Tentang Merasa Cukup

Sabtu minggu lalu menjadi salah satu hari ketika saya berpijak pada titik out of the box, bukan out of the box dalam skala jarak yang terbentuk oleh nadir Rekahan Mariana dan puncak Gunung Everest. Bagaimanapun, itu tetap out of the box bagi saya yang senantiasa merasa nyaman mendekam di kamar sambil membaca fiksi atau mengetik masa depan atau mengulang nonton film yang beberapa di antaranya bahkan tidak lagi saya ingat sudah berapa kali saya tonton atau berbaring sambil membaca sejumlah berita terbaru di layar ponsel atau sekadar tidur berlama-lama. Hari itu saya memutuskan untuk ngemol plus nonton The Fault in Our Stars yang pada awalnya sama sekali tidak menarik minat saya.

Saya belum membaca bukunya sehingga bagi saya film ini dibuka dengan narasi yang cantik: tentang klise kehidupan yang dibayangkan oleh kebanyakan remaja, yang kemudian berbeda jauh ketika sudah menjejak realitas. Saya pun mendapati diri saya terpesona oleh Shailene Woodley yang terakhir kali saya tonton di Divergent: ada melankolia subtil yang dihadirkannya sebagai Hazel yang menderita kanker paru-paru sekaligus keberterimaan atas dirinya sendiri yang sedang sekarat. Juga ada Laura Dern yang pertama kali saya kenal melalui Jurassic Park: yang memberikan kehangatan di sepanjang film sebagai ibu yang pernah nyaris kehilangan anaknya lalu menapaki hidupnya dengan berdiri di sisi pipih koin hidup-mati Hazel yang setiap saat bisa membuatnya terpeleset.

Pertemuan Hazel dengan Augustus sempat membuat saya khawatir cerita akan bergulir menjelma melodrama-manis-memuakkan namun sukurlah kekhawatiran tersebut tidak menemukan alasan untuk membumi. Sebaliknya, cerita justru menghadirkan sejumlah kelokan yang membuat saya lagi-lagi merasa diingatkan bahwa senantiasa ada kebaikan di muka Bumi yang semakin bopeng dan renta ini. Di antara sekian banyak scene mengesankan, bagi saya yang terbaik adalah ketika trio Hazel, Augustus, dan Isaac mengadakan upacara prapemakaman, yoa, prapemakaman. Betapa kalimat-kalimat yang mereka lontarkan bahkan menyeruakkan kepiluan yang bahkan jauh melampaui ketika upacara pemakaman itu benar-benar datang. “Some infinities are bigger than other infinities,” kata Hazel. Pada momen itu, suasana ruangan bioskop serupa dengan ketika Gwen Stacy tewas.

Hazel dan Augustus adalah manusia biasa yang tidak biasa karena mereka memiliki kesadaran akan kematian yang begitu dekat namun tetap menjalani hari-hari seolah semua orang mengalami yang mereka alami. Segala keterbatasan mereka tidak lagi keterbatasan karena pada akhirnya ketakutan salah satunya akan menjadi terlupakan seiring waktu terkikis oleh pemahaman bahwa pada hakikatnya hanya dibutuhkan satu orang untuk membuat seseorang tidak terlupakan, bukan pula seberapa banyak sisa waktu yang mereka miliki namun seberapa banyak yang bisa mereka lakukan dalam sisa waktu tersebut. Bukankah, kata Hazel, ada angka yang tidak terbatas di antara 0 dan 1?

Pada akhirnya, film ini mengingatkan bahwa pada satu titik, merasa cukup atas yang kita miliki, apa pun itu, adalah yang paling penting.

~Bramantio


About this entry