Di Tengah Semarak Retihan Api Monyet

Kali ini saya mengetik dengan semacam kewaspadaan yang pernah saya abaikan tiga tahun lalu dan baru menyadarinya beberapa waktu kemudian ketika telah banyak yang terjadi. Senantiasa segar di dalam ingatan saya betapa Ular Air pada tahun itu benar-benar memorak-porandakan impian-impian-kecil-sarat-makna yang telah saya bangun sejak bertahun-tahun sebelumnya. Dan perlu waktu yang tidak singkat untuk bisa sehat kembali meskipun sejatinya seseorang tidak pernah benar-benar pulih.

Menjelang Tahun Baru Imlek tempo hari, saya mulai membuka sebuah buku tipis sarat isi sekaligus menjelajahi semesta-semesta di dalam layar laptop demi menyerap sejumlah pengetahuan kuna yang dituturkan ulang dalam beragam cara dan versi. Bagaimanapun, ada satu benang subtil yang mengikat semuanya: Monyet Api alias Kethek Obong bukanlah Shio yang jinak. Dulu saya sempat berpikir bahwa Ular Air adalah yang paling parah, namun kini saya pun merasa perlu memberi perhatian pada si Monyet.

Jika ada yang bertanya tentang luas pengetahuan saya akan Shio, tentu saya kurang-lebih akan menjawab bahwa yang saya miliki tidak lebih daripada luas satu halaman sebuah buku di perpustakaan akbar yang saya bayangkan pernah dimiliki Atlantis (halah!). Bahkan, saya tidak hafal urutan Shio. Saya sekadar mengetahui wawasan dasarnya untuk kemudian saya gabung dengan imajinasi dan interpretasi terkait karakteristik dua belas satwa di dalam daftar keluarga Shio. Konyol? Mungkin, bagi sebagian orang. Tapi, tidak bagi saya karena yang demikianlah yang membuat saya bertahan selama ini. Ada keajaiban—atau bolehlah disebut sihir dasar—pada hal-hal sepele, seperti butiran air yang menggantung di ujung jemari, sekuntum telor kasunyatan cikal-bakal makhluk-makhluk, sekelebat ngengat nokturnal di siang bolong, hawa di dalam ruangan yang memadat dan memberat tiba-tiba di musim kemarau. Dan saya meyakini bahwa semua ini sekadar seberapa besar kemauan seseorang untuk menyimak isyarat semesta raya.

Ketika seekor monyet yang seolah tidak pernah lelah dan senantiasa menyimpan bola-bola nuklir di dalam raganya menyatu dengan Api, bisa dibayangkan bagaimana dampaknya. Bagaimanapun, kekhawatiran akan apa pun di depan sana sejatinya tidaklah diperlukan. Kita hidup saat ini di sini. Jalani saja. Beres. Lagipula, saya toh lebih senang menganggap Shio saya bukanlah Ayam Jago, melainkan Merak Majestik. Bahkan, Phoenix. #ngok #apasih

Menjelang minggu keempat bulan ini, ada beberapa hal yang berkesan. Satu, saya bertemu seorang kawan yang saya kenal sekitar lima tahun yang lalu dalam sebuah karantina selama dua pekan. Kami terakhir kali bertemu pertengahan tahun lalu dalam keadaan sama-sama berantakan hingga menjadikan apa pun yang disajikan oleh si Mermaid Hijau terasa tidak senikmat biasanya. Haha. Waktu itu kami ngobrol banyak dan menyimpulkan bahwa di antara banyak hal penting di muka Bumi, yang terpenting adalah merasa cukup dengan segala yang kami miliki. Pada pertemuan tempo hari, kami pun bisa menertawakan bahkan nyaris urakan diri kami enam bulan sebelumnya dan bersyukur masa itu telah terlampaui dengan baik. Dan hebatnya lagi, dia telah bertemu seseorang dan sempat mengharu-unyu di Vatikan, foto profil akun WhatsApp-nya pun menjelma cerah. Alhamdulillah.

Dua, saya sempat mengalami konflik tidak penting dengan seseorang. Saking tidak pentingnya hingga membuat saya berharap sedigdaya tokoh sentral dalam Mirror Mirror yang dengan enteng bisa menyulap seseorang menjadi coro. Di situ pula saya memperoleh pemahaman bahwa asumsi adalah salah satu pembunuh terkeji banyak hal baik.

Tiga, saya berkenalan dengan lagu-lagu Blue Hamilton yang tidak pernah saya duga bisa sebaik itu bagi telinga saya. Radio Flyer pun langsung menjadi bagian daftar “Album yang Paling Saya Cintai” bersama Back Home Westlife, From Now On Will Young, Humming Duncan Sheik, Measure of A Man Clay Aiken, dan Open Road Gary Barlow.

Empat, saya berhasil melepas cerpen-cerpen saya yang beberapa di antaranya lahir satu dasawarsa lalu untuk membentangkan jalannya sendiri. Untuk kesekian kali saya belajar seni mengikhlaskan. Semoga dalam waktu dekat mereka bisa merengkuh masanya untuk mengalami kelahiran kedua. #aminyaowoh

Dan semoga senantiasa adem dan ayem meskipun merah merana menghampar di sekitar kita.

~Bramantio


About this entry