The Martian dan Semesta yang Tak Kenal Sabotase

Praskriptum: tulisan ini membocorkan cerita.

Akhir pekan pertama Oktober ini tidak memberi kesempatan bagi saya untuk memperpanjang usia bermalas-malasan pascasubuh sebagai kelanjutan tidur malam dan menikmati pagi lemot yang manis. Sejak Jumat malam saya berada di sekitar Waduk Selorejo, Malang untuk mempersiapkan kegiatan pelatihan bagi guru-guru Sekolah Dasar bersama rekan-rekan kampus keesokan paginya hingga selepas tengah hari. Demikian pula Minggunya, saya mengharuskan diri untuk melek semelek-meleknya dan mengabaikan selarik lelah sisa hari sebelumnya demi melunasi hutang kepada rumah untuk memberinya sentuhan yang cukup menguras tenaga demi mengelupas debu dari sejumlah bagian raganya. Hari Minggu kemarin pun terbagi menjadi enam sesi.

Sesi pertama. Saya menapaki ruangan demi ruangan rumah dengan sebilah kemoceng dan selembar lap yang pernah kaos tidur untuk memindahkan debu ke lantai untuk saya sapu pada tahap berikutnya. Saya pun menutup sesi pertama dengan mengepel lantai yang kemudian saya tunggu selama sekitar setengah jam hingga kering sempurna untuk saya pel lagi dengan kain kering demi mengoptimalkan efeknya. Oke, oke, saya paham, tahapan-tahapan ini tampak #puhlies deh. Bagaimanapun, saya menyukai kelegaan yang dihadirkannya setelahnya, setara kesenangan sederhana yang dihadirkan oleh aroma jemuran yang kering sempurna oleh panas Matahari.

