Tentang Mermaid Hijau dan Sangtuari-Satu-Dua-Jam

Sekitar sembilan tahun yang lalu ketika saya menjalani masa jauh dari rumah yang sebenarnya tidak terlalu jauh karena hanya berjarak satu jam sekian menit perjalanan udara, saya pertama kali berkenalan dengan si Mermaid Hijau pada entah siang entah sore entah malam bersama kawan-kawan selepas menjalani beberapa jam yang seberat apa pun menimpakan beban kepada kami senantiasa meyenangkan. Yah bagaimana tidak menyenangkan, pada masa itu saya berkesempatan mengenal tiga manusia luar biasa yang di dalam pikiran saya dan dua orang kawan baik senantiasa kami sebut tiga diva dalam semesta akademik sastra Indonesia: Melani Budianta, Okke K.S. Zaimar, dan Apsanti Djokosujatno; terlibat dalam diskusi-diskusi seru hampir kurang ajar tentang sastra dan apa pun yang mengandung interpretasi teks; sempat menolak meminjamkan makalah kepada beberapa kawan yang entah mengapa begitu menginginkannya namun dengan cara yang bagi saya sangat tidak menyenangkan dan nyaris memuakkan; dan secara impromptu menyanyi “Jangan Pernah Berubah” Marcell di sisi ruangan yang dekat dengan papan tulis seolah mengikuti audisi pencarian bakat hingga membuat salah satu di antara yang ada di ruangan itu merasa lagu itu saya nyanyikan untuknya. #tolong

Mermaid Hijau pada dasarnya adalah salah satu spesies dari marga kedai kopi. Sebagian orang menganggapnya begini-begitu dan mengaitkannya dengan gaya hidup ini-itu. Bagaimanapun, pada akhirnya ini adalah tentang rasa dan nuansa, dua hal yang bagi saya adalah kriteria utama untuk jatuh hati pada semesta kecil yang dinafasi kulinari. Lagipula, saya tidak pernah menyukai kopi-yang-kopi yang bagi saya senantiasa menghadirkan kesan memukau dan memukul dengan telak, dan lebih memilih kopi fensi yang mengalir ringan dan melenakan sehingga saya pun merasa lebih cocok dengan kedai ini. Plus, tentu saja, saya tidak bisa meracik kopi seenak buatannya. Serangkai dengan itu semua, di kedai ini saya memperkaya pengalaman dengan cara yang bahkan tidak memerlukan usaha selain hadir di sana dengan sepenuh hati.

Seiring dengan tahun-tahun yang saya lalui sejak perkenalan pertama, kedai ini tidak lagi sekadar menjadi ruang yang menawarkan kenikmatan bagi lidah tetapi telah menjelma sangtuari temporer yang bisa saya kunjungi pada terang hari hingga menjelang tengah malam. Banyak tulisan khususnya di blog ini yang menetas lalu tumbuh di kedai ini, begitu pula sejumlah cerita dari sejumlah buku yang saya baca yang pada akhirnya memenuhi takdirnya dalam satu-dua jam durasi saya duduk di salah satu sudut dan memisahkan diri dari keramaian. Dan di sela-sela semesta kata itu, manusia-manusialah yang memberi ornamen yang membuat saya tersenyum sendiri, tersedak lalu tergelak yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lucu melainkan seringkali disebabkan oleh sesuatu yang wooot… serius lo?, dan menjelmakan embrio tulisan baru di pikiran saya.

Suatu kali saya menjumpai keluarga kecil: bapak, ibu, dan dua anak. Kesan pertama yang mereka hadirkan tentu saja adalah kebahagiaan yang sederhana, dan mengingatkan saya pada suatu masa belasan tahun yang lalu ketika Bapak dan Ibuk masih menemani saya. Namun, tidak lama kemudian saya memahami bahwa keluarga ini tidak menguarkan kehangatan sekaligus keademan seperti keluarga saya dulu, karena sesaat setelah mereka berempat duduk di sofa marun yang mengitari meja: si bapak sibuk dengan laptopnya, si ibu asik sendiri dengan ponsel berlayar lebarnya, dan kedua anak tidak mau kalah dengan piranti tablet mereka. Saya pun bertanya-tanya tentang yang sebenarnya mereka pikirkan sebelum si bapak atau si ibu memutuskan mengajak keluarga mereka mengunjungi kedai ini.

Di lain waktu saya menjumpai sepasang remaja berpakaian santai yang duduk berhadapan dan seolah memercikkan yang bukan cahaya namun menjadikan ruangan di sekitarnya beberapa derajat lebih terang. Hanya saja, lambat-laun segala yang lembut itu menjelma tajam dan menusuk ketika pembicaraan mereka mencapai titik yang suaranya bisa merembet menyeberangi beberapa meja menuju jangkauan pendengaran saya dan membuat saya berpikir: Oalah, lak yo enakan ngopi utawa ngemil timbang ngomongno urusan sing abot tenan koyok ngono.

Di antara keduanya saya menjumpai hal lain yang meskipun tidak mengesankan tetap saja menawarkan pengalaman baru bagi saya. Kawanan remaja kuliah yang mengerjakan tugas dengan lumayan berisik yang entah mengapa menjadi kebiasaan banyak orang akhir-akhir ini yang seolah menganggap kawan di depannya baru benar-benar bisa memahami kata-kata mereka ketika disampaikan dengan lantang dan seolah lupa bahwa mereka berada di ruang publik sehingga senantiasa ada kemungkinan hal itu mengusik kenyamanan orang lain. Dua atau lebih orang berpakaian santai atau kantoran yang membicaraan bisnis beromset puluhan juta rupiah sambil tidak pernah melepaskan tangan-tangan mereka dari ponsel atau laptop. Dan bocah-bocah berseragam sekolah ceriwis yang obrolannya didominasi kalimat-kalimat pendek yang rempong luar biasa seolah mereka sedang menyiapkan sesi pemotretan untuk sampul edisi terbaru Vogue dan sudah mendekati tenggat waktu, padahal sekadar memotret minuman dan makanan yang mereka pesan untuk beberapa saat kemudian saya yakin diunggah di akun media sosial mereka.

Dan seminggu yang lalu kedai ini pun menghamparkan ruang dan waktu bagi saya untuk bertemu seseorang yang tanpa saya duga menggilai buku bahkan bisa menjerumuskan diri ke dalam semesta buku selama jeda yang dihadirkan lampu merah di perempatan jalan. Kami sempat tergelak ketika menjumpai fakta bahwa kami sama-sama memahami: aroma halaman-halaman buku baru adalah salah satu aroma terbaik di dunia. Perkenalan kami berhutang pada The Rosetti Letter dan pertemuan kami disponsori oleh Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe  dan The Little Prince. Dan betapa dua jam pada malam itu terasa terlalu singkat.

Apa pun kata dan anggapan orang tentangnya, Mermaid Hijau senantiasa memberi kesempatan bagi saya untuk mengaramkan diri di sejumlah semesta yang bukan semesta yang saya jalani sehari-hari, menyediakan ruang privat di dalam ruang publik, dan membuat saya lebih banyak bersyukur atas hidup saya.

~Bramantio


About this entry