Antroposentrisme Entitas Ilahiah

Tiga minggu berlalu tanpa satu kali pun saya duduk di dalam gedung bioskop dan menjadi semacam anomali karena yang demikian hampir tidak pernah terjadi sejak saya merekahkan kesadaran akan adanya sangtuari dalam dua-tiga jam menekuri film yang mengada di layar lebar. Saya pun secara tidak resmi mengucap dadah kepada A Copy of My Mind dan Deadpool meskipun yang terakhir masih membuka peluang bagi saya untuk menontonnya dalam beberapa hari ke depan.

Kemarin malam selepas sekitar sepuluh jam mengurung diri di kampus untuk menyelesaikan sejumlah perkara yang ternyata tidak kunjung selesai hari itu dan tentu menjadikan akhir pekan saya tidak sepenuhnya nyaman, saya memutuskan nonton yang biasanya saya lakukan Jumat siang menjelang sore. Film yang saya pilih adalah Gods of Egypt. Ketika menyaksikan trailernya beberapa bulan yang lalu, saya membuat simpulan sementara bahwa film ini tidak akan luar biasa. Bagaimanapun, nama Alex Proyas sebagai sutradara mau tidak mau menjadi kail yang cukup tangguh untuk memancing saya tetap menontonnya karena salah satu karyanya, Knowing, adalah salah satu film yang saya cintai.

Dan memang demikianlah adanya Gods of Egypt. Sekitar setengah jam pertama film ini tampak begitu-begitu saja dan seolah sekadar menjual CGI yang kualitasnya pun sangat tidak menyegarkan. Selain terganggu oleh nyala layar ponsel seorang penonton laknat yang benar-benar tidak peduli teguran orang-orang di sekitarnya, sepanjang setengah jam itu saya berkali-kali membatin “Oh tidak,” “Kok begini ya?” “Ayolah….” “Puhlies….” dan seterusnya. Hal senada ternyata juga hadir dalam ulasan atas film ini di situs Roger Ebert yang menjadi salah satu yang saya baca secara berkala setiap minggu selain kanal YouTube Jeremy Jahns dan Chris Stuckmann. Bagaimanapun, ada sejumlah hal yang secara berangsur membaik seiring bergulirnya menit sekaligus mengonstruksi pemahaman di pikiran saya bahwa film ini tidak sepenuhnya merupakan visualisasi melainkan menceritakan ulang mitologi Mesir. Meskipun tidak semulus Immortals dalam menceritakan ulang mitologi Yunani yang visualisasinya luar biasa karena ditangani oleh Tarsem Singh—yang The Cell dan The Fall-nya masuk daftar Film yang Paling Saya Cintai—namun tetap sama-sama dibenci penontonnya, film ini juga menghadirkan dewa-dewa agung yang manusiawi. Berikut ini beberapa hal yang menarik bagi saya. Pertama, Horus sebagai anak yang diunggulkan namun sebenarnya ya-nggak-segitunya-kok yang sedikit demi sedikit mendewasa seiring persentuhannya dengan manusia-manusia yang mencinta. Kedua, Zaya yang di permukaan tampak sebagai sekrup kecil pada sebuah mekanikan besar yang cenderung dilupakan sejatinya merupakan inti cerita karena dialah Drupadi atau Helen film ini. Zaya juga mengingatkan saya akan tokoh Alice—yang dibawakan Alicia Vikander dengan sangat manis—dalam Seventh Son. Ketiga, bahtera milik Ra yang berlayar pada air kosmosnya—yang mengingatkan saya Dust dalam The Golden Compass—sendiri di angkasa lempengan—benar-benar lempengan—Bumi Mitologis dan menghalau Kegelapan berwujud menyerupai Kraken di Clash of the Titans yang merenggut Terang dan segala yang ada. Keempat, bagian kedua dari tiga jebakan pada jembatan menuju berhala tempat salah satu mata Horus disimpan Seth. Kelima, Thoth si Dewa Pengetahuan yang menguarkan aura semarak sekaligus biyatch yang celetukan-celetukannya membuat saya tergelak beberapa kali. Keenam, dan ini favorit saya, Hathor si Dewi Cinta dan Sukacita yang tidak mencitrakan romantisisme arumanis feminin namun meletup-letup blak-blakan yang justru terasa tulus dan apa adanya sekaligus sakti namun tidak terlalu peduli dengan kesaktiannya. Bagian cerita berdurasi beberapa detik ketika ia keluar dari reruntuhan, melangkah cuek di hamparan yang pernah taman, dan berhadapan dengan ular gigantik… benar-benar mengesankan.

Gods of Egypt sekali lagi memang bukan film bagus. Bukan pula film yang masuk daftar Film yang Paling Saya Cintai yang beberapa di antaranya memang bukan film yang disukai oleh para penonton global. Bagaimanapun, ke depannya ia mungkin bisa mengisi daftar Film yang Semakin Saya Tonton Semakin Baik bersama di antaranya Mama, Star Trek (2009), The Happening, The Possession, dan Tron Legacy.

Dan pada akhirnya, cintalah yang menggerakkan raga, kalbu, impian, dan kehidupan. #mimisan #legit

~ Bramantio


About this entry