Sesi kedua. Saya menghadiri pesta pernikahan seorang kawan. Acara yang diselenggarakan di kediaman mempelai di kawasan Jambangan tersebut sempat membuat saya menyiapkan sejumlah rencana untuk mencapainya. Lagi-lagi tampak #puhlies deh, tapi bagi saya itu penting mengingat saya ke lokasi dengan mengendarai Vito yang lumayan bongsor sedangkan lebar jalanan di daerah itu secara umum hanya dapat memuat dua mobil dari dua arah, dan saya memang harus pergi dengan Vito karena selepas acara saya berencan menjalani laku hedoniah sehari penuh bersama kawan-kawan. Rencana utama: saya memarkir Vito di Masjid Agung Surabaya untuk kemudian menumpang kawan yang mengendarai sepeda motor. Hanya saja, rencana awal langsung batal ketika beberapa menit setelah meninggalkan rumah, saya baru sadar bahwa saya tidak membawa helm dan terlalu enggan untuk kembali ke rumah. Saya pun mengirim kabar kepada kawan saya terkait hal itu. Rencana cadangan: saya tetap memarkir Vito di Masjid Agung Surabaya lalu menelepon taksi. Bagian pembuka baik rencana awal maupun rencana cadangan sebenarnya tetap bisa dieksekusi karena ternyata kawan saya pun membawa helm. Sayangnya, informasi tersebut tidak saya terima karena selepas mengirim kabar terkait pembatalan rencana awal, ponsel saya kantongi dan tidak saya periksa lagi selama mengendarai Vito. Akhirnya, saya pun ber-impromptu, dan betapa hal itu oh-sungguh-bikin-senewen karena membuat saya terlambat di lokasi, terlambat dalam artian melewati pukul 11.00 yang tertera di undangan. Haha. Beginilah rute dadakan saya: karena saya tidak tahu pasti lokasi pesta, saya hanya berpikir pokoknya setelah mencapai Injoko lurus saja sampai mentok lalu belok ke kanan. Oke, ini aman. Setelah belok ke kanan, saya memperlambat laju Vito sambil mencermati setiap gang di sisi kanan baik yang mengandung lengkung janur atau pun tidak karena pada hari itu di kawasan itu setidaknya ada tiga pesta pernikahan. Saya pun menemukan gangnya dan melihat kemungkinan untuk memarkir Vito di sekitar gang karena ternyata jalan di titik itu lebih lebar daripada titik lain. Meskipun demikian, saya perlu memutar balik supaya parkirnya bisa mudah, dan dari sinilah kerempongan itu berawal. Saya tidak akrab dengan kawasan itu sehingga tidak sedikit pun terlintas dalam pikiran saya bahwa di sepanjang jalan itu sulit untuk melakukan putar balik. Saya pun tiba di ujung jalan hingga menyeberang Jembatan Rolak dan menjejak Gunung Sari yang membuat saya memikirkan kemungkinan langsung sekalian saja cus ke Sutos dan parkir di sana untuk kemudian naik taksi ke lokasi. Namun, ternyata saya tipe setia, #eh, sehingga memutuskan putar balik dan kembali ke gang tadi dengan Vito. Hebatnya, dan ini membuat saya ngakak, beberapa meter menjelang gang saya melihat mobil-mobil sudah memenuhi sisi itu, yang tentu saja memaksa saya terus melaju sambil memikirkan lokasi parkir berikutnya. Menjelang pertigaan ke arah Injoko, saya berpikir bahwa gang tadi tembus hingga jalan di baliknya, saya pun belok ke kiri di perempatan Kebonsari. Setelah beberapa puluh meter dari perempatan, Vito akhirnya menemukan lokasi rehat. Dengan penuh suka cita saya berjalan mencari gang tembusan menuju lokasi, setelah beberapa puluh langkah saya mulai berpikir lho kok tidak ada gang bernomor sama seperti gang di baliknya, hingga saya tersadar bahwa memang gang itu tidak menghubungkan dua jalan yang sejajar. Karena berdasarkan perhitungan saya telah berada di tengah antara Vito dan lokasi pesta, saya memutuskan terus berjalan hingga menemukan gang yang nomornya juga saya lihat di jalan di ujungnya. Ternyata lumayan jauh. Yawdahlah, tidak apa, yang penting saya berhasil tiba di lokasi dan tidak perlu memikirkan kemungkinan Vito tergores oleh kendaraan lain yang melintas di samping kanannya seandainya saya memarkirnya di dekat gang lokasi tadi. Saya tinggal di lokasi pasta selama sekitar satu jam, lalu kami memutuskan untuk segera beranjak demi memenuhi misi yang sempat tertunda. Saya kembali ke Vito dengan menumpang kawan yang bersepeda motor, helm yang dibawanya dari rumah pun akhirnya memenuhi takdirnya.

Sesi kedua. Saya dan ketiga kawan saya menuju Sutos. Mereka memarkir sepeda motor lalu kami berangkat bersama dengan Vito menuju Lenmarc. Hal ini bukan berarti bahwa Lenmarc terlalu jauh untuk dijangkau oleh ketiga kawan saya di bawah terik Matahari tengah hari, melainkan senantiasa ada kemungkinan kami tiba-tiba mengaktifkan moda acak tralalatrilili sehingga tentu lebih menyenangkan apabila berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan satu kendaraan saja. Setiba di Lenmarc, kami langsung menuju XXI demi mendapat tiket The Martian di Premiere. Sayangnya, yang tersisa hanya bangku deret terdepan, yang meskipun tetap oke untuk nonton, rasanya kurang afdol. Kami pun memutuskan nonton yang biasa saja.

Sesi ketiga. Karena jam tayang The Martian 15.15, kami punya cukup waktu duduk sambil ngobrol, dan tempat yang memperoleh kehormatan siang itu adalah Supresso. Awalnya saya tergoda untuk memesan Eggs Benedict karena ada semacam proyek geje untuk sebisa mungkin merasakan makanan itu di setiap gerai yang menyediakkannya, yang sejauh ini produk Libreria adalah yang terbaik, namun saya batalkan untuk saya simpan pada kunjungan berikutnya. Kami pun memesan beberapa makanan dan minuman yang semuanya berakhir dengan gemilang dan menghadirkan energi bahagia selepas menikmatinya.

Sesi keempat. The Martian. Saya ceritakan nanti saja karena inilah inti tulisan ini. Kamu sabaro.

