Psi dan Serial Televisi 90-an

Obrolan tentang prakognisi pada tulisan yang saya unggah sebelumnya ternyata menjadi semacam sekeping domino yang berdiri di dalam sebuah rangkaian yang ujung jauhnya telah disentil pelan hingga mau tidak mau ia pun runtuh ke kepingan sesudahnya dan melanjutkan aliran hingga tuntas karena membuat saya semakin mengingat dan mengingat yang kali ini berlabuh pada sejumlah serial televisi pada dasawarsa 90-an. Pada kesempatan lain saya tentu sangat antusias untuk membicarakan kehidupan hedon para remaja Beverly Hills 90210 atau problematika keseharian para swinger Melrose Place, tetapi di sore yang hujannya tidak kunjung lelah bahkan setelah lebih daripada satu setengah jam beraksi nyaris rusuh hingga menyebabkan genangan-genangan yang menggelombang ketika dilewati kendaraan bermotor ini saya lebih bersemangat untuk menulis tentang Psi-nya.

Pada satu kesempatan ketika merunut ulang pengalaman menonton sejumlah serial televisi pada masa itu, seandainya saya menatap bayangan saya di cermin yang tidak berembun, saya tentu akan menjumpai seulas senyum yang semacam hadir dari kelegaan kecil selepas menemukan sebatang pensil yang selama beberapa menit saya cari yang ternyata terselip dengan nyaman di kantong kemeja saya, karena meskipun tidak dalam jumlah besar, pada masa itu Psi mencapai popularitas yang tidak main-main: sejumlah serial televisi menjadikan Psi sebagai isu sentralnya. Yang paling mudah diingat adalah The X-Files dengan tagline-nya “The Truth is Out There dan telah menjelma cult yang setiap episodenya menayangkan kasus berkaitan dengan hal-hal supranatural yang sepanjang hampir satu jam ditempatkan di antara dua karakter yang masing-masing mewakili pemikiran yang lebih besar: Fox Mulder sebagai a true believer dan Dana Scully sebagai sosok skeptis analitis pragmatis, sehingga berdampak pada wujud cerita yang bisa dipahami dari sisi logis maupun fantastis. X di dalam serial ini merupakan representasi segala yang menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan nyata dan tidaknya sekaligus menimbulkan tanya tanpa kepastian jawaban, yang kemudian saya pahami ternyata memiliki kesejajaran dengan Psi pada tradisi aksara yang lain. Psi secara lebih gamblang hadir melalui serial Psi Factor yang bersubjudul Chronicles of the Paranormal yang mengusung konsep serupa dengan pendahulunya namun terasa lebih ringan dan terang sekaligus futuristik karena melibatkan sejumlah piranti mutakhir untuk mengungkap segala yang tidak terjelaskan oleh pancaindera.

Selain The X-Files dan Psi Factor, pada periode itu Psi juga hadir di serial lain dengan bentuknya yang berbeda karena tidak lagi sekadar dianggap sebagai anomali yang memotivasi sejumlah orang untuk menjelaskannya dalam kerangka berpikir ilmiah. Yang pertama terlintas di pikiran tentu saja serial Star Trek: The Nex Generation yang pada masa itu menjadi salah satu tontonan wajib saya pada salah satu sore setiap minggu. Salah satu tokohnya, Deanna Troi, seorang hibrida ras manusia dan ras telepath Betazoid, adalah empath yang kurang-lebih dalam Bahasa Indonesia (halah!) adalah orang yang mampu merasakan dinamika emosi subtil orang lain sehingga ia menjelma semacam detektor sekaligus sumber daya diplomasi yang sulit dikelabui yang dimiliki oleh U.S.S. Enterprise pimpinan Jean-Luc Picard. Pada salah satu episode, muncul pula tokoh lain yang saya lupa namanya dengan kemampuan psikis jauh melampaui Deanna yang saking lebay-nya justru merasa tersiksa karena tanpa bisa dikendalikannya ia bisa mendengar isi pikiran siapa pun yang ada di sekitarnya. Tokoh ini bahkan mampu menjalin komunikasi dengan sesosok alien gargantuan suicidal pengembara hingga memutuskan memasuki ruang raganya serupa kisah Yunus dan entah paus entah Leviathan dan memperoleh keheningan edeniah seperti yang selama ini didambanya untuk kemudian meledak menjelma debu antariksa sekaligus menghadirkan salah satu pengalaman awal saya berkaitan dengan tragedi meskipun tidak sampai membuat saya nangis gêru-gêru.

