Menjadi Turis yang Baik: Suatu Refleksi

Melakukan suatu perjalanan (wisata) adalah suatu kesempatan yang belum tentu dimiliki oleh setiap orang. Menjadi wisatawan berarti berpeluang untuk mengalami beragam kebudayaan, kepercayaan manusia, hingga cita rasa kulinernya yang perlu diikuti dengan tingkat tanggung jawab personal tertentu. Untuk itu, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru dengan tetap peka terhadap kebudayaan setempat serta memperlengkapi diri dengan pengetahuan yang dibutuhkan dapat menjadi bekal bagi wisatawan agar dapat mengoptimalkan pengalaman berwisatanya secara etis. Berikut ini adalah beberapa poin yang dapat menjadi bahan refleksi untuk  menjadi turis yang baik dilengkapi dengan eksplorasi nalar terhadapnya.

  • Mempelajari beberapa ungkapan dan beberapa kosakata lokal.

Bahasa adalah medium komunikasi yang terikat didalamnya dunia kehidupan tertentu. Berkomunikasi dalam bahasa asli suatu masyarakat tertentu menjadi tanda awal penutur telah mengambil bagian dalam dunia kehidupan bahasa tersebut. Wisatawan yang berkomunikasi dalam bahasa asli masyarakat yang dikunjunginya bukan saja semata-mata membangun komunikasi dalam arti pragmatis instrumental, namun juga menjadi indikasi bahwa ada upaya untuk mengerti dunia kehidupan masyarakat tertentu. Pada umumnya turis cenderung dimanjakan oleh pemandu yang mengerti bahasa asli para wisatawan, atau minimal bahasa yang dianggap diterima luas dalam pergaulan dunia (bahasa Inggris misalnya). Namun diluar relasi dengan para pemandu, turis perlu keluar dari kemanjaan tersebut dan meluangkan waktu untuk menguasai bahasa setempat agar dapat membangun relasi dalam bingkai dunia kehidupan yang ada. Dengan demikian berbahasa lokal ditempat wisata anda tentu akan menjadi nilai tambah tersendiri.

  • Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Selain daripada bahasa, dunia kehidupan suatu masyarakat juga tercermin dari bagaimana masyarakat tersebut mengatur dirinya. Aturan-aturan dalam masyarakat biasanya adalah cerminan dari penghayatan nilai atau norma yang dipegang teguh baik itu dalam relasi dengan yang transenden, dengan sesama dan lingkungan sekelilingnya. Oleh karena itu, sebagai seorang yang berwisata pada suatu destinasi yang memiliki latar budaya yang berbeda sudah sepatutnya untuk mempelajari adat istiadat masyarakat setempat dan menghormati tata krama yang berlaku.

  • Berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat setempat jika memungkinkan.

Berwisata kerap kali dipandang sebagai suatu bentuk pelarian diri menuju pada suatu utopia relaksasi pemanjaan diri. Namun melakukan aktivitas pariwisata yang bermakna sebenarnya bukan saja semata-mata berpusat pada diri sendiri, melainkan menghasilkan suatu pengalaman dengan yang lain. Oleh karenanya untuk menjadi turis yang baik diperlukan kerelaan untuk membangun interaksi dengan masyarakat lokal secara tulus melampaui sekedar keramatamahan dan pelayanan. Pariwisata disini berpotensi menjadi kunci yang dapat membuka pintu saling pemahaman lintas dunia kehidupan. Oleh karenanya diajurkan bagi wisatawan manakala dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam berbagai acara masyarakat setempat yang terbuka untuk mereka. Kata kuncinya disini adalah penghormatan. Interaksi dan partisipasi tanpa penghormatan hanya akan menjadi arena penghakiman jika tidak diikuti dengan kesadaran untuk memahami suatu masyarakat dari sudut pandang mereka.

  • Membeli produk lokal dan mengutamakan layanan setempat.

Salah satu manfaat yang diagung-agungkan dari kehadiran pariwisata adalah manfaat ekonomi. Namun masalah yang muncul adalah seringkali manfaat tersebut tidak benar-benar berdampak terhadap masyarakat setempat. Dengan demikian menjadi turis yang baik mensyaratkan seseorang untuk menggunakan seluruh layanan yang membawa keuntungan bagi masyarakat lokal. Walau peranan perantara tidak terelakan, upayakan semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa perantara yang digunakan memberikan layanan dan produk wisata yang membawa manfaat bagi