Terima Kasih

Cover Depan

Cerita-cerita di dalam Equilibrium sebagian lahir satu dasawarsa lalu. Bertahun-tahun kemudian mereka dengan caranya masing-masing datang dan pergi serupa hantu yang senantiasa dirindukan untuk tumbuh terus-menerus hingga ke wujud paripurna.

Saya tidak pernah menyangka bahwa yang terberat sepanjang proses penyelesaian buku ini bukan menemukan celah dan cahaya untuk mengatasi kebuntuan dan kegelapan gagasan. Bukan pula merumuskan rangkaian kata yang merengkuh dan menghidupi momen. Seperti halnya menjalani hidup, yang terberat adalah mengikhlaskan. Mengikhlaskan cerita-cerita ini membentangkan jalan hidupnya sendiri.

Di dalam proses itu saya sebagai sebuah semesta mikro bersentuhan dan beririsan dengan semesta-semesta lain. Pada semesta-semesta itulah saya berterima kasih.

Keluarga besar di Kedung Pengkol. Terima kasih atas kebaikan yang tercurah kepada saya sejak kedua orangtua saya berpulang.

Para rekan kerja dan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, khususnya di Departemen Sastra Indonesia. Terima kasih atas hari-hari yang mendewasakan.

Virginia Woolf dan Michael Cunningham. Terima kasih atas novel-novel yang begitu saya cintai.

Eliza Vitri Handayani dan Intan Paramaditha. Terima kasih atas diskusi jarak jauh tidak berkala dan fiksi yang menginspirasi.

Azis Bilbargoya, Dahlia Fatmawati, Hendra Dhanu, Masandra Kukuh, Mochammad Anshori, dan Yusuf Noordiharia. Terima kasih atas setiap kesementaraan acak yang meletupkan makna dalam kebersahajaannya.

Yesaya Sandang dan Lina Martha. Terima kasih atas tahun-tahun penuh kasih dan keajaiban yang mengalir dari balik cakrawala.

Bapak dan Ibuk yang senantiasa hadir dalam ketiadaan beliau berdua.

Semoga kebaikan senantiasa menyertai kita.

~Bramantio


About this entry