Fotografi Awam dan Mentalitas Zaman

Beberapa waktu yang lalu ketika berkumpul acak bersama beberapa kawan baik, ketika salah satunya mulai mengangkat ponsel untuk mengambil foto kami, saya merasa ada sesuatu yang aneh namun tidak seketika itu juga terdefinisi. Beberapa jam kemudian ketika saya tiba di rumah, keanehan itu mulai terurai: ada sebagian masa lalu yang merembes di dalam pikiran saya menjelang momen swafoto itu terjadi sehingga citra pun bertumpuk dan membingungkan pada waktu itu.

Saya bersentuhan langsung dengan fotografi ketika usia saya menjelang memasuki kisaran dua-angka tahun. Suatu sore sepulang kantor, Bapak mengajak saya jalan kaki ke toko film yang terletak tidak jauh dari gang rumah kami untuk melihat beberapa kamera kantong yang semuanya hitam dengan ukuran yang kurang-lebih sama. Setelah sekitar setengah jam saya menyimak Bapak bertanya ini-itu kepada pegawai toko dan merasakan langsung kamera-kamera itu di tangan saya, saya pun memilih Fuji Film DL-8. Secara spesifikasi, dia termasuk yang paling sederhana dibanding kamera kantong yang berjajar di balik kaca, namun saya menyukai tampilannya, lagipula gratis boneka badak bercula satu yang pada tahun-tahun itu cukup sering diwacanakan entah terkait program pelestarian lingkungan atau Tahun Kunjungan Indonesia, saya lupa. Bapak tentu juga membelikan saya beberapa rol film berkapasitas 24.

Seperti layaknya semua orang yang memiliki barang baru, saya pun bersuka cita dan banyak hal di sekitar saya yang mendadak begitu menarik untuk difoto. Apabila saya membandingkannya dengan masa sekarang, ada sejumlah kebijaksanaan dasar yang secara implisit dan tanpa saya sadari diajarkan oleh kamera saya: saya tidak boleh asal-asalan menekan tombol jepret, saya harus mencermati arah datang cahaya, saya harus membangun komposisi terbaik dengan memperhitungkan luas bidang dan objek di dalamnya, saya tidak bisa menyunting jepretan saya, saya bertanggung jawab penuh atas setiap satuan bingkai dalam rol film di perut kamera karena mereka bisa habis. Setiap momen yang akan diabadikan-dalam-kesementaraan diperlakukan dengan takzim, setiap pengulangan berdampak pada berkurangnya usia rol film, dan saya pun tidak pernah mengetahui hasil akhirnya hingga benar-benar kelak dicetak yang bahkan ada kemungkinan kobong. Adakalanya kesenangan bisa meletup tiba-tiba ketika saya mendapati ada semacam bonus satu-dua jepretan ketika keping bergerigi di sisi kanan atas kamera masih bisa diputar ketika saya menyangka rol film telah sampai pada ujung putaran. Bahkan, kamera saya mengajarkan kesabaran karena untuk memperoleh lembaran-lembaran foto saya pun perlu menyetorkan rol film yang sebelumnya saya pakai ke toko film tadi untuk dicuci-cetak yang tentu saja tidak selesai dalam satu-dua jam. Benar-benar berbeda dari kondisi fotografi awam saat ini.

Saya jadi teringat satu peristiwa lain dari masa kecil saya terkait fotografi. Suatu malam saya diajak Bapak dan Ibuk ke sebuah toko di bangunan kolonial yang kalau tidak salah terletak di ujung belokan setelah Siola yang legendaris namun telah sirna. Toko itu menjadi langganan generasi orangtua saya ketika mereka ingin membuat pasfoto dengan kualitas platinum (halah!). Awalnya, saya tidak memahaminya sama sekali, namun setelah saya melihat hasil pasfoto Bapak, saya mulai mengerti dengan perspektif bocah: warna hitam pada gambar hitam-putihnya memang lebih tajam dan secara keseluruhan lebih jernih dibandingkan foto-foto hitam-putih lain. Ada pula semacam ukiran sederhana di sepanjang foto apabila pelanggan memintanya. Uniknya lagi, dari cerita Bapak, toko ini tidak memberikan negatif filmnya, yang sampai ke tangan pelanggan hanyalah kertas berisi nomor panggil untuk mereka tunjukkan ketika suatu saat ingin mencetak foto.

Beberapa bulan yang lalu saya membeli Instax demi alasan memperoleh kesenangan lain dan pengalaman masa kecil pun berulang. Oke, dengan kamera ini saya memang tidak perlu menunggu berjam-jam hingga bisa melihat hasil akhirnya karena ia bisa mencetak langsung. Bagaimanapun, mekanismenya kurang-lebih sama dengan kamera lawas saya: setiap jepretan mengandung satu konsekuensi yang tidak bisa diperbaiki kecuali dengan menjepret lagi yang tentu saja mengurangi jumlah kertas film di dalam kompartemen berisi sepuluh lembar yang harganya… lumayanlah. Detik-detik menanti gambar dan warna mengada perlahan di permukan kertas mengilap seukuran kartu kredit menjadi momen yang senantiasa menyenangkan bagi saya meskipun bagi orang lain akan tampak #puhlies deh. Di antara segala kesenangan yang dihadirkannya, beberapa di antaranya adalah tawa yang meledak karena ada wajah-wajah yang hilang seperempat hingga tiga perempat secara horisontal atau vertikal, menggelap seolah penampakan iseng dari dunia sebelah, bahkan sama sekali keluar dari bingkai karena saking hebohnya berswafoto rame-rame. Saya pun pernah tanpa sengaja menekan tombol jepret ketika kamera menghadap atas, sehingga meskipun hari itu pantai dan laut menawarkan keindahan yang tidak bisa saya lihat setiap hari, yang saya peroleh adalah foto langit bermatahari bertabir awan putih seharga… lumayanlah. #tolong

Seperti halnya kaset dengan pitanya yang adakalanya kusut, kamera analog menawarkan filosofi yang tidak dimiliki oleh yang digital. Dan dalam kebisuannya, ia membentuk mentalitas zaman.

~Bramantio


About this entry