Sesi kelima. Selepas The Martian yang berdurasi hampir dua jam, kami menuju ujung salah satu lorong untuk maghriban yang diteruskan dengan… berseluncur es imitasi. Yoa! Ini adalah keputusan acak akibat kami melihat area itu sepi dan hamparan putih serupa es itu terlalu menggoda untuk diabaikan. Kami pun meluncur di atas sepasang lempengan logam untuk kali pertama. Sekitar lima belas tahun lalu saya memang pernah mencoba roller blade yang hasilnya tidak terlalu memuaskan namun setidaknya saya bisa mengingat bagaimana teknik dasarnya sehinga untuk sekadar berdiri saya mampu. Untuk meluncur, tentu lain lagi ceritanya. Selama setengah jam pertama saya mengalami kesulitan yang setelah saya cermati mungkin berkaitan dengan kondisi lempengan logam di sepatu kiri saya. Saya pun menukarnya dan… hampir ajaib… saya bisa lebih mudah meluncur meskipun tetap beberapa kali terjengkang namun tetap ngakak. Betapa momen sepanjang satu setengah jam itu menyenangkan, menghibur kami dengan caranya yang tidak terduga, dan cukup membuat kami berkeringat dan seolah baru saja menyelesaikan jogging pagi di lintasan khusus terakota yang tidak pernah kami realisasikan.

Sesi keenam. Akibat energi yang terbuang selama berseluncur es imitasi, begitu keluar dari area, kami membicarakan akan makan malam di mana. Karena tidak ingin rempong berpindah lokasi yang tentu membutuhkan waktu, kami memutuskan mengakhiri Minggu hedon di Piazza Italia. Sepasang meja kami yang disatukan dipenuhi wadah aneka rupa yang menampung makanan aneka rupa dalam sekitar setengah jam selepas kami memesan, dan satu jam kemudian… tandas. Alhamdullillah. Betapa Minggu itu kami sukses besar.

Dan saya pikir, The Martian menjadi salah satu pemicu optimalnya sesi-sesi sesudahnya. Selama nonton film ini, saya terus-menerus mengingat Gravity dan Interstellar karena film ini berlatar non-Bumi, berfokus pada satu tokoh meskipun Gravity lebih tampak solo, dan dua aktornya—Matt Damon dan Jessica Chastain—bermain di Interstellar. Bahkan, seandainya nama tokoh diabaikan, The Martian bisa menjadi semacam prekuel Interstellar karena ia merupakan misi pertama Dr. Mann sebelum kelak terlibat dalam misi pencarian planet pengganti Bumi, atau semesta lain Interstellar karena Murphy Cooper dewasa dalam wujud Melissa Lewis bekerja sama dengan Dr. Mann muda dalam wujud Mark Watney. Berbeda dengan Gravity yang strukturnya diikat oleh keheningan dan ketegangan nyaris tanpa jeda, dan Interstellar yang strukturnya diikat oleh citra adikodrati dan pertanyaan implisit filosofis, The Martian tampil dengan santai bahkan lucu. Lucu dalam artian mengundang tawa, bukan lucu dalam artian imut yang bisa dilekatkan pada banyak hal. Cerita dibuka dengan rangkaian adegan yang dalam film space odyssey pada umumnya justru merupakan adegan klimaks yang berada di tengah atau menjelang muara sekaligus memperkenalkan secara sekilas sejumlah astronot yang bertugas mengeksplorasi Mars. Dari titik ini, cerita bergerak secara bergantian antara Mars dan Bumi yang di pertengahan cerita ditambah wahana antariksa yang menampung lima astronot lain yang lolos dari katastrofe Mars.

