Ibu, Anak, Supranatural

Keruntuhan rangkaian kepingan domino imajiner ternyata tidak berakhir kemarin malam ketika Psi membumi bersama air langit namun berlanjut hingga pagi yang kembali menjadi milik Helios setelah beberapa hari kemarin lebih sering diambil alih Batara Indra ayahanda Arjuna (apa sih). Ini seperti ketika beberapa bulan yang lalu saya mengalami hashtag in the mood for parallel universe dan selama beberapa hari seolah didampingi sesosok muse yang saya bayangkan berbentuk kucing hitam bermata sebening air bertelinga besar dengan daya Cheshire Cat Alice in Wonderland sehingga papan ketik laptop menjelma sesuatu yang ngangeni, kali ini saya mengalami katakanlah hashtag in the mood for supernatural yang tentu memiliki skala lebih luas daripada semesta paralel. Sesaat sebelum merem yang ternyata tidak terlalu pulas ngêlêkêr karena terbangun oleh sejumlah mimpi spuki-spuki-gimana-gitu dan batuk mendadak yang tidak disebabkan oleh rasa gatal di tenggorokan namun seolah baru saja tersedak ngengat yang bukan Acherontia styx legendaris di Silence of the Lambs seperti bocah di Possession, tiba-tiba saya menirukan panggilan Samara pada Rachel di muara The Ring Two pada salah satu adegan horor terkeren yang pernah saya tonton: Mommyyyyyhhhhh, tanpa disertai meremangnya bulu kuduk karena saat itu belum memasuki jam rawan yang berada di antara satu hingga tiga dini hari, dan saat itulah tebersit di dalam pikiran saya sebuah pola pada sejumlah film.

The Ring Two dan pendahulunya The Ring yang lebih saya sukai karena sinematografinya yang murung kebiruan berhasil menghadirkan nuansa horor sekaligus puitis merupakan remake film Jepang yang bercerita tentang sepenggal kehidupan ibu dan anaknya ketika berhadapan dengan kaset video astajim! yang membuat penontonnya menerima panggilan telepon dari entah-siapa yang hanya berujar “Seven daysss” pascatayangan lalu tewas tujuh hari kemudian dengan muka penyok dan ruangan becek. Relasi ibu-anak ini juga saya dapati pada Dark Water, sebuah film horor melankolis karena menghadirkan visualisasi kripi sekaligus perasaan mencelos berkaitan dengan pemahaman implisit tentang demikianlah yang sebenar-benar ibu. Selain itu, ada pula The Sixth Sense dengan tagline-nya yang populer “I see dead people”. Keempat film ini sama-sama berpusat pada ibu dan anaknya yang tidak sekadar korban kebrutalan pengalaman horor untuk kemudian lambut-laun mengatasinya namun juga memiliki satu hal yang bisa dicetak tebak untuk kemudian dipikirkan kembali: ibu di film-film ini adalah orangtua tunggal. Jadi, apakah lantas segala horor yang mereka alami adalah semacam representasi atas horor yang mungkin dialami oleh ibu yang orangtua tunggal, atau katakanlah orangtua tunggal pada umumnya? Entahlah. Nanti-nanti saja dipikirkan kembali.

Selain keempat film tadi, apabila saya merunut lebih jauh ke belakang, saya berhasil menjumpai The Exorcist sebagai horor klasik yang menghadirkan relasi ibu dan anak. Berbeda dengan ibu-ibu di The Ring, The Ring Two, Dark Water, dan The Sixth Sense yang menjadi kawan baik bagi anak-anak mereka dalam menghadapi dan menyelesaikan problematika horor meskipun salah satu di antara ketiga ibu pada akhirnya tewas, ibu di The Exorcist alih-alih bisa memperoleh dukungan daya positif dari anaknya, ia justru harus berhadapan dengan liyan parasit yang menjadikan anaknya sebagai inang. Hal senada sempat hadir juga pada The Ring Two namun dampaknya tidak seekstrem di The Exorcist. Terlepas dari film-film ini yang berakhir melegakan, citra yang demikian membuat saya membayangkan berada di posisi mereka: berusaha mencari solusi untuk membebaskan si anak dari liyan parasit yang apabila gagal akan berdampak pada hadirnya fakta lain yang tentu lebih destruktif yaitu bertransformasinya si anak menjadi liyan dan mungkin di kemudian hari juga menjadi saksi tanpa daya atas tingkah-polahnya mendatangkan derita bagi orang lain, atau mengambil langkah cepat dan praktis yaitu dengan membunuh si anak.

Meskipun tidak sepenuhnya sama, relasi ibu dan anak berbalut horor juga pernah saya dapati pada Rosemary’s Baby. Film ini sempat membuat saya pusing karena gagal untuk benar-benar memahaminya ketika menontonnya untuk kali pertama pada saat berusia belasan tahun, juga ngeri sendiri dengan suasana yang dikonstruksinya melalui apartemen baru namun wingit. Horor di film ini terasa lebih mencekam karena tidak disebabkan oleh yang ksatmata namun oleh teror jabang bayi di dalam kandungan si ibu dengan segala ketidakpastiannya apakah benar-benar berkaitan dengan hal-hal supranatural atau sekadar kecemasan akibat kehamilan yang bersamaan dengan pindah tempat tinggal. Berasa hamil alien Xenomorph nggak sih?

Apabila setiap karya adalah semacam refleksi pengarangnya, sejumlah film yang memperlihatkan relasi ibu dan anak di dalam ruang horor bisa pula dipahami sebagai realisasi atas ketaksadaran kolektif berkaitan dengan sejumlah hal yang sama. Satu, menjadi orangtua yang sebenar-benar orangtua bukanlah sesuatu yang dapat begitu saja sekadar dianggap sebagai pencapaian untuk dipamer-pamerkan dan dibangga-banggakan, tetapi merupakan beban yang bukan alang-kepalang beratnya, lebih-lebih ketika harus mengambil keputusan yang adakalanya sekadar menyediakan pilihan-pilihan yang sama-sama menyesakkan tentang yang terbaik bagi si anak, bukan dalam perspektif orangtua namun sepenuhnya dalam perspektif anak, dan tentu saja yang demikian tidak mudah dilakukan karena sebagai yang menjalani hidup lebih awal orangtua tentu beranggapan bahwa merekalah yang paling memahami ini-itu. Dua, melepas orang-orang tercinta adalah seberat-berat hal yang ditanggung oleh manusia, senantiasa ada keinginan untuk mempertahankan sekalipun ia memahami bahwa ia akan lebih sehat ketika melepas meskipun tentu diawali dengan mahalara mahaduka. Tiga, horor tidak selamanya berkaitan dengan monster-monster mengerikan dari dunia-bawah namun lebih sering berwujud hal-hal yang tidak terjelaskan, yang supranatural, dan adakah jalan yang lebih baik selain berdamai dengan yang demikian?

#inthemoodforsupernatural

~Bramantio