Di Antara Dua Tahun

Sekitar tujuh bulan lalu dalam suatu malam di antara dengung samar ruangan Unit Sistem Informasi fakultas, seorang kawan nyeletuk bahwa pada libur Natal ia akan pergi ke Lombok, ia bahkan sudah mengantongi tiket pesawat. Saya dan seorang kawan lain langsung berpikir itu gagasan yang menarik dan memutuskan bergabung. Beberapa hari kemudian kami berdua pun mengantongi tiket pesawat. Beberapa minggu kemudian rencana kami lengkap dengan masuknya variabel hotel untuk dua hari di Gili Trawangan dan dua hari di Lombok. Bahkan, variabel penghibur juga muncul: sebuah drone alakadarnya.

Bulan-bulan berikutnya sebelum liburan empat hari empat malam itu, kami bertiga banyak menghabiskan waktu bersama yang dalam sejarah pertemanan kami intensitas seperti itu belum pernah terjadi. Hampir setiap malam kami punya acara meskipun sekadar makan malam di warung tenda dengan penyetan dan sambal yang aduhai di depan kompleks RMI, makan mie kuah di Jalan Ondomohen yang bagi saya lebih menyerupai ayam kuah kental berornamen mie, cangkruk hingga menjelang tengah malam di warung GuPo a.k.a. Gubeng Pojok demi pecel lele dan nasi campur yang mungkin bagi banyak orang biasa banget namun bagi kami sedep pol yang adakalanya bersama Cak Surabaya 2014 selepas pingpong atau badminton, menjenguk rekan kerja yang baru saja menjalani operasi di sebuah rumah sakit yang senantiasa membuat saya teringat akan momen kepergian Ibuk sebelas tahun yang lalu, mencoba tempat kulinari di Jalan Biliton yang dulunya adalah toko cokelat dan membuat kami tampak salah kostum meskipun kami benar-benar tidak peduli akan fakta itu, nonton The Little Prince sambil berkali-kali mengambil foto tralala-trilili dengan Instax yang baru berumur beberapa minggu selepas keluar dari kemasannya. Yang paling luar biasa tentu saja janji kami bertiga untuk bertemu setiap Sabtu pagi bukan untuk sekadar mencari hiburan selepas satu pekan bekerja melainkan menjalani laku sepi-kaya-makna (halah!) yang kami sebut Watchmen Day: kami berkumpul di rumah saya dan fokus dengan urusan kami masing-masing dengan laptop: menyelesaikan tesis, menyelesaikan terjemahan, dan menyelesaikan kumpulan cerpen. Kami membagi hari itu menjadi beberapa sesi dan selama sesi kerja kami saling mengawasi dan tidak diperkenankan menyentuh ponsel dan baru bisa berkomunikasi dengan dunia luar pada jam istirahat tengah hari dan sore selepas ashar. Hasilnya optimal! Malamnya kami masak menu antirempong—spaghetti, sosis jumbo, potato wedges, chicken lemon, chicken wings, blablabla—dan makan bersama lalu diakhiri dengan nonton film baru atau lawas pada dinding yang menjelma semesta gambar bergerak.

Hari keberangkatan tiba dan betapa semesta senantiasa menghadirkan banyolan-banyolan acak yang #puhlies. Jadwal penerbangan kami 5.35, artinya kami berangkat ke bandara dua jam sebelumnya, bukan keharusan namun kami menghindari kesenewenan yang mungkin hadir ketika berangkat terlalu mepet dengan jam keberangkatan, artinya lagi kami harus bangun sekitar 2.30 untuk persiapan. Ketika kami tiba di depan konter check-in, si petugas dengan entengnya berujar, “Ini sudah lama ya beli tiketnya? Penerbangan jam ini sudah ditiadakan. Jadwalnya jadi 9.30.” Whaaat theee eeefff…. Saya langsung membuka surel untuk memastikan bahwa tidak ada informasi terkait perubahan jadwal penerbangan, dan memang tidak ada. Tapi, yawdahlah, kami tidak mau merusak mood yang selama berbulan-bulan ini sudah begitu baik, bahkan di tengah segala hiruk-pikuk akreditasi program studi yang membuat saya benar-benar membutuhkan mengambil jarak dari kampus dan kota. Jadilah kami menunggu sambil mencari kesibukan yang lebih banyak berupa memberi komentar penampilan orang-orang yang mengantre di konter sambil tertawa lepas, salah satunya kami sebut Lady Too Much karena… yoik, penampilannya too much untuk ukuran orang yang dalam beberapa saat kemudian sekadar duduk anteng di dalam pesawat. Kami sempat menenggak cokelat panas dari Si Mermaid Hijau, dan dengan kurang ajarnya merumuskan ungkapan berikut: Jomblo: senantiasa mencari kehangatan pada secangkir cokelat panas. #mentolomatek

