Generasi Buku Harian dan Surat (Cinta)

Akhir pekan lalu selepas menjalani hari-hari kerja yang penuh cabaran (halah!), saya bisa kembali menekuri sejumlah buku dalam daftar TBR saya dan naskah kumpulan cerpen saya yang memasuki putaran kedua penyuntingan. Di antara aktivitas menyenangkan yang seringkali membuat saya melek belasan jam nonstop dan baru tidur selepas subuh, tebersit dalam pikiran saya sejumlah hal yang kemudian menjelma judul tulisan ini.

Hari itu saya tiba-tiba saya ingin memotret beberapa hal dengan ponsel saya yang telah berusia enam setengah tahun sejak saya keluarkan dari kemasannya untuk kemudian saya unggah ke Instagram. Yang pertama, enam buku serial The Mortal Instruments yang pada akhirnya saya rengkuh setelah beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu hal yang menghantui saya karena begitu dekat sekaligus berjarak: sekadar berada di toko buku namun tidak untuk saya bawa pulang mengingat saya senantiasa khawatir tidak bisa menahan diri untuk tidak membacanya habis secara berturut-turut selama berhari-hari, padahal ada hal lain yang harus saya selesaikan. Yang kedua, tiga buku The Infernal Devices yang akhirnya saya lengkapi dengan buku terakhirnya Clockwork Princess, sebuah trilogi yang luar biasa dalam hal semesta sihir dan cerita cinta segitiga yang sebenar-benar segitiga. Saya sering keberatan dengan sejumlah relasi antara tiga orang yang kemudian disebut sebagai cinta segitiga, padahal mereka tidak membentuk segitiga karena si A hanya berhubungan dengan si B dan C, sedangkan B tidak berhubungan dengan C. Mereka sekadar tiga titik yang dijalin oleh selarik garis namun tidak membentuk kesatuan. Haha. Ketiga, buku-buku lain yang sampulnya menghadirkan citra tersendiri bagi mata saya, seperti A Natural History of Dragons Marie Brennan, Andrew’s Brain E.L. Doctorow, Balthasar’s Odyssey Amin Maalouf, Of Bees and Mist Erick Setiawan edisi bahasa Indonesia, dan beberapa yang lain. Bagaimanapun, hingga menulis unggahan ini, saya belum juga merealisasikan angan-angan itu.

Semesta The Infernal Devices yang bernuansa steampunk—perpaduan yang klasik dengan yang supercanggih bahkan sihirian seperti halnya semesta His Dark Materials—yang senantiasa memesona membuat saya mengingat suatu masa sekitar dua dasawarsa yang lalu ketika banyak hal terasa mudah, jujur, dan apa adanya. Yoa! Mudah, jujur, dan apa adanya: bocah pergi ke sekolah tanpa dibebani oleh isi tas yang luar biasa berat untuk ukuran usianya dan bayangan akan kegagalan menyelesaikan sejumlah soal yang melampaui masanya, orangtua bekerja tanpa menyerahkan tanggung jawab pengasuhan anak kepada kakek dan nenek atau pembantu rumah tangga, akhir pekan adalah akhir pekan dan tidak dicemari oleh segala alasan terkait merengkuh materi demi masa depan. Pada masa itu hiburan audio visual pun tidak sesemarak sekarang sehingga selain televisi, radio, dan tape recorder, berbagai bacaan menjadi hal yang paling dirindukan. Betapa pada masa itu hari-hari menjelang terbitnya majalah mingguan yang saya langgan menjadi momen penantian yang membawa kesenangan tersendiri karena membuat saya bertanya-tanya tentang bonus yang akan saya peroleh: poster, gantungan kunci, pembatas buku, segugus kartu bergambar karakter-karakter kartun, atau kertas karton dengan gambar-gambar besar dan kecil untuk digunting dan direkat yang kelak menjelma kota mini? Pada masa itu pula imajinasi hadir bebas bahkan brutal untuk kemudian ditulis dengan gaya yang hanya dimaklumi oleh bocah.

