Keajaiban Merekah Bersahaja di Sekitar Saya

Senin minggu lalu selepas saya menggenapi pertemuan terakhir di kelas pagi di Fakultas Kedokteran, saya memutuskan untuk tidak kembali ke ruang kerja. Pagi itu saya benar-benar merasa jenuh sebagai dampak berminggu-minggu berkutat dengan data yang sebagian besar berupa angka dalam rangka akreditasi program studi. Hingga menjelang meninggalkan pelataran parkir saya sebenarnya tidak memiliki tujuan pasti. Perlu beberapa menit bagi saya untuk duduk diam sambil memikirkan sejumlah kemungkinan yang bisa terjadi terkait pilihan-pilihan imajiner itu, meskipun tentu saja tidak seperti yang pernah saya saksikan di film Next yang salah satu tokohnya memiliki kemampuan prakognisi dan divisualisasikan menjadi sosok yang membelah diri yang sebenarnya sekadar gambaran akan sejumlah konsekuensi yang dihadapi sebagai dampak pilihannya. Saya pun memutuskan menghabiskan pagi hingga siang hari itu di Starbucks Graha Pena, salah satu dari dua Starbucks terbaik di Surabaya, yang lain adalah Starbucks East Coast Center.

Sebelum menginjak pedal gas Vito, saya mengirim pesan singkat kepada kawan yang baru saya kenal satu bulan yang lalu berisi pertanyaan disertai harapan bahwa kami bisa bertemu untuk melanjutkan obrolan yang telah terjalin melalui surel tentang buku dan penulisan. Di sepanjang perjalanan beberapa kali saya mendengar bunyi ketukan pelan bambu pada benda keras atau ketukan benda keras pada bambu sebagai penanda ada pesan singkat baru yang masuk yang tentu saja saya abaikan karena saya memilih untuk tidak menjadi manusia berfokus ganda yang bisa mengemudi sambil mengulik ponsel. Saya pun baru membaca pesan-pesan singkat tadi ketika mesin Vito padam di pelataran parkir Graha Pena. Salah satunya dari si kawan yang saya kirimi pesan singkat yang pagi itu ternyata lapang. Saya menganggapnya selebritas yang oh-sibuk-sekaleee sehingga kelapangannya pagi itu tampak sebagai keajaiban bagi saya.

Sekitar setengah jam kemudian obrolan kami pun mulai memenuhi salah satu sudut ruangan kedai-kopi-dan-kenikmatan itu, jenis obrolan yang berawal dari satu titik lalu merembet ke banyak hal, dari yang publik ke yang personal, dari taraf cangkang-alakadarnya hingga taraf jantung-hati. The Casual Vacancy J.K. Rowling sempat muncul dan kami pernah sama-sama dibuat pusing dan eneg olehnya meskipun sejatinya ceritanya bagus. Pada satu titik obrolan kami mencapai film Point Break dan kami sepakat film ini keren pol, yang kemudian mengingatkannya akan Nay dan membuatnya membuka situs twenty-one untuk mencari tahu jam tayang hari itu yang ternyata tidak ada satu pun bioskop di Surabaya yang menayangkannya. Bagaimanapun, karena ia berencana nonton siang itu, pilihan pun jatuh ke In the Heart of the Sea yang sudah saya tonton namun tidak masalah jika saya menontonnya untuk kali kedua dan terakhir. Pada tengah hari kami pun bergerak ke Surabaya Town Square dan berada di sana hingga selepas ashar. Ini juga keajaiban.

Selasa hingga Jumat pagi minggu lalu menjadi hari-hari yang puhlies-bikin-capek-dan-suntuk-banget bagi saya karena dua orang asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi melakukan kunjungan dalam rangka melakukan sejumlah pemeriksaan atas kinerja program studi tempat saya beraktivitas sehari-hari sejak sekitar tujuh tahun yang lalu. Jumat sore menjelang kunjungan berakhir dan selepas momen genting terkait finalisasi visitasi, saya menerima pesan singkat dari si kawan seleb. Intinya, apakah saya mau menjadi pemain pengganti untuk mengisi kekosongan kursi bioskop yang terlanjur dibeli namun kawan si kawan mendadak menerima kejutan dari suaminya untuk nonton film yang sama di tempat lain. Malam itu pun saya nonton Star Wars: The Force Awakens. Ini keajaiban karena di tengah euforia tralala penggemar film ini yang bahkan perlu mengantre untuk memperoleh tiket, saya bisa langsung melenggang memasuki pintu teater dan duduk anteng selama sekitar dua jam.

