Satu Hari Mengingat Bumi

Sejak pertama kali menyaksikan trailer Point Break, saya memasukkan film ini ke daftar film wajib tonton tahun ini. Meskipun ia adalah daur ulang atas film berjudul sama yang dibintangi Keanu Reeves dan Patrick Swayze empat belas tahun lalu yang tidak saya tonton, dan meskipun ia trailer­-nya berada pada kecenderungan sejumlah trailer film-film mutakhir yang mengumbar banyak adegan signifikan sehingga sempat menimbulkan pertanyaan akan yang tersisa darinya ketika kelak menonton versi lengkapnya, visualisasi adegan aksinya tetap membuat saya terpesona. Di antara Rabu dan Kamis lalu saya beberapa kali memeriksa jadwal tayang film ini untuk memastikan bahwa pada Jumat keesokan harinya yang menjadi Hari Ayo ke Bioskop bagi saya, film inilah yang akan saya tonton. Paginya saya memeriksa jadwal tayang sekali lagi dan wow!… ternyata In the Heart of the Sea juga sudah tayang. Jadi, hari itu akhirnya saya menonton dua film berurutan.

Karena tidak menonton Point Break yang lawas, tidak pula membaca sinopsis, dan hanya memperoleh informasi sebatas durasi trailer­-nya, saya pun semacam mengalami tiga perempat kebutaan atas kontennya. Bagaimanapun, hal tersebut ternyata mendatangkan keuntungan tersendiri karena saya tidak perlu membandingkannya dengan film originalnya, dan saya memperoleh lebih banyak daripada yang saya harapkan. Kesan yang muncul melalui trailer-nya terkikis begitu saja seiring jalannya cerita: film ini bukan tentang kriminalitas yang seolah bersemangat Robin Hood atau kriminalitas yang dilatarbelakangi oleh sekadar suka-suka-gw-toh-gw-bisa, melainkan memiliki setidaknya dua lapisan yang lebih dalam; struktur tiga lapis ini, tentu saja dengan semesta yang berbeda, mengingatkan saya akan The Devil Wears Prada: fashion, fashion people, people.

Cerita dibuka dengan masa lalu: rangkaian adegan yang mungkin membuat sebagian orang yang bertahun-tahun mengakrabi film atau sastra merasakan momen serupa keterenggutan yang bertahap oleh firasat bahwa hal buruk cepat atau lambat akan terjadi. Menit-menit yang memesona tersebut memang ditutup dengan peristiwa yang menjadi titik balik kehidupan salah satu tokoh sentral. Cerita pun bergerak lancar sesudahnya dan lagi-lagi menghadirkan kesan bahwa memang ada yang belum selesai dan harus dituntaskan oleh si tokoh tadi diselingi sejumlah peristiwa yang membuat saya bersukacita karena mereka begitu seru. Bagaimanapun, titik yang menjadikan film ini semakin baik adalah kemunculan Edgar Ramirez sebagai Bodhi. Dengan rambut ikal yang bagian depannya menjuntai panjang, ia adalah sosok karismatik yang sepenuhnya kita pahami melakukan hal-hal buruk di mata umum namun sekaligus tidak kuasa untuk disanjung bahkan dicinta, benci-dan-cinta yang juga saya rasakan pada sosok Hannibal Lecter dan Severus Snape. Kriminalitas pun lambat-laun memperoleh penjelasan akan latar belakangnya, yaitu realisasi atas yang disebut sebagai Delapan Cabaran yang bagi saya—terlepas dari kemunculan delapan yang mistis dan mengingatkan saya akan cabaran yang saya alami ketika menyelesaikan tesis tentang Cala Ibi tujuh tahun yang lalu—menguarkan kesan ilahiah. Lapisan ketiga cerita ini pun terungkap yang bermuara pada pemahaman bahwa ini bukan sekadar film aksi yang dipenuhi adegan yang dinafasi oleh olahraga ekstrem, melainkan renungan akan Bumi masa kini dan masa depan. Saya pun tidak pernah mengira bahwa film dengan genre ini beberapa kali membuat mata saya panas. Finale film ini yang tampak biasa juga terasa istimewa karena ia serupa metafora moksa.