Kami tiba di Lombok Praya menjelang tengah hari waktu setempat. Mobil plus pak sopirnya yang telah kami pesan beberapa minggu sebelumnya sudah siap di bandara dan langsung mengantar kami ke daerah Teluk Kode untuk menyeberang ke Gili Trawangan. Ini adalah kali ketiga saya mengunjungi Lombok namun kadar kesenangannya tidak pernah berkurang dan semakin menyenangkan karena saya datang bersama dua kawan baik dan liburan itu terjadi selepas segala kepenatan sepanjang setengah tahun terakhir. Di Gili Trawangan kami menginap di hotel yang saya tempati sekitar satu setengah tahun sebelumnya ketika saya merayakan hari kelahiran. Kami pun menikmati malam Natal dalam remang sendu pantai dengan langit berbulan purnama.

Keesokan harinya kedua kawan saya memilih melaut. Seperti satu setengah tahun sebelumnya, saya lebih memilih menyusuri pantai dan berhenti beberapa kali demi sekuntum eskrim dan segala yang hangat gurih. Beberapa kali saya melihat keluarga kecil atau kawanan bertopi Santa Claus dari entah negara mana, saya mendekati mereka lalu meminta izin untuk memotret mereka yang hasilnya saya berikan kepada mereka. “But why?” salah satunya bertanya, “No reason” balas saya. Pada siang semacam itu, alasan tidak lagi dibutuhkan. Biarlah kebahagiaan saja yang mengada.

Pics from Gili & Lombok A

Sabtu siang kami kembali ke Lombok dengan cara yang kurang lebih sama dengan ketika kami meninggalkannya dua hari sebelumnya. Kami menginap di sebuah hotel yang saya pilih karena… lucuk, tentu saja: menempel pada sisi bukit, terdiri atas beberapa konstruksi menyerupai kubus sewarna tulang, dan di bagian puncak kompleks kami bisa melihat laut bertemu langit di antara hijau pepohonan. Kami sempat menonton The Amazing Spider-Man 2 hingga sore yang meskipun bagi sebagian orang tampak menyia-nyiakan waktu liburan, bagi kami justru sebuah momen apresiasi atas kebersamaan kami. Malamnya kami—kami dalam artian kedua orang kawan saya namun tetap kami karena kami pergi bertiga—gunakan untuk mencari oleh-oleh yang berbuah kegagalan karena toko yang direkomendasikan oleh netizen ternyata tutup pada pukul empat sore. Kami tidak habis pikir: mereka toko oleh-oleh dan tutup bahkan sebelum malam berkibar? Bagaimanapun, itu tidak menyurutkan tawa kami karena toh malam itu kami bisa menikmati tumpang-tindih harmonis rasa nasi puyung.

Pics from Gili & Lombok B

Minggu pagi kami berkendara menuju sisi lain pulau untuk menyeberang ke trinitas Gili yang lain: Sudak, Nanggu, dan Kedis. Perjalanan beberapa kali terhenti demi merekam momen dan alam yang dalam keserbabiasaannya justru tampak mencolok.

Kami kembali ke Surabaya Senin siang. Itu pun karena perubahan jadwal dari pihak maskapai tanpa pemberitahuan sebelumnya. Semestinya kami tiba di Surabaya Senin pagi.

Beberapa hari kemudian kami kembali berkumpul bersama kawan-kawan  lain di rumah saya untuk melepas 2015 dengan dua gugusan strawberry cheesecake dan triple choco cake, penyetan ikan, dan rangkaian film The Intern, The Martian, dan Across the Universe.

Jumat selepas tengah hari, saya mendekam beberapa jam di sebuah kafe di area Graha Family. Ini kunjungan pertama saya. Dan saya jauh lebih menyukainya dibandingkan saudaranya yang berada di Jalan Pregolan.

First Day

Semoga kebaikan senantiasa menyertai kita di 2016. #ladolcevita

~Bramantio


About this entry