Pesan Tak Singkat

I

Tiba-tiba pesan yang tak singkat itu muncul di genggaman. Pesan dari kawan yang telah lama tak  bersua.

“semakin berisi kepalamu, semakin malas terlibat dengan perbincangan ga tentu arah dan bobot…, maka semakin sulit lah nemuin kawan berbincang…, kehilangan terbesar gw atas kalian adalah kawan berbagi.. terutama kau bung”.

Demikian pesan itu mengundang tanya dalam benak, ada apa dengan kawanku yang satu ini? Mengapa tiba-tiba ia berpesan seperti itu? Apakah ada sesuatu yang hendak tumpah dari benaknya?

Memang dahulu, dikala masih muda, beda dan berbahaya, tidak ada satupun perihal, peristiwa, dan apapun itu yang tidak kami perbincangkan, bahkan perdebatkan. Masing-masing menjadi lawan tanding dari berbagai sudut pandang dan argument yang dikemukakan. Sebut saja mulai dari tentang Tuhan,kepercayaan, eksistensi, cita-cita, mimpi dan harapan, politik, kerusuhan, tentang relasi antar manusia, tentang alam dan semesta, dan lain sebagainya.

Seingatku memang kelompok kecil kami itu terdiri dari berbagai macam latar kepala yang berbeda-beda, ada yang seniman, ada yang fotografer, ada yang jurnalis cum aktivis, ada pula praktisi bisnis, praktisi keuangan, akademisi, spiritualis, hingga profesi-profesi “gelap” yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Belum lagi kalau merujuk pada latar budaya dan gaya masing-masing.

Harus diakui bahwa kekayaan latar belakang itu yang menjadi salah penyedap dalam diskusi-diskusi kami. Masing-masing datang dengan bekal pemahamannya atas suatu topic yang sarat dengan subjektifitas tingat tinggi. Emosi seringkali berperan besar sebagai bumbu lainnya. Memang ada satu saat dalam kemudaan kami, dialog itu tidak melulu berotak melainkan berotot. Namun semakin bertambahnya usia pemaksaan otot tidak lagi menarik, urat pun lebih tertib. Seingatku, terakhir kali jumpa diskusi kami kian bijak.

Ada kalanya terbesit keinginan untuk menghadirkan kembali forum perbincangan semacam itu lagi. Memang forum kami itu boleh dikatakan komprehensif, bukan hanya ada hal-hal yang telah saya sampaikan diatas tadi, namun juga ada tawa, canda, permainan, cita rasa estetis dalam berbagai bentuk, hingga aktivitas alam bebas dari dataran tinggi hingga pesisir.

Memang tidak ada yang dapat menggantikan forum cadas itu dalam ingatan. Namun ia tinggal ingatan, ia tidak dapat diulang persis sama seperti peristiwa aslinya. Ya, segala sesuatu berubah, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Lain dulu lain sekarang. Kini masing-masing telah menapaki jalannya secara lebih tegas. Sebagiannya ada pula yang berhasil dirumuskan dan ditajamkan melalui perbincangan kami dulu itu. Ada tantangan baru yang menghadang, ada manusia-manusia baru yang dijumpai, dan tentunya setiap kami berupaya untuk berkiprah di arenanya masing-masing.

II

“meledak lebih tepatnya, kau tau bahwa begitu banyak orang yang merasa bahwa berargumen adalah seperti melancarkan serangan terhadap ego mereka dan itu berarti tentang menang atau kalah.. dan tiba-tiba kau sudah dimasukan dalam kategori musuh…, mungkin itulah mengapa orang-orang jenius lebih memilih memisahkan diri”

Demikian pesan balasan darinya menjawab pertanyaanku apakah ada yang hendak tumpah dari benaknya?

Memang salah satu kelebihan dari forum perbincangkan kami adalah pada akhirnya kami adalah tetap kawan. Sekeras apapun kami berdebat, berselisih paham, saling menguji, namun sesudahnya tidak ada satupun yang mencoba untuk mendominasi yang lain. Setiap kita adalah kawan dan sahabat yang bebas dan setara. Tidak ada yang mencoba untuk menjadi bos walaupun ia lebih tua, atau lebih kaya sekalipun. Tidak ada pangkat-pangkatan, senioritas, atau embel-embel lainnya.