Yang dialami oleh tokoh-entah-bernama-siapa tadi juga dialami oleh salah satu tokoh di serial lain: Wendy di Sea Quest DSV. Serial yang ditayangankan seminggu sekali pada… mungkin Selasa setiap pukul delapan malam ini, mmm… tapi bisa jadi sembilan, menghadirkan pesona yang sempat membuat saya membayangkan mengambil studi Biologi Kelautan lebih-lebih ketika menonton salah satu episodenya yang menghadirkan gurita gigantik seperti Kraken dengan fisik bioluminescent. Yang menarik dari Wendy, telepatinya yang meledak-ledak dapat diblokir dengan tabir air sehingga hidup di dalam lambung kapal selam tentu serupa memperoleh kembali pengalaman bergelung nyaman di dalam rahim.

Bagaimanapun, di antara serial televisi pada masa itu, Babylon 5-lah yang paling bersuka cita merayakan Psi. Awalnya sih biasa saja dan serupa franchise Star Trek dan Star Wars. Akan tetapi, seiring perkembangan cerita dan kompleksitas konflik termasuk kemunculan ras kombatan Shadow, datanglah tokoh abu-abu telepath Talia Winter sebagai representasi Psi Corp, sebuah organisasi yang berisi manusia-manusia berkapabilitas psikis adikodrati baik telepati maupun telekinetik yang bahkan memiliki label tingkatan yang menentukan posisi mereka di dalam stratifikasi sosial. Tidak lama setelah Talia, hadirlah Lyta Alexander yang tidak sekadar telepath mediator ras manusia dengan Duta Besar Kosh yang mewakili ras malaikatiah sekaligus salah satu yang tertua di jagad raya, Vorlon, tetapi sekaligus berkemampuan telekinetik laten yang dari episode ke episode semakin memperlihatkan posisinya sebagai kontra Talia dan Psi Corp. Organisasi ini pun merupakan sebuah kekuatan politik yang menjadikan ekosistem multirasial Babylon 5 semakin menarik.

Apabila setiap fase di dalam perjalanan hidup manusia senantiasa mematrikan tanda baik sekadar berupa noktah tinta seujung pena pada pakaian maupun seluas penjumlahan halaman-halaman buku yang pernah dibaca, serial televisi yang telah saya ceritakan kembali secara sepintas tadi berhasil mengembriokan gagasan sepele yang hadir dari keterpesonaan di dalam pikiran untuk kemudian menumbuhkan kecintaan saya akan hal-hal berkaitan dengan Psi. Saya sempat sesaat sok-sokan menekuni Psikologi sepanjang SMP dan SMA yang kemudian meredup seiring hadirnya pemahaman bahwa Psi a la The X-Files, Psi Factor, Star Trek: The Next Generation, Sea Quest DSV, dan Babylon 5 tidak terdapat di dalamnya. Pada Parapsikologi-lah saya kemudian memperoleh kesenangan meskipun lagi-lagi tidak bertahan lama karena kemudian saya mengembangkan pemahaman sendiri akan dunia-Psi bahkan dalam skala yang lebih luas daripada sekadar telepati dan telekinetik. Apa pun itu, menjadi bagian dari generasi yang lahir pada awal 80-an dan menjadi saksi dunia 90-an merupakan berkah tersendiri karena meskipun tontonan baik serial televisi maupun film tidak sememborbardir dalam segala aspek seperti saat ini, mereka tetap memiliki daya bentuk yang luar biasa terhadap kerangka berpikir tentang manusia dan kemanusiaan, juga tentang semesta fisikal dan terindera yang di dalamnya senantiasa berkeredap realitas bernuansa Psi.

~Bramantio