Tentang Kebencian yang Diwariskan

Praksriptum: tulisan ini membocorkan cerita.

Sejak bertahun-tahun yang lalu saya memantapkan diri untuk lebih menyukai Jumat malam daripada Sabtu malam. Terlepas dari ketidaksukaan saya atas segala hiruk-pikuk ruang publik di Sabtu malam, Jumat malam senantiasa menjanjikan kedamaian Sabtu pagi yang seringkali nyaris menguarkan rasa seolah waktu membeku. Hal ini berbeda dengan Sabtu malam yang sekadar menyisakan ingatan tentang Jumat malam dan sepanjang hari itu sekaligus mengingatkan bahwa Minggu telah di depan langkah untuk kemudian kembali ke Senin dan segala rutinitas. Dan Jumat lalu saya nonton Dawn of the Planet of the Apes.

Ketika pertama kali menyaksikan trailer­-nya saya sempat khawatir film ini akan menjelma cerita perang yang tidak mengendapkan apa pun setelahnya. Bagaimanapun, seperti yang saya peroleh dari Rise of the Planet of the Apes beberapa tahun yang lalu, film ini berhasil melampaui harapan saya akan sebuah tontonan. Bahkan, selepas menontonnya, saya menulis di akun Twitter saya: “Dawn of the Planet of the Apes. Impresif. Lebih-lebih ketika ditonton pada masa pilpres seperti saat ini. Bisa belajar banyak dari Caesar. Film ini juga mengingatkan bahwa perang ada karena kebencian dihembuskan, diajarkan, dan diwariskan.”

Sejak rangkaian adegan pembuka, film ini langsung tancap gas dengan perburuan yang dilakukan oleh kawanan gorilla pimpinan Caesar. Ada aroma The Dark Knight Rises. Audiens yang tidak menonton Rise mungkin bertanya-tanya tentang kemampuan berbahasa kawanan tersebut namun bukanlah gangguan yang berlarut-larut karena ada penjelasan yang meretih di sepanjang film. Begitu pula tentang koloni kera.

Saya terpesona oleh Caesar. Ia langsung mengingatkan saya akan Aslan di Narnia sebagai sosok yang disegani. Hanya saja, Aslan lebih mengarah ke filosofer, sedangkan Caesar adalah pemimpin. Apabila ditilik ke belakang, Caesar tidak sekadar berkedudukan sebagai pemimpin, ia serupa Yang Perdana, Adam bagi koloninya karena ialah yang mengajarkan bahasa untuk menyebut benda dan bukan benda. Citra tentang cerita Adam kembali hadir dalam peristiwa kudeta yang yang dilakukan Koba, mengingatkan saya akan relasi Abel dan Kein, dua bersaudara yang saling baku-hantam.

Meskipun tidak memiliki ikatan darah, selain pada Caesar dan Koba, relasi serupa juga saya jumpai pada Malcolm dan Dreyfus, dua lelaki yang memiliki prinsip berlawanan dalam menyikapi Simian Flu yang telah meluluhlantakkan hampir seluruh populasi manusia. Pertemuan Malcolm dengan Caesar menjadi titik awal konflik. Dreyfus menganggap kera harus dibasmi karena mereka menularkan virus letal bagi manusia tanpa sedikit pun mengingat sejarah virus tersebut yang berasal dari eksperimen terhadap kera yang kemudian berhasil membebaskan diri dari laboratarium. Sebaliknya, Malcolm memiliki pemahaman bahwa Caesar dan koloninya sekadar menginginkan manusia menjauhi habitat mereka yang sayangnya menjadi lokasi bendungan pembangkit listrik yang dibutuhkan manusia untuk menyokong arus komunikasi mereka dengan manusia di wilayah lain.

Pada titik ini, Koba seolah menjadi sosok yang paling bertanggung jawab atas invasi koloni kera ke kota yang memakan korban pada kedua belah pihak. Meskipun demikian, apabila dirunut ke belakang, yang dilakukan Koba sesungguhnya sekadar aplikasi atas yang secara tidak langsung diajarkan kepadanya oleh manusia selama ia berada di laboratarium. Koba memiliki pengalaman traumatik sehingga ia senantiasa menyimpan kecurigaan kepada manusia dan langsung meledak ketika ada sebuah peristiwa yang membenarkan kecurigaannya, untuk kemudian ia tularkan kepada sebagian koloni kera. Hal ini berbeda dengan Caesar yang menghabiskan masa kecilnya dengan penuh kasih dari Will sehingga ia memiliki daya kompromi lebih besar sekaligus mampu untuk memercayai Malcolm, dan penemuannya di muara cerita atas rekamanya ketika diajari bahasa isyarat oleh Will sempat membuat saya nyesek: ada keindahan yang begitu sederhana dalam situasi yang penuh kehancuran.

Perang yang terjadi di Dawn bukan semata-mata karena kebencian namun lebih pada keegoisan cara pandang manusia yang cenderung mengabaikan cara pandang siapa pun yang dianggapnya liyan dan inferior. Ada wilayah-wilayah yang semestinya tidak perlu dilanggar namun tetap mereka masuki, yang ketika mendatangkan malapetaka justru mereka salahkan bahkan binasakan tanpa sekali pun mencoba untuk becermin kembali dan merenungkan siapa yang sesungguhnya mengawalinya.

Sekali lagi, perang ada karena kebencian dihembuskan, diajarkan, dan diwariskan. Berkali-kali. Terus-menerus.

~Bramantio


About this entry