Selepas menonton, saya tidak menganggarkan waktu lebih lama untuk mengembalikan mood ke kondisi awal melainkan langsung menuju parkiran demi merealisasikan rencana untuk menonton film berikutnya di tempat yang berbeda meskipun hal tersebut meletakkan saya pada kondisi kritis karena jeda yang tidak terlalu panjang dan sama sekali tidak memiliki kepastian akankah saya memperoleh tiket dengan posisi kursi yang pas terhadap layar. Saya pun seolah membalik cerita-cerita klasik akan perjalanan menuju Barat karena saya bergerak dari Barat ke Timur, dari Lenmarc ke East Coast Center.

Ketika layar monitor di konter pembelian tiket memperlihatkan kotak-kotak merah dan hijau, tidak ada satu pun kursi yang menurut saya nyaman karena kursi tengah di deretan A, B, dan C sudah terisi, dan saya senantiasa enggan memilih kursi di antara dua kursi yang telah berwarna merah, sehingga saya pun memutuskan memilih A1. Tetapi, ya sudahlah, tidak apa, yang penting hari itu saya nonton dua kali berturut-turut dan hari seperti itu tidak hadir setiap minggu.

Rangkaian adegan pembuka In the Heart of the Sea langsung terasa menjerat dan saya menyadari bahwa jeratan itu tidak hadir dari sisi visual melainkan audio: suara naratornya dan ketukan kalimat-kalimatya. Selama beberapa menit itu saya merasa mengenal suara itu namun tidak bisa memastikannya hingga saya pun teringat salah satu nama aktor yang berkontribusi dan selama hampir setengah tahun ini cukup melekat di dalam pikiran saya sebagai dampak penampilannya yang mendadak kocak di Spectre sekaligus kedalaman suaranya pada trailer The Danish Girl. Dengan caranya sendiri, film ini juga terdiri atas tiga lapis cerita: Herman Melville bercerita tentang pertemuannya dengan Thomas Nickerson yang bercerita tentang Owen Chase dan George Pollard. Struktur ini menurut saya menarik karena menempatkan tokoh sentral sebagai pihak yang tidak sepenuhnya di tengah karena ia tidak lebih daripada bagian cerita yang diceritakan seseorang. Seperti halnya trailer Point Break yang memberi banyak namun menyisakan jauh lebih banyak, demikian pula trailer film ini yang memperlihatkan sejumlah puncak cerita dengan rangkaian adegan katastrofe di tengah laut namun tidak berarti habis begitu saja. Sosok Owen yang seolah menjadi sentral di trailer-nya ternyata berbagi layar dengan George, dan hal ini membuat saya membayangkan Thor Odinson dan Abraham Lincoln Vampire Hunter berkolaborasi dan beraksi sihiriah di tengah laut. Betapa seru! Bagaimanapun, bukan itu yang saya peroleh karena bintang arena air raya ini adalah si Leviathan. Paus gigantik ini muncul dengan didahului dengan pembantaian yang dialami oleh paus-paus lain sehingga ia bukanlah sosok monster destruktif melainkan keheningan yang mengharap disimak.

Dua film ini secara tidak terduga menjadikan Jumat saya tidak sesumringah Jumat-Jumat saya sebelumnya yang terbebas dari rutinitas kampus karena dua kali dalam jeda yang tidak sampai dua belas jam saya mengalami momen langit-sesaat-sebelum-hujan: tidak ada terang dan hangat Matahari, tidak pula ada biru yang meskipun tidak terjangkau senantiasa menandai hari yang cerah, dan yang ada justru tabir mendung yang menyendukan ruang dan waktu. Bagaimanapun, bagi saya, momen menjelang tumpahnya air langit adalah titik terjadinya sejumlah transformasi subtil: detak yang lebih lambat, nuansa yang lebih teduh, syaraf yang lebih santai, indera yang lebih peka, dan kontemplasi yang menyelinap lalu mengendap begitu saja.

Menonton Point Break dan In the Heart of the Sea adalah laku mengingat Bumi: tentang yang ia berikan, tentang yang manusia ambil, dan tentang yang kelak manusia kembalikan dengan cara yang mungkin apokaliptik. Dan semoga kiamat yang nyaris dihembuskan oleh dendam dan amarah Nuada di Hellboy II: The Golden Army tidak benar-benar menjelma nyata.

~Bramantio