Merayakan Teks, Merayakan Hidup

Sebagian orang mengukur Kebahagiaan Minggu Ini dengan sebanyak dan sejauh mana ia bisa piknik. Sebagian yang lain dengan sebanyak apa ia mengunjungi sejumlah lokasi fensi untuk memuaskan indera perasa sambil memotret ini-itu. Kebahagian Minggu Ini saya seringkali berupa sebanyak apa waktu yang saya miliki untuk diri sendiri dan sebanyak apa buku yang bisa saya baca habis. Dan dua bulan terakhir ini banyak menghamparkan Kebahagiaan Minggu Ini untuk saya yang bagi saya seolah hadiah bagi saya setelah menyelesaikan sejumlah urusan administratif kampus yang seringkali terasa #omagat! #puhlies.

Selepas rangkaian momen yang saya abstraksi melalui “Satu Hari Mengingat Bumi,” saya memperoleh setidaknya tiga kebaikan. Pertama, blog saya yang berdomain unair.ac.id memperoleh predikat Terbaik II dalam Lomba Blog UNAIR 2015 dan dua pagi yang lalu saya menerima sebongkah laptop hitam legam sebelas inci di panggung bersaput aroma samar ikan bakar. Alhamdulillah. Kedua, saya menamatkan novel Will Grayson, Will Grayson John Green dan David Levithan dan Fangirl Rainbow Rowell secara berturut-turut beberapa hari sebelumnya. Ketiga, saya menerima paket dari opentrolley.co.id yang berisi sejumlah buku impian saya: By Nightfall, City of Stairs, His Dark Materials, Six of Crows, Specimen Days, The Bone Clocks, The Doldrums, The Night Circus, The Song of Achilles, dan The Snow Queen yang membuat saya ingin melakukan semacam hibernasi-dari-hiruk-pikuk-dunia demi membaca buku-buku itu. Dan tulisan ini tentang kebaikan kedua.

Saya mengenal David Levithan melalui Every Day, Boy Meets Boy, dan Two Boys Kissing, sedangkan John Green melalui film The Fault in Our Stars yang tidak saya baca novelnya. Sebelum membacanya, terlepas dari sekelumit cerita yang pernah saya baca di Goodreads, saya membayangkan Will Grayson, Will Grayson tentang kehidupan remaja dengan kedalaman melampaui remaja, dan sempat berharap bahwa novel tersebut menghadirkan doppelganger karena David Levithan toh pernah menulis cerita fantastik dalam Every Day. Ketika David Levithan berkolaborasi dengan John Green yang The Fault in Our Stars-nya pernah membuat saya mbrebes mili dan saya tulis dalam unggahan berjudul “Tentang Merasa Cukup”, hasilnya pun seperti yang saya bayangkan. Cerita ini tentu saja tentang Will Grayson dan Will Grayson, dua remaja yang dengan caranya masing-masing berusaha mengenali diri mereka masing-masing. Saya selalu menyukai karya sastra yang berbicara tentang sastra, dan Will Grayson, Will Grayson juga mengusung hal serupa. Salah satu tokohnya memiliki impian besar dan dalam proses mewujudkannya: drama musikal yang akan dikenang oleh banyak orang. Dan kedua Will Grayson berada di dalam pusaran sukacita itu. Yang menjadikan tulang belakang cerita yang demikian semakin menarik adalah cerita-cerita kecil yang menempel di sekitarnya dan membuat saya mengalami nostalgia dadakan: sebuah pertanyaan dan pengambilan keputusan besar tentang seksualitas, orangtua yang begitu terbuka dan menghargai pilihan hidup anaknya sekaligus turut berbahagia atas kebahagiaan anaknya, dagdigdug menjelang pertemuan khusus dengan gebetan (uhuk!), rasa sesak akibat kawan-kawan kurang ajar (bukan dalam pengertian lucux) yang mematahkan segala yang baik demi alasan yang oh-sungguh-egois dan hell-to-the-ooo… dan mengharap pemakluman, dan keharuan yang direkahkan oleh hal-hal sederhana. Yang jelas, novel ini banyak membuat saya tersenyum oleh celetukan-celetukannya dan tersenyum-sambil-berkaca-kaca pada muara ceritanya.

Keberuntungan saya tidak berhenti sampai di situ karena sesudahnya Fangirl lagi-lagi berhasil meledakkan hal-hal yang di antaranya bahkan berselimut darah, bukan darah dalam pengertian fisikal tentu saja melainkan berkaitan dengan segala hal letal dalam riwayat seseorang. Novel yang juga bercerita tentang sastra—dalam hal ini fanfiction—ini juga berlatar kehidupan remaja akhir belasan tahun. Memang, efeknya tentu tidak seluar biasa The Hours Michael Cunningham, novel tentang menulis-membaca-menghidupi-novel terbaik yang pernah saya baca sejauh ini. Bagaimanapun, novel ini membuat saya banyak memikirkan ulang sejumlah hal tentang penulisan karya: menemukan gagasan, merancang kalimat perdana, membangun tulang punggung cerita, mengalami kebuntuan di tengah jalan, menentukan nasib tokoh-tokoh, menerima komentar dari para pembaca pertama, merevisi lagi dan lagi, dan kepuasan yang bolehlah disebut surgawi meskipun saya belum pernah ke surga. Cath Avery sebagai tokoh sentral novel ini adalah penulis fanfiksi sebuah novel serial serupa Harry Potter yang berada di semacam serba-antara: antara menulis sesuatu yang dicintainya dan menulis sesuatu karena kewajiban, antara mempertahankan orang-orang tersayang dan melepasnya demi kesehatan bersama, antara menjalani kekinian dan memantapkan diri untuk merengkuh yang di depan sana. Hal lain yang menarik, Cath menulis fanfiksi berjudul Carry On yang ternyata juga menjadi judul novel lain Rainbow Rowell yang belum saya baca. Mungkin lain kali setelah saya menuntaskan banyak hal akhir tahun ini plus Natalan di Gili Trawangan. Amin.

Karena saya tidak percaya pada kebetulan, membaca dua novel berturut-turut dengan tema senada tentu bukan sekadar hal itu, terlebih lagi ketika motif pseudo-doppelganger muncul di keduanya: dua Will Grayson di Will Grayson, Wil Grayson dan dua saudara kembar di Fangirl, dua yang jauh untuk kemudian bertemu dan beririsan, dan dua yang dekat untuk kemudian saling menjauh dan menemukan kesadaran bahwa mereka selamanya senantiasa beririsan. Mungkinkah ini penanda akan pertemuan mendatang dengan…. yang terberkati? Semoga.

Apa pun itu, pada akhirnya demikianlah hidup: seseorang bertemu orang lain untuk kemudian menjadi dekat: untuk seterusnya, untuk sementara saja karena pada satu titik keduanya memutuskan memilih jalan yang berbeda, atau untuk patah pada satu titik dan segalanya tidak akan pernah sama lagi. Dan hidup terus mengalir dengan angin dan arusnya sendiri.

~Bramantio