Yang Terjadi Akhir-Akhir Ini

Senang sekali akhirnya bisa menulis lagi setelah sekian lama melenyapkan diri demi menghidupi dimensi lain diri saya. Dan betapa sejatinya yang demikian senantiasa tidak terhindarkan. Terlebih bagi saya yang masih terikat pada mata uang duniawi.

Seperti halnya individu pencerita yang bisa memilih bercerita dari titik mana pun, saya tentu tidak akan melakukan verbalisasi atas semua yang telah terjadi sejak saya seolah tidak lagi menyentuh blog ini. Bukan karena tidak sanggup, tentu saja, melainkan karena memang ada hal-hal yang sejatinya biarlah saya simpan sendiri untuk kelak diledakkan kembali dalam bentuk yang berbeda atau memang benar-benar untuk dikubur dalam-dalam. Karena itulah, yang berikut ini sekadar remah-remah dari sekeping kukis krispi legit seluas satu tahun terakhir.

Satu. Seorang kawan baik yang telah saya kenal sejak sembilan tahun lalu sedang meragu antara akankah ia memilih jatuh sejatuh-jatuhnya tanpa peduli akan menjumpai rimba angker dengan Basilisk brutal, gurun pasir bercadas-cadas dengan Cyclops gelap mata, danau lazuardi tempat tinggal kawanan Kelpie pelahap daging hidup beserta daya bahagia yang dikandungnya, padang hijau bergunduk-gunduk landai serupa Hobbiton dan meja makan yang senantiasa penuh rasa dan aroma lezat, atau pantai berpasir sewarna lembayung dengan puri berpenjaga makhluk-makhluk air jelita keturunan Poseidon; ataukah justru sibuk mempersiapkan segala piranti pengaman: tali, jaring, parasut, perban, antiseptik, tabung oksigen, senter, bahkan GPS yang mungkin diperlukan ketika kelak ia benar-benar tesesat dalam labirin yang tidak dihuni Minotaur melainkan Monster-Patah-Hati dengan sedu-sedan abadinya sementara Ariadne justru berasyik-masyuk dengan Theseus di ruang sebelah hingga lalai mengurai benang penyelamat. Pada suatu malam di antara sekian banyak malam yang kami isi dengan dialog jarak jauh, ia berencana menggunakan lagu Raisa “Jatuh Hati” untuk menyatakan yang dirasakannya kepada seseorang yang telah dikenalnya sejak semester kedua tahun lalu. Melalui tautan yang dikirimnya, saya pun berkenalan dengan lagu ini, dan betapa klip videonya membuat saya jatuh hati, terlebih lagi ada lirik ini: “Ku tak harus memilikimu. Tapi bolehkah ku selalu di dekatmu.” Ugh #mimisan. Beberapa hari kemudian, saya mengirim tautan itu kepada seseorang yang selama dua bulan terakhir menjadi salah satu yang memercikkan kebahagiaan tersendiri bagi saya dan menjadikan hari-hari saya terasa mengalir lebih bersahabat meskipun harus suntuk dengan urusan kampus. Selepas itu, saya berkabar kepada kawan saya sambil dengan cengengesan meminta maaf karena memakai idenya. Semua itu sekadar pembuka jalan yang bermuara pada momen-yang-sesungguhnya ketika yang saya rasakan benar-benar dipahami X dengan baik. Alhamdulillah.

https://www.youtube.com/watch?v=9gY0vpjbDuA

Dua. Ada obrolan panjang nyaris Socratesian tentang “Ungkapkan Rasa, Nyatakan Cyntah, Rayakan Hidup” dengan dua kawan baik lainnya selepas sama-sama nglembur Sabtu di kampus, diselingi sesi makan malam nasi plus tempe, ikan asin, dan lele lengkap dengan sambal sebenar-benar sambal yang terasa seksi dan tentu saja lalapan, hingga satu jam menjelang tengah malam dan masih berlanjut di luar kampus hingga dua jam menjelang subuh. Hal itu berawal dari tindakan saya yang bagi mereka tampak begitu enteng ketika nembak seseorang seolah tanpa memikirkan konsekuensi apa pun yang mungkin muncul sesudahnya. Saya pikir memang demikianlah semestinya: senantiasa jujur pada diri saya sendiri, pada yang saya rasakan, dan bukan sebuah dosa ketika pada siapa rasa itu tertuju saya pun mengalamatkan pernyataan. Saya memang tidak pernah memikirkan konsekuensi yang mungkin muncul mengikuti tindakan yang demikian, karena hakikat menyatakan perasaan adalah menyatakan perasaan, bukan akankah kami bisa bersama atau tidak di kemudian hari. Terlebih lagi, dan ini yang saya pikir adalah akarnya: saya tidak ingin suatu hari menyesal karena tidak pernah membuatnya mengetahui bahwa betapa saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya meskipun tidak sedang melakukan apa-apa. Lagi-lagi, bukankah esensi kebersamaan adalah kebersamaan itu sendiri alih-alih bersama-sama untuk melakukan ini dan itu? Yang lebih parah, dan semoga saya atau siapa pun tidak pernah mengalaminya: ketika seseorang yang kepadanya kita menaruh rasa tidak pernah tahu bahwa kita menaruh rasa kepadanya hingga suatu hari dengan entengnya ia berujar “Heh. Gw mau ngomong nih. Lo tau gak? Dulu tuh gw demen banget sama lo. Sumpah! Tapi, lo lempeng aja gitu. Malesin deh. Jadi, gw pikir yawdahlah, mending sama yang lain aja.” OMG! Holy shiiiiit…ake mushroom! #mentolomatek