Berkaitan dengan poin terakhir, saya pun mulai berpikir bahwa pengalaman berdekatan dengan buku harian menjadi salah satu yang memberi bekal bergizi bagi kehidupan saya. Pada masa itu, menjelang pergantian tahun, saya senantiasa menerima satu atau beberapa buku agenda dari Bapak yang memperolehya dari rekanan kantornya. Buku-buku tebal bersampul kulit imitasi itulah yang menjadi medium bagi saya untuk mencurahkan banyak hal: adakalanya berupa satu dua kalimat saja yang ketika dibaca ulang dengan perspektif kekinian tampak enggak banget, tentang kekecewaan karena gagal menjawab beberapa soal pada ulangan di kelas, tentang prestasi luar biasa meskipun itu sekadar keberhasilan makan rujak uleg bercabai lima, tentang kebanggan bocahiah karena berhasil menuntaskan puasa sehari penuh meskipun sejak dua jam menjelang berbuka puasa senantiasa mendekatkan diri pada lemari es yang pintunya terbuka demi menyerap kesejukannya atau berkali-kali cuci muka tanpa sedikit pun niat mencuri telan airnya, tentang rasa lapar yang bermuara pada pengalaman pertama menandaskan dua bungkus Indomie goreng lengkap dengan sepasang telor ceplok, tentang pertanyaan konyol mana yang lebih enak antara Milo dan Ovaltine atau antara abon sapi dan abon ayam atau sambal tomat dan sambal brambang, di lain waktu sekadar guntingan foto dan gambar menarik dari koran atau majalah yang saya rekatkan dengan lem tanpa saya beri keterangan sumber dan tanggal terbitan yang memuatnya.

Semesta tinta ini pun mengada melalui surat-surat yang saya layangkan kepada beberapa kawan sekolah yang pindah ke kota lain demi mengikuti orangtua mereka yang beralih tempat kerja. Ada pula surat-surat yang saya terbangkan menyeberangi lautan menuju pulau lain demi menjangkau seorang guru yang kesementaraannya bersama angkatan kami ternyata meninggalkan kesan yang kata undangan peringatan hari kelahiran generasi pada masa itu berada pada tataran “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”. Masa itu menjadi masa ketika dengan perbendaharaan kata yang alakadarnya saya berusaha menyusun keutuhan yang runtut bernama surat satu-dua halaman. Dan betapa momen ketika menyelipkan surat ke celah kotak-kotak pos sewarna senja matang di tepi jalan adalah pembelajaran pertama tentang melepas sekaligus mengikhlaskan karena saya tidak pernah tahu pasti akan butuh berapa lama bagi surat itu untuk tiba di tangan untuk kemudian dibaca kawan atau guru saya dan butuh berapa lama hingga saya menerima surat balasan mereka. Ada sabar yang samar namun terus mengendap hingga masa yang jauh ke depan.

Dua pengalaman tersebut sekali lagi tampak terlalu sepele apabila dibandingkan dengan pengalaman generasi saat ini yang bergerak dalam irama yang pada masa itu mungkin tampak sebagai realisasi atas perang bintang. Saya memang tidak sepenuhnya mengetahui bagaimana kebiasaan bocah dan remaja sekarang pada malam menjelang mereka tidur. Saya membayangkan mereka lebih sering jungkir-balik menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang oh-sungguh-keterlaluan itu alih-alih menulis pendek-pendek di lembaran-lembaran buku harian demi mengalami laku kontemplasi ringan akan hari yang segera mereka tinggalkan dalam beberapa jam ke depan.

Apabila keduanya menjelma surat cinta, saya meyakini bahwa siapa pun yang pernah menulisnya memiliki pengalaman berada di titik kontradiktif: melambungkan harapan dan berprasangka baik sekaligus tetap menjejak Bumi dan berterima atas apa pun yang akan terjadi. Rangkaian kalimat pada selembar kertas yang terlipat di dalam amplop yang memuat segala rasa dan kebenaran pada diri seseorang untuk kemudian dibaca oleh orang lain yang padanya ia meletakkan citra akan hari-hari yang lebih kaya dan menyenangkan tentu jauh melampaui sekadar “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Yang pertama menyatakan yang ada di bawah permukaan dan tidak disertai membebani objeknya, yang kedua tidak lebih daripada tagihan yang tentu mengharapkan segera dilunasi dengan ya atau tidak.

Dan berbahagialah generasi yang sempat merasakan buku harian dan surat cinta.

X pun tiba-tiba mengada lalu nyeletuk: Adakah yang lebih romantis daripada momen ketika seseorang menulis surat cinta dan siap patah hati? #ngok

~Bramantio