Saya tidak membaca The Martian Andy Weir yang menjadi dasar film ini sehingga ketika menyaksikan trailer­-nya untuk kali pertama, mau tidak mau di dalam pikiran saya muncul segala keburukan film genre ini: bencana, egosentrisme, perpecahan gugus tugas, pengkhianatan akibat ketidakmampuan memercayai kawan sendiri, darah yang muncrat lalu mengalir dan menggenang, deformasi tubuh hingga benar-benar berantakan, dan tentu saja kematian dengan cara yang jauh dari syahdu. Bagaimanapun, film ini tidak menghadirkan yang demikian dan justru sebaliknya: sejak perpisahan Mark dengan tim astronot, film ini mengalami metamorfosis dari sosok sarat teror menjadi sosok yang serbaterang. Bahkan, kehadiran Pathfinder yang dapat dikatakan menjadi salah satu pelopor eksplorasi Mars mampu menghadirkan senyum di bibir saya karena mengingatkan saya akan suatu masa hampir dua puluh tahun yang lalu ketika saya begitu terpesona oleh foto-foto yang dihasilkan oleh piranti luar biasa ini yang diluncurkan pada 1996: permukaan Mars yang seolah senantiasa senja. Bagi saya, inilah hal terbaik dari film ini: ia tidak menyabotase dirinya sendiri. Segala problematik dipandang sebagai sesuatu yang lumrah dan memerlukan solusi, dan tokoh-tokoh film ini mengusahakan solusi itu tanpa menjadikannya semakin rumit dengan drama-sakit-hati dan drama-sakit-jiwa. Relasi antartokoh yang berasal dari berbagai latar belakang pun semakin memperkokoh film ini sebagai medium yang mengingatkan saya akan akar kemanusiaan sekaligus membuat saya membayangkan betapa Bumi dan apa pun yang mengambang dan beredar di sekitarnya akan menjadi jauh lebih baik ketika spirit The Martian mampu dipahami dengan baik.

Fakta bahwa film ini tidak menyabotase dirinya sendiri tidak sekadar membuat saya tersenyum senang karena hal semacam itu jarang terjadi pada film-film lain yang berkerabat dekat dengan film ini, tetapi juga membuat saya tersenyum—miris—karena mengingatkan saya akan yang terjadi pada orang-orang di sekitar saya: betapa mereka seolah tanpa sadar justru menyabotase hidupnya sendiri, sebagian besar sih terkait masalah rasa. Berkali-kali saya menjumpai orang, baik yang saya kenal secara langsung maupun yang saya kenal melalui cerita kawan, yang seolah pertama, malas melangkah dengan mantap padahal ia sebenarnya bisa berlari kencang bahkan terbang meskipun tidak bersayap; kedua, memilih mengambil jalur memutar yang tentu lebih jauh daripada menerobos jalan pintas meskipun senantiasa disertai kemungkinan sedikit tergores yang sebenarnya tidak masalah karena toh hanya goresan kecil; ketiga, melengkapi dirinya dengan segala piranti pengaman supaya tidak patah hati yang pada akhirnya justru mempersulit gerak bahkan mendatangkan rasa sesak yang tidak dapat dipulihkan oleh alat bantu pernafasan model apa pun; keempat, membangun labirin penuh monster pelahap keyakinan alih-alih jalan setapak yang meskipun berliku dan berbatu tetap tampak ujungnya; dan kelima, yang paling parah tentu saja, menciptakan lubang hitam satu jengkal dari posisinya berdiri demi mengalami keterhisapan yang penghabisan tanpa pernah tahu di mana ia akan berakhir dan masihkah dalam wujud asali atau sekadar segenggam abu.

Menyatakan perasaan dan jujur kepada diri sendiri ternyata bagi sebagian orang merupakan hal yang supersulit bahkan nyaris mustahil. Terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak memikirkan kemungkinan yang seringkali buruk meskipun belum tentu terjadi, dan terlalu mengutamakan perasaan pihak-pihak eksternal. Bukankah yang demikian ini pada dasarnya merupakan laku sabotase diri? Swasabotase dengan alasan untuk kebaikan semua pihak padahal nurani sepenuhnya memahami bahwa yang terbaik bagi dirinya adalah menyatakan apa pun yang dirasakannya kepada siapa pun yang menjadikan hari-harinya lebih berwarna dan kelak mungkin menjadikan dirinya manusia yang jauh lebih baik.

~Bramantio


About this entry