Konferensi DMO 2014

DMO 2014Sebagaimana diamanatkan oleh UU.No.10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pemerintahan pada masa Susilo Bambang Yudoyono telah menetapkan RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010 – 2025 (PP.No 50/2011). Dokumen tersebut menjadi penanda suatu babakan baru dalam dinamika pariwisata Indonesia, melaluinya sektor kepariwisataan Indonesia kian diharapkan dapat berkontribusi bagi pembangunan.

Terdapat satu bagian penting yang baru diperkenalkan melalui dokumen tersebut yakni; Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Keduanya adalah suatu pengelompokan kawasan yang memiliki berbagai komponen utama kepariwisataan, memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional dan seklaigus mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek (ekonomi, sosbud, hankam, lingkungan). Yang menarik kemudian adalah apa yang menjadi implikasi dari pengelompokan kawasan tersebut, yakni lahirnya suatu model tata kelola destinasi pariwisata yang dikenal melalui Destination Management Organization (DMO).

Sekilas DMO
Dalam buku Pedoman Umum DMO (Kemenparekraf), DMO dinyatakan sebagai tata kelola destinasi pariwisata yang terstruktur dan sinergis yang mencakup fungsi koordinasi, perencanaan, implementasi dan pengendalian organisasi destinasi secara inovatif dan sistemik. Fungsi-fungsi tersebut kemudian dilaksanakan melalui pemanfaatan jejaring informasi dan teknologi yang terpimpin secara terpadu dengan peran serta masyarakat, pelaku/asosiasi, industri, akademisi dan pemerintah. Adapun tujuan akhir dari kehadiran DMO adalah untuk kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan, volume kunjungan wisata, lama tinggal dan besaran pengeluaran wisatawan serta manfaat bagi masyarakat lokal. Dengan kerangka pemahaman semacam ini DMO mestinya identik dengan program yang berbasis partisipasi dan keberlanjutan.

Pesan dari Konferensi DMO 2014
Sejak diinisiasi pada tahun 2010 hingga tahun 2014 tercatat telah terbentuk 16 DMO dan 9 DMO dalam tahap persiapan. Dalam rangka mengevaluasi, membangun jejaring antara DMO, dan terus mengembangkan kinerja DMO setiap tahunnya, diadakan konferensi DMO yang difasilitasi oleh Kemenparekraf. Berikut adalah pesan akhir dari keseluruhan rangkaian Konferensi DMO 2014 yang disusun oleh tim perumus konferensi tersebut:

Prospek:
• Adanya keinginan pemerintah pusat maupun provinsi untuk mendorong pengembangan pariwisata melalaui konsep DMO
• Sumberdaya alam dari masing –masing cluster DMO memiliki potensi yang besar, keunikan yang tinggi sebagai daya tarik untuk dikembangkan.
• Adanya perubahan paradigm berwisata baik dari wisman maupun wisnus dari model konvensional ke minat khusus.
• Ditetapkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015 menjadi pemicu daya saing pariwisata.
• Peluang untuk menyinergikan peraturan antar lembaga baik di pusat maupun daerah.
• Munculnya wirausahawan baru.

Tantangan & Pendekatan:
Masing–masing DMO memiliki tantangan yang berbeda sehingga pendekatan yang digunakan untuk mengatasi tantangan tersebutpun berbeda:
• Masalah infrastruktur, aksesibilitas dan pengelolaan lingkungan
• Kelembagaan dan kompetensi SDM
• Koordinasi lintas sektoral
• Program yang belum terintegrasi antar pemangku kepentingan
• Diversifikasi produk wisata
• Perbedaan adat, nilai dan budaya
• Pengelolaan daya dukung destinasi

Rekomendasi:
1. Koordinasi dan integrasi program lintas sektor terutama tingkat pusat
2. Peningkatan keterampilan dan kompetensi SDM
3. Penguatan kelembagaan baik di tingkat daya tarik dan destinasi
4. Adanya program DMO yang berwujud dan bermanfaatn dalam jangka pendek
5. Mendorong program DMO untuk meningkatkan kerja sama dengan lembaga bukan pemerintah, nasional maupun internasional
6. Legalisasi kelembagaan DMO

Jakarta, 16 Oktober 2014


About this entry