Tiga. Satu minggu kemudian, saya memutuskan ke Jogja, tanpa rencana, tanpa agenda khusus. Gagasan itu muncul begitu saja ketika menyadari betapa lucu menghabiskan waktu pergi-pulang di dalam kereta api adem dengan harga yang bahkan tidak melampaui sepotong steak majestik Holycow, lalu berkeliling acak di kota yang bagi saya senantiasa terasa hidup dalam gerak lambat namun tidak membosankan. Saya tinggal selama dua malam di sekitar Malioboro, bukan karena saya menyukai keramaian jalan legendaris itu, melainkan karena dekat dengan stasiun dan saya toh memang ke Jogja dalam rangka lucu-lucuan saja. Menjelang hari kedua, saya memutuskan ke Candi Prambanan, dan kompleks candi ini ternyata menghadirkan kesenangan tersendiri melampaui yang saya bayangkan. Saya tiba sekitar pukul delapan tiga puluh sehingga suasana masih nyaman karena terik Matahari belum begitu terasa, ditambah lagi bukan musim liburan atau akhir pekan sehingga saya leluasa menapaki satu per satu anak tangga candi-candi dan mengambil beberapa foto. Setelah merasa cukup dengan segala nuansa yang saya himpun selama beberapa jam, saya memutuskan cabut dari bingkai Candi Prambanan.

Candi

Dalam perjalanan menuju gerbang keluar, saya mendapati papan tanda Candi Sewu, yang tidak jauh darinya ada pos penyewaan sepeda. Dengan memperhitungkan kemungkinan bahwa kunjungan itu bisa saja yang pertama sekaligus terakhir bagi saya, optimalisasi pun perlu dilakukan. Jadi, saya menyewa sepeda, menelusuri jalan mengikuti panduan panah-panah petunjuk, dan tibalah di bingkai Candi Sewu yang kondisinya tidak sebaik bingkai Candi Prambanan. Bagaimanapun, aura yang ditawarkannya ternyata lebih mengena bagi saya dibandingkan bingkai sebelumnya, lebih mendamaikan. Siang itu ketika saya memasuki bingkai, tidak ada pengunjung lain, dan mungkin karena itu pula saya lebih merasa nyaman di bingkai ini. Menjelang tengah hari, saya pun benar-benar meninggalkan kompleks.

Sebelum kembali ke hotel, saya menuju sebuah rumah yang terletak di gang kecil perkampungan di belakang Institut Seni Indonesia demi sepiring nasi dan mangut lele Mbah Marto. Saya mengenal kulinari eksostis ini tahun lalu dan betapa lele berlumur tiga dari tujuh dosa mematikan ini—memicu nafsu makan, membuat tamak karena menginginkannya lagi dan lagi dan lagi, lalu menghadirkan rasa malas sesudahnya akibat kenyang paripurna—yang disebabkan oleh bumbu pedas-gurihnya yang menjadikan siang semakin panas dan mampu mengisi kekosongan di dalam relung ingatan saya akan kulinari khas Jogja yang tidak pernah terisi oleh gudeg yang bagi lidah saya senantiasa terlalu manis.

Dari kediaman Mbah Marto, saya langsung ke hotel untuk melanjutkan menyunting cerpen-cerpen saya, merekam beberapa lagu dari drama musikal Les Miserables, melanjutkan membaca The Girl on the Train, dan bermalas-malasan.

Keesokan harinya, dalam perjalanan pulang ke Surabaya, inilah yang mengada di dalam ponsel saya:

1/

“Apa rencanamu selanjutnya?” tanyamu malam itu.

“Kamu tahu, ada jarak yang tak senantiasa ramah di antara kita.

Juga waktu yang terasa berlarat-larat.”

“Semua itu pupus pada detik

ketika aku memberimu kepastian akan kita,” kataku.

“Benar, kan?”

Kamu menatapku. Tanpa kata. Tanpa senyum.

Tapi, aku tahu bahwa kamu bersetuju.

2/

Pagi itu kamu gelisah.

Seolah menyimpan serpihan bara tanya

akan api masa depan.

“Kamu tidak khawatir?” tanyamu.

“Untuk apa aku merisaukan yang mungkin

sementara kita sudah punya yang pasti?

Saat ini. Di sini,” kataku.

3/

Masih ingatkah kamu

ketika kita meranggaskan malam

sekadar untuk menggagas sebuah rumah

bernama masa depan?

“Aku ingin punya naga,” katamu.

“Menarik. Bagaimanapun, aku sudah merasa cukup

dengan memiliki sekuntum kepastian

tentang semesta kita yang saling beririsan,”

kataku.

4/

Kita berdua tahu bahwa

“Mengapa kamu mau bersama aku?”

seringkali terlintas di benak banyak orang.

Kita berdua pun sepenuhnya paham

bahwa jawaban terbaiknya adalah

“Karena aku tidak ingin melewatkan

kesempatan untuk menjadi lebih bahagia.

Karena orang seperti kamu

mungkin hanya datang satu kali dalam hidupku.

Karena aku tidak ingin menanggung neraka

bernama penyesalan sepanjang hayat.”

~ Bramantio


About this entry