Rangkaian keajaiban ternyata tidak berhenti pada malam itu karena dua malam yang lalu selepas maghrib ketika saya menekuri cerpen-cerpen saya di Starbucks East Coast Center yang diselingi dengan membuka sejumlah unggahan di YouTube yang salah satunya tentang ulasan film The Impossible, udara tiba-tiba digenangi oleh “Across the Universe” The Beatles yang terpancar dari pelantang di sudut ruangan, mungkin versi Jim Sturgess, saya tentu lebih berbahagia seandainya yang terpancar adalah versi Fiona Apple. Hal ini memang memiliki sifat yang berbeda dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Bagaimanapun, saya tetap menganggapnya sebagai keajaiban karena mengingat kembali segala adegan di salah satu film terbaik yang pernah dan berkali-kali saya tonton itu disertai menyimak sayup-sayup jai guru deva om dari salah satu lagu terbaik yang pernah saya simakdi balik dinding kaca yang memperlihatkan hujan yang telah kehilangan daya di luar sana… merupakan momen sureal. Saya juga sempat membuka unggahan yang berisi seremoni Naomi Watts menerima penghargaan pada Palm Springs International Film Festival yang semakin meyakinkan saya bahwa perempuan ini memang cantik, saya menyukai caranya berbicara dan bergerak, dan betapa saya jatuh hati pada penampilannya di The Ring, 21 Grams, King Kong, The Painted Veil, dan tentu saja The Impossible sebagai kulminasinya. Sepanjang berada di ruangan itu, dengan membayangkan bahwa banyak orang berantakan oleh haru ketika menyaksikan keluarga di film itu melayangkan lampion di langit malam Thailand, ketika ibu mendekap dan menenangkan anaknya yang ketakutan dengan membisikkan bahwa ia juga ketakutan seusai melepaskan diri dari jerat letal tsunami, ketika si ibu berterima kasih kepada warga setempat yang mungkin bahkan tidak memahami kata-katanya, dan ketika si bapak menelepon lalu pecah berderai di bandara, pikiran saya tanpa bisa dicegah terus-menerus memutar sejumlah hal sebagai dampak menyimak ucapan terima kasih Naomi: relasi yang ingin kamu miliki dengan seseorang, keluarga yang ingin kamu miliki, cabaran yang tidak ingin kamu alami namun tetap harus kamu tempuh yang pada akhirnya membuatmu bersyukur ketika benar-benar bisa melaluinya sekaligus menjadikanmu manusia yang lebih… memahami. Ya, lebih memahami, bukan lebih tangguh karena segala cabaran seringkali menyisakan luka yang hingga kapan pun tidak akan sepenuhnya sembuh, melemahkan dengan cara paling subtil. Saya belum bisa menemukan kata atau frasa yang lebih tepat. Lebih memahami… dirimu dan diriNya. #ngok #semaput

Malam itu ketika tiba di rumah, keajaiban kesekian pun terjadi: ketika bersujud isya, saya mendapati sajadah saya menguarkan aroma samar susu, bukan susu muntahan bayi yang super-ewww! tentu saja karena memang tidak ada bayi di rumah saya, yah setidaknya bayi kasatmata, entah dengan bayi gaib yang tidak kuasa untuk ditangkap oleh penglihatan saya, melainkan susu bubuk yang mengingatkan saya pada masa kecil ketika Ibuk dan Bapak bergantian membuatkan saya segelas susu hangat atau berlimpah es mungil setiap saya menginginkannya. Ah, mendadak saya merindukan beliau berdua.

Sekali lagi saya bersyukur atas segala kebaikan yang saya peroleh hingga hari ini. Dan semoga demikian pula yang dirasakan oleh siapa pun di luar sana.

~Bramantio