Pada titik ini memang tidak semua orang dapat diajak berargumen ataupun berdebat. Perdebatan keras memang mengandaikan posisi bicara dalam derajat yang setara, dalam ruang keterbukaan. Ditambah lagi keingininan untuk saling memahami dan belajar. Namun pada kenyataannya banyak orang ingin berlagak menjadi pengendali atas banyak hal (ilusi kendali) dan memiliki ego sebesar jagat raya yang ingin selalu dipuaskan. Disini logika menang – kalah memang tidak terhindarkan. Karena pada akhirnya perbincangan selalu diarahkan untuk kepentingan salah satu pihak atau sepenuhnya dikendalikan tanpa ingin didebat. Alhasil ketika perbincangan tidak berpihak pada kendalinya, maka serta merta anda akan dicap musuh, pengganggu. Kelakukan semacam ini bukan barang langka, yang langka adalah forum-forum perbincangan dan diskusi bebas dan setara. Tak pelak sang kawan itu merasa kehilangan.

Penggalan pesan kawan itu lantas mengingkatkan pada kisah Socrates. Socrates yang pada akhir hidupnya divonis hukuman mati, dituduh oleh kawan-kawan perbincangannya sebagai biang keladi atas penyesatan generasi muda. Ia pun dianggap tidak mempercayai Tuhan dan agama yang resmi diakui negaranya, dengan demikian ia adalah ancaman serius terhadap ketertiban umum dan harus disingkirkan.

Pertanyaan kritis-reflektif yang diajukan Socrates sebenarnya diajukan untuk mencapai suatu pemahaman yang lebih dalam. Ia mengajak setiap lawan bicaranya untuk membangun suatu argumen lanjutan yang dipicu oleh pertanyaan-pertanyaannya. Persoalannya adalah tidak semua orang rela dipertanyakan, karena jawaban dari pertanyaan itu bisa saja menggangu kenyamanan, menguak kebohongan, kesesatan berpikir atau praktek-praktek manipulatif. Kisah Socrates ini menjadi cerminan betapa ruang-ruang dialog selalu sarat dengan kepentingan. Untuk lebih jelasnya tentang cerita ini dapat dibaca di: Nails, Debra, “Socrates”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2014 Edition), Edward N. Zalta (ed.), URL = http://plato.stanford.edu/archives/spr2014/entries/socrates/

III

Akhirnya ia menutup pesannya dengan singkat, “ga tau bung.. mungkin lidah harus lebih sering ditahan aja.. he.. salam bung..”

Menahan diri untuk berbicara itu memang baik, namun tidak selamanya diam itu emas. Poin pentingnya disini adalah bukan soal menahan diri untuk tidak berbicara atau berargumen dan berdebat semata, melainkan juga turut menguji klaim-klaim dan pernyataan argumentasi kita. Pertanyaan reflektifnya adalah: apakah memang argument itu menyerang (dalam arti pernyataan yang kita lontarkan justru mencerminkan ego dan dominasi diri yang selangit). Lalu, apakah kita datang dengan sudut pandang bahwa kita telah memiliki semua pengetahuan dimuka bumi ini?

Kadang mengajak orang untuk mempertanyakan sesuatu saja sudah cukup sulit, ditambah lagi jika kita datang dengan pernyataan-pernyataan penghakiman dan tuduhan. Situasi dapat semakin diperparah jika hal tersebut ditujukan pada orang-orang yang belum saling mengenal dengan cukup dekat. Kedekatan disini adalah salah satu elemen penting. Kedekatan dalam arti sampai sejauh mana masing-masing lawan bicara mengenal ego lawan bicaranya, belum lagi menimbang kesaling percayaan, hal mana yang membutuhkan waktu bukan sebentar, melainkan investasi berbagi hidup yang cukup lama. Seperti kata petuah bijak: “besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya”. Inilah yang menurut hematku kami miliki dahulu. Semoga saja sang kawan dapat menemukan penajamnya kini.

~ Yesaya


About this entry