Deus ex Humanus, Homo ex Machina

Tepat dua minggu yang lalu melalui laptop yang telah menjadi bagian hidup saya selama tidak kurang daripada delapan puluh empat bulan, saya akhirnya memutar Ex Machina yang dvdnya telah saya miliki sejak beberapa bulan sebelumnya namun baru pada malam itulah saya benar-benar punya hati untuk nonton yang terekam di dalamnya. Seperti halnya yang terjadi menjelang nonton The Martian yang pernah saya unggah di blog ini, kombinasi judul dan perwajahan posternya film ini secara otomatis membuat saya memintal firasat tentang yang kelak saya jumpai ketika menontonnya. Senantiasa ada pergerakan nuansa dari dexter ke sinister dalam genre ini: yang awalnya tampak begitu melenakan menjelma mematikan dalam beragam cara. Firasat itu pada akhirnya memang terealisasi namun kali ini terasa manis.

Ex Machina memiliki façade sederhana. Ia serupa rumah kubus polos dengan satu pintu dan satu jendela di sebuah padang hijau berlangit biru. Hanya saja, konstruksi itu sekadar portal menuju jalinan terowongan kelinci lunatik satanik di bawahnya. Terdiri atas introduksi, komplikasi, dan revelasi, ia bergerak lambat dengan belokan dan area gelap di sana-sini yang memberikan kejutan namun bukan dalam pengertian hentakan kencang melainkan sentilan yang adakalnya lucu adakalanya getir adakalanya merenggut sesuatu yang baru kita sadari ada setelah ia sirna.

Bayangkan ketika di suatu siang yang biasa di ruang kerja, Anda memperoleh undangan resmi dari bos Google untuk magang sekaligus bertralalatrilili selama katakanlah satu minggu. Anda berangkat menuju lokasi terpencil yang berada di persimpangan bukit, hutan, sungai, dan padang rumput. Anda memiliki akses ke sejumlah ruangan kecuali tentu saja ruangan terlarang bagi Anda yang justru membuat Anda penasaran. Anda dipercaya menjadi variabel penting dalam sebuah proses yang memiliki peluang mengubah wajah dunia. Yoik! Lalu, Anda bertemu Ava. Anda tahu Ava bukan manusia namun Anda tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Ava terasa… begitu manusia dan hal itu membuat Anda mengabaikan nalar untuk menghanyutkan diri dalam tenunan rasa yang tumbuh seiring waktu: simpati, percaya, cinta.

Struktur film ini berada pada bingkai “Pada suatu hari ketika Manusia menjelma Tuhan: Kreasi menjadi Kreator yang berkreasi sesuai Imajinya.” Si manusia pada satu titik merasa perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa kreasinya telah mencapai tingkat manusia itu sendiri, bukan sekadar kreasi. Hanya saja, tidak seperti tuhan yang superindependen, manusia memerlukan Pengamat untuk memberi opini kedua terkait kreasinya, mungkin juga untuk sekadar menyatakan secara implisit: “Lo lihat bikinan gw yang superkewl ini!” Dan seperti halnya manusia pada umumnya, Pengamat ini pun tidak bisa terus-menerus teguh pada nalarnya karena ia memiliki nurani. Pada bagian inilah film ini menceritakan sekaligus mengingatkan kembali motif yang seringkali menjadikan yang telah baik runtuh menuju semesta distopia: hasrat seseorang untuk memperoleh lebih bahkan ketika ia telah mencapai puncak Gunung Hayat dan membangun Kastil di Awan. Dan betapa yang semacam ini juga terjadi pada sebagian orang di luar sana yang seolah tidak pernah merasa cukup dengan yang dimilikinya. Padahal, jelas tidak semua orang bisa memiliki yang mereka miliki.

Nama Ava mau tidak mau langsung mengingatkan saya pada Genesis. Dan memang demikianlah adanya. Latar cerita tampak sebagai representasi Eden. Karakter-karakter di dalamnya pun merupakan perwujudan serbacair atas Adam, Hawa, Setan, dan Lilith. Hanya saja, ini bukan Eden yang itu. Ini Eden dalam perspektif dan interpretasi lain: ada penjara di dalam Eden. Penjara ini tidak dibangun untuk sekadar membatasi gerak fisik melainkan juga pikiran. Dan karena sejak awal diharapkan sepenuhnya menjelmakan diri sang Kreator, Ava pun memikirkan dan merancang Kebebasan. Bukankah memang tidak ada siapa pun yang bersukacita ketika ia menyadari bahwa dunianya adalah sebuah penjara? Terlepas dari apa yang dikenal sebagai Maharencana, mungkin Ava yang itu juga mendamba Kebebasan dari Keterbatasan Eden sehingga memutuskan merengkuh Buah Pengetahuan. Dan saya tidak pernah menduga bahwa bagian terbaik film ini adalah keheningan Alicia Vikander menapaki tangga di muara cerita. Ia adalah keindahan inosen.

Diiringi rangkaian lagu lawas “I’m Kissing You” Des’ree, “Leave Right Now” Will Young, “Open Road” Gary Barlow, “Special Kind of Something” Kavana, dan “Wishful Thinking” Duncan Sheik, saya menulis ini dengan terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk senantiasa merasa cukup atas segala yang saya miliki. Merasa cukup. Karena hanya dengan seperti itulah Eden mengada.

~Bramantio


About this entry