X-Men, Edge of Tomorrow, Kesempatan Kesekian

Praskriptum: tulisan ini membocorkan cerita.

Tiga bulan delapan belas hari telah berlalu sejak terakhir kali saya mengunggah tulisan di blog ini sebagai katakanlah penutup rangkaian pendek #inthemoodforsupernatural. Selama rentang masa tersebut betapa saya ingin menulis lagi dan lagi dan lagi namun tidak satu pun berhasil saya realisasikan, bukan karena saya disibukkan oleh urusan kampus yang seringkali… ugh… puhliesss, bukan juga oleh proyek fabrikasi cepen-cerpen untuk menjelma antologi, tetapi lebih disebabkan oleh proyek “Menikmati Hidup” dan “Merayakan Pencapaian Usia Paripurna Yesus Kristus”. Yoa! Alhamdulillah.

Berawal dari suatu sore selepas jam kerja ketika saya berkumpul bersama kawan-kawan single fighter—meskipun salah satunya kami curigai tidak lagi bersolo karier dan telah menemukan teman duet yang sayangnya hingga kini tidak pernah diakuinya padahal telah banyak saksi atas lantunan lagu-lagu cyntah mereka dari sejuknya mall hingga sumuknya bengkel dan kami pun tentu bersuka cita atas kebahagiaan mereka—di sebuah ruangan yang telah menjadi markas-tidak-resmi kami diiringi entah beberapa potong pizza dan kawan-kawannya atau beberapa porsi nasi goreng plus telor ceplok, saya nyeletuk ingin pergi ke Taman Safari Prigen, yang kemudian disambut dengan antusiasme. Bahkan, keesokan harinya—atau beberapa hari kemudian?—kami melakukan test load alih-alih test drive Vito untuk memastikan ia muat untuk enam orang atau tidak. Hasilnya, muat meskipun tentu tidak nyaman. Bagaimanapun, karena kami berniat bersenang-senang saja, hal yang demikian tidak kami permasalahkan, lagipula perjalanan toh tidak lama-lama amat. Sayangnya, pada hari keberangkatan, sekitar satu jam setelah azan subuh salah satu dari kami menyatakan batal ikut karena harus mengantar adiknya tes wawancara—betapa baik si kakak satu ini.

Kami berangkat dari Surabaya pada pukul enam supaya nantinya tidak suntuk dengan kemacetan yang mungkin terjadi dan tentu saja supaya memiliki peluang lebih besar untuk menikmati perjalanan meskipun ya begitu-begitu saja. Dan beberapa jam kemudian Taman Safari pun seolah menjelma taman bermain yang rindang dan sejuk bagi lima bocah. Betapa tidak, binatang-binatang ternyata memiliki potensi melucu yang saking subtilnya hanya bisa merekah dalam penglihatan kami yang memang seringkali berotak topsy turvy dan membuat mobil terasa sesak oleh tawa ngakak. Belum lagi area kolam renang yang entah mengapa pada hari itu meskipun akhir pekan begitu sepi sehingga kamilah yang menjadi pusatnya, ke sana-ke mari dari satu kolam ke kolam lain, mecobai piranti-piranti di sekeliling kolam yang beberapa di antaranya sayangnya telah rusak, menapaki tangga menara perosotan untuk meluncur meliuk zigzag berkali-kali pada ban tembem kuning, dan menjadikannya semacam kolam renang pribadi di bawah guyuran hujan. Keceriaan masih ditambah dengan berjalan berpayung ke lokasi permainan dan sangkar-sangkar binatang termasuk kotak kaca berisi ular-ular dan tangki berisi pinguin-pinguin. Sorenya kami menuju Alun-Alun Batu untuk sekadar pipis di toilet berbentuk apel dan membuat saya sempat merasa dikerjai, membeli susu murni rasa ini-itu dan yoghurt yang salah rasa, mupeng menikmati udara malam dengan berputar lambat di roda gigantik kelap-kelip namun kami batalkan karena terlalu malas mengantre, dan kemudian bermalam di sebuah rumah di Songgoriti hanya untuk tidur beberapa jam menjelang subuh karena malam hingga dini hari kami gunakan untuk nonton Possession yang semestinya horor namun justru lebih terasa komedi akibat cara berpikir kami, dengan jeda menyantap durian yang tentu saja saya tidak yang termasuk melakukannya karena… karena… ini durian, dilanjutkan Knowing dengan setengah sadar namun tetap terasa menghentak pada bagian pesawat terbang kandas dan kereta api keluar jalur. Lalu hening hingga subuh. Dua jam menjelang pukul sepuluh terjadilah sesi curhat tanpa rencana dan di situlah momen ketika kawan menjadi sebenar-benar kawan. Liburan sehari semalam diakhiri dengan mendinginkan lidah di kedai eskrim tempo dulu di salah satu sudut jalan di Malang dan bersantap siang merangkap sore di rumah makan berlabel nama seseorang yang pernah menjadi gebetan salah satu dari kami di Sidoarjo.

