charon untuk menyeberangi Styx.

Hal senada juga saya dapati di sebuah serial yang sayangnya, kalau saya tidak keliru, hanya tayang satu musim: Flashforward. Serial ini merupakan semacam pendewasaan Final Destination: pemilik visi tidak hanya satu tetapi setiap orang di seluruh dunia; visi mereka saling berkaitan dalam pengertian apabila si A melihat B di dalam visinya, si B pun melihat si A; ada sejumlah orang yang tidak memiliki visi karena yang mereka lihat adalah sepenuhnya blackout, yang kemudian diinterpretasi dan disepakati bahwa pada waktu visi itu menjelma nyata, mereka adalah golongan orang-orang mati. Menggunakan plot cerita detektif dengan menempatkan peristiwa pembuka sebagai tengah cerita, serial ini bergerak maju menilik satu per satu problematika kehidupan tokoh-tokoh sentralnya sekaligus mundur melakukan kajian atas fenomena blackout global yang kata salah satu tokohnya penyebab me-nabi-nya setiap manusia karena mereka bernubuat atas diri mereka masing-masing. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal yang selama ini tidak pernah sedikit pun meresahkan eksistensi mereka, lagi-lagi kekhawatiran hiperbolis menemukan jalannya sendiri untuk menjelma nyata, dan sejumlah relasi tercerai-berai hanya dengan alasan mereka “tidak bisa melihat masa depan” sehingga lebih memilih “melarikan diri” bahkan bunuh diri untuk memutus jalinan tali-temali Takdir.

Seperti halnya time travel yang dilakukan seseorang untuk menambal celah dan menulis ulang sejarah, yang demikian paradoksal juga saya temui pada serial lain, yaitu Heroes yang season pertamanya merupakan salah satu serial terbaik yang pernah saya tonton dan menjadi pengisi sejumlah malam saya di Depok di dalam sebuah kamar kos enam belas meter persegi di lantai dua sebuah rumah besar yang selalu adem dengan seekor ayam jago spuki karena senantiasa kluruk setiap pukul dua dini hari entah karena sekadar iseng entah melihat malaikat entah merasakan kehadiran dark matter berkategori lêlêmbut, khususnya pada tokoh Isaac Mendez. Di situ diceritakan bahwa di antara tokoh-tokoh berkemampuan X-Men-iah, bagi saya, Mr. Mendes-lah yang menjadi sentral cerita: prakognisinya yang direalisasikan ke dalam sejumlah lukisan serial bergaya komik yang salah satunya dikenal dengan jargon “Save the Cheerleader, Save the World” merupakan semacam batu-batu pijakan yang digunakan oleh tokoh-tokoh lain untuk menyeberangi cerita sekaligus melarikan diri dari si monster kewl Gabriel Gray alias Sylar. Meskipun hanya mengikuti serial ini hingga season ketiga, setelah menontonnya beberapa kali termasuk pada satu kesempatan dibuat terpesona oleh laku para tetua termasuk ibunda Petrelli bersaudara yang prakognisinya lebih OMG! daripada para precog di Minority Report dan menjadi Nostradamus-nya serial ini, saya bertanya-tanya: benarkah Isaac Mendez meramal masa depan, atau jangan-jangan tokoh-tokoh lainlah yang tanpa mereka sadari merealisasikan lukisan-lukisan Isaac yang terlanjur mereka yakini sebagai masa depan yang kemudian menjerumuskan mereka ke sebuah dunia keotik katastrofik?

Knowing, Final Destination, Flashforward, dan Heroes dengan caranya masing-masing, entah disadari atau tidak disadari oleh para kreatornya, berhasil merealisasikan sekuntum pemahaman: sebaik-baik masa depan adalah masa depan yang rahasia. Karena itu pula, manusia tidak diizinkan oleh Yang-Tidak-Berada-di-Dalam-Ruang-dan-Waktu untuk mengetahuinya. Kalau pun ada, mereka adalah semacam limited edition dan orang-orang yang memiliki daya untuk menanggung yang mungkin tidak sekadar beban dunia tetapi sekaligus nerakanya.

~Bramantio