Menjelang Nyepi, tanpa saya rencanakan saya terseret—atau lebih tepatnya menghanyutkan diri pada—arus kawan-kawan yang berlibur ke Bali. Liburan ini sebenarnya telah mereka rencanakan sekitar akhir tahun lalu, membeli tiket pesawat pergi-pulang yang jika ditotal harga dasarnya hanya seratus ribu rupiah, yoa, seratus ribu, ini serius. Beberapa hari sebelum keberangkatan, salah satu dari kuartet mengundurkan diri dengan alasan yang tidak jelas, setidaknya bagi saya sih. Saya pun mendapat tawaran untuk bergabung dan langsung saya setujui dengan browsing tiket pada pergantian Selasa menuju Rabu. Kami berempat berangkat dalam tiga babak: Jumat pagi, Jumat siang, dan Sabtu pagi. Di Bali saya berhasil mengaktifkan secara penuh moda liburan tanpa memusingkan segala sesuatu berkaitan dengan waktu atau jadwal atau destinasi, yang penting bersenang-senang bersama kawan-kawan. Jumat malam: kami sekadar beputar-putar dengan sepeda motor dan berjalan-jalan di sekitar Kuta, saling memotret bahkan ber-selfie ria dengan bukan kamera ponsel, makan di warung yang rendangnya cukup asoy, sempat kecele ketika berniat nongkrong di sebuah gerai yang ternyata sudah pindah dari mall yang saya lupa namanya, memesan pizza dan kawan-kawannya menjelang gerai tutup untuk kami makan di kamar hotel. Sabtu: setelah menjemput seorang kawan di bandara, kami bersepeda motor siang bolong menuju Kintamani, sempat berhenti sekitar satu jam di sebuah rumah makan di tubir tebing bukan sekadar untuk makan namun lebih ke… ya… berfoto sebanyak-banyaknya bahkan beberapa kali memindah tripod untuk mendapatkan latar belakang beragam, dan tiba di tepi danau ketika Matahari telah lengser. Setelah puas… ya… puas berfoto-foto alih-alih menikmati suasana ngelangut danau, kami bergerak ke Ubud. Terasiring-terasiring Ubud yang legendaris tentu tidak lagi bisa ditangkap oleh mata-mata manusiawi kami namun tidak berarti kedatangan kami sia-sia, karena kami berhasil memasuki arena Tari Kecak beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai. Sangat menyenangkan menyaksikan visualisasi Ramayana dalam temaram obor di bawah langit cerah, lebih-lebih aura mistisnya yang mengambang sepanjang hampir dua jam. Minggu: kami ke Uluwatu untuk… lagi-lagi… berfoto habis-habisan, dialanjutkan ke alun-alun entah apa namanya untuk menjadi bagian dari kemriyek pawai Ogoh-Ogoh. Dalam kondisi normal, tentu saya menghindari hiruk-pikuk yang demikian karena membuat saya pusing, tetapi karena moda liburanlah yang mendominasi, saya ayo-ayo saja meskipun lebih banyak duduk diam di trotoar sambil memotret-motret wujud-wujud entah apa yang diusung oleh kelompok-kelompok yang melintas di hadapan. Awalnya saya pikir pawai Ogoh-Ogoh diiringi musik gamelan Bali yang rancak stakatto, nyatanya saya keliru karena yang lebih dominan justru musik ajeb-ajeb lengkap dengan disco ball dan laser sehingga jalanan di sekitar alun-alun menjelma arena clubbing terbuka. Sekembali dari Ubud ke hotel di daerah Kuta, kami sempat hampir melewatkan jam buka minimarket dan kehilangan kesempatan untuk menghimpun bekal Nyepi keesokan harinya karena kami berpikir jam operasional minimarket berakhir pada tengah malam. Senin: kami sepanjang hari berdiam di kamar hotel, nonton sejumlah film, menghabiskan makanan yang kami beli malam sebelumnya, nyaris melakukan uji nyali kecil-kecilan untuk berdiam selama sekurang-kurangnya lima menit di lorong hotel yang benar-benar pekat, dan mendapati yang paling mengesankan di antara hal-hal mengesankan selama di Bali: langit malam yang tidak lagi kelam namun memutih oleh bintang-bintang. Selasa: kami kembali ke Surabaya.

Berselang dua minggu pascaliburan Bali, Jumat siang selepas sembahyang mingguan, tiba-tiba muncul keinginan untuk bermain paragliding. Saya pun mencari informasi dan… ya… mendapatkan yang saya mau, sekalian booking satu kamar hotel karena saya tidak ingin kembali ke Surabaya pada hari yang sama. Sabtunya sekitar pukul enam saya berangkat menuju Songgoriti karena si narahubung menyarankan untuk tiba di lokasi dan mengudara sebelum tengah hari mengingat pada bulan itu hujan seringkali turun pada jam-jam selepas lohor. Selama perjalanan saya santai saja sekaligus sumringah karena dalam beberapa jam kemudian saya bisa merasakan mengudara bebas tanpa terkurung oleh badan pesawat terbang. Hal tersebut sempat berubah ketika saya sudah di lokasi lepas landas karena saya sempat berpikir “Serius nih?”. Bagaimanapun, hal itu tidak lama. Dan ternyata, aktivitas ini semudah satu dua tiga… dan melayang! Mengudara selama tidak lebih daripada sepuluh menit naik-turun ke kanan ke kiri sungguh melegakan dan menimbulkan gelak tawa yang membebaskan. Sekitar dua jam pascapendaratan di sebuah lapangan di tengah-tengah area persawahan, saya mendapat telepon dari kawan lama: ia akan pergi umroh dan bertanya tentang yang saya inginkan untuk kelak ia panjatkan di Tanah Suci. Dengan enteng, tentu saja, saya menginginkan partner-in-love.

Beberapa hari kemudian, di tengah-tengah jadwal rangkaian tugas negara (halah!) ke Jakarta, saya sempat berencana untuk merayakan hari kelahiran di Jogja. Bagaimanapun, hal itu tidak bertahan lama setelah saya mempertimbangkan: saya sudah beberapa kali ke Jogja sehingga meskipun kali ini saya ke sana untuk merayakan hari kelahiran, Jogja ya tetap Jogja. Meskipun demikian, saya tidak mau seratus persen membatalkan rencana tadi sehingga saya pun mencari lokasi tujuan lain. Pilihan jatuh pada Gili Trawangan. Perjalanan solo pun terjadi: saya berangkat Jumat pagi, setiba di bandara sudah dinanti oleh mobil transit bandara-hotel yang sopirnya sempat mengguratkan seraut heran ketika mengetahui bahwa saya tiba sendirian, menyewa speed boat untuk dipakai sendiri karena saya tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di perjalanan dan ribet dengan mengantre dan berbagi ruang dengan orang lain, naik cidomo a.k.a. andong sekitar sepuluh menit menuju hotel, dan bersantai di salah satu dari tujuh kamar yang mengelilingi sebuah kolam berbentuk bulan sabit tumpul. Saya sengaja memilih hotel di sisi Utara pulau alih-alih di sisi Timur yang menjadi pusat keramaian karena saya memang menginginkan sepi. Sorenya saya berjalan sekitar dua ratus meter menuju pantai dan duduk berlama-lama di sana menyimak gelegak ombak yang tidak terlalu berdebur dan menyaksikan Matahari terbenam tanpa sedikit pun pernah membayangkan bahwa pantainya akan sesepi itu. Keesokan harinya selepas sarapan saya berjalan berlawanan arah jarum jam di sepanjang setapak yang mengitari pulau sehingga laut senantiasa ada di kanan saya, beberapa kali berhenti untuk sekadar merasai sepi, mendengar gemerincing genta yang semakin lama semakin mendekat menjelang berpapasan atau dilewati cidomo yang bunyinya entah mengapa mengingatkan saya akan lampor, satu kali berhenti untuk menikmati tiga skup gelato yang rasanya tidak sebiasa biasanya karena mereka melumer di lidah pada pagi menjelang siang yang cukup terik di sebuah pulau yang bebas kendaraan bermotor dan memiliki pantai bersih, satu kali berhenti untuk makan siang di sebuah bangunan berlantai pasir pantai yang senantiasa menimbulkan gelitik mikro yang menenangkan, dan dalam tempo tidak lebih daripada empat jam saya menamatkan putaran penuh atas Gili Trawangan. Saya sengaja tidak melakukan aktivitas tralala-trilili di perairan Gili karena sekali lagi yang saya inginkan bukan bersenang-senang melainkan menyepi. Minggu, pada tiga puluh tiga tahun pascakelahiran saya, saya kembali ke Surabaya dengan bonus Pantai Senggigi yang teduh pada perjalanan menuju bandara.

Liburan ke Bali adalah sebenar-benar liburan dalam rangka besenang-senang. Bermain paragliding adalah liburan random yang berakhir pada sebuah tawaran doa-jalur-cepat. Menyepi di Gili Trawangan adalah sebuah laku (hampir) spiritual untuk mengingat hidup dan mati sekaligus merayakan segala yang telah saya capai selama ini termasuk berhasil melewati masa gelap pada sebelas bulan sebelumnya. Semuanya bermuara pada dipertemukannya saya dengan seseorang yang kini menjadi partner-in-love saya. Dan saya sangat bersyukur atas semua ini.

Andaikan ini adalah sebuah cerpen atau novel, saya telah berhasil melakukan digresi sepanjang hampir lima halaman sebelum benar-benar mencapai inti pembicaraan yang saya yakin tidak akan mencapai setengah digresi, bahkan mungkin pembaca pun sempat lupa bahwa sebenarnya cerita tentang liburan adalah sekadar basa-basi pembuka. Hehehe. Oke, oke, sekarang fokus. Di tengah hari-hari saya yang semakin terasa sehat dan menyehatkan, saya nonton X-Men: Days of Future Past. Terlepas dari kualitasnya yang memang bagus, film ini terasa istimewa bagi saya karena hadir pada saat saya kembali menemukan keyakinan akan kebaikan sekaligus betapa segala jatuh-bangun seseorang akan mengantarnya ke semesta yang tidak diduganya. Banyak hal mengesankan yang saya jumpai di film ini: Ellen Page sebagai Shadowcat yang tidak banyak bergerak namun produksi suara dan mimiknya mampu menggambarkan kedewasaan orakeliah yang bahkan melebihi senior-seniornya, portal-portal ciptaan Blink yang sekilas mengingatkan saya akan adegan bakuhantam di Thor: The Dark World namun tentu saja lebih menarik karena mereka adalah portal-portal aktif dan… fuchsia, Sentinel generasi kesekian yang berupa hibrida mutasi setiap mutan khususnya transformasi morfologi Mystique, relasi cinta-benci Charles dan Erik yang terasa lebih verbal daripada yang tampak pada X-Men: First Class, Quicksilver yang kocak akibat kecanggungannya dan seolah memiliki kemampuan mengendalikan waktu meskipun sesungguhnya itu semua hanya karena kecepatannya yang luar biasa yang menjadikan “adegan dapur keotik” sebagai salah satu yang paling menyenangkan untuk ditonton, dan Mystique yang pada film ini tampil berlapis-lapis sebagai individu yang terkoyak sekaligus tangguh. Sepanjang film saya terus-menerus memikirkan “Bagaimana jika?” karena memang demikianlah film ini yang meleburkan masa lalu dan masa kini, melebur karena Wolverine tidak pernah benar-benar meninggalkan masa kini dan hanya kesadarannya yang ditransfer ke masa lalu: Bagaimana jika saya mengalami X? Akankah hidup saya seperti sekarang? Bagaimana jika saya tidak mengalami X? Akankah hidup saya sebaik saat ini? Dan betapa semua itu semakin tidak tertahankan ketika di akhir cerita saya bisa melihat lagi Jean Grey dan Scott Summers. Ada kelegaan sekaligus keharuan luar biasa ketika adegan itu muncul di layar lebar: Wolverine memiliki kesempatan kedua.

Sekitar satu minggu selepas nonton X-Men: Days of Future Past, saya nonton Edge of Tomorrow. Melalui trailer-nya yang sebelumnya telah saya tonton, saya membayangkan film ini akan menyerupai Source Code. Hanya saja, ternyata film ini lebih seru sekaligus meninggalkan kesan yang… ugh… membuat mbrebes mili. Bagi saya, Tom Cruise tampil pol, ia menghadirkan beragam persona: pengecut, agak licik, penakut, lucu, jagoan yang tidak anti-mati, dan manusia yang mencinta. Begitu pula Emily Blunt sebagai sosok tangguh yang telah menjelma mitos sekaligus bertindak sebagai pelatih William Cage yang dimainkan Cruise. Menyaksikan sosok Cage yang tanpa sengaja mewarisi kemampuan alien Mimic untuk kembali ke masa lalu ketika ia tewas dan menjalani hari yang sama berkali-kali, berlatih berkali-kali, bertempur berkali-kali, dan mati berkali-kali, untuk kembali hidup lagi dan lagi membuat saya lagi-lagi memikirkan “Bagaimana jika?”. Karakter ini tidak sekadar memperoleh kesempatan kedua namun kesempatan kesekian untuk belajar dari kesalahan dan terus-menerus memperbaiki diri. Hanya saja, pada satu titik hal itu benar-benar lenyap darinya, hal serupa juga dialami Rita Vratasky yang dibawakan Blunt yang pada awalnya juga memiliki kemampuan mengulang hari namun lenyap ketika ia menjalani transfursi darah. Dengan begitu, pencapaian Cage dan Vratasky dengan mengalahkan bos Mimic adalah sepenuhnya daya mereka, tanpa ada bekal “Kalo gw mati, gw kan bisa ngulang dari awal” seperti yang ada di video game. Yah, seseorang bisa saja memiliki kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Bagaimanapun, ada masanya ketika seseorang hanya memiliki satu jalan untuk ditempuh dan tidak ada kesempatan untuk mengulang atau bahkan sekadar kembali.

Pada akhirnya, seperti yang saya tulis di akun socmed pascanonton Edge of Tomorrow: Betapa dua film ini membuat saya menghargai setiap momen. Lebih-lebih yang saya miliki bersama partner-in-love. Karena hidup adalah saat ini di sini, bukan kelak entah di mana.

Paling akhir, meskipun tidak berkaitan dengan kedua film tadi dan tidak saling berkaitan satu sama lain, saya ingin mengutip dua kalimat ini, satu dari trailer film, satu dari novel: “It’s very easy to be cynical about love until you have that instant connection” (Wallace, What If) dan “Kasih datang setelah kesedihan yang dalam” (Wisanggeni, Maya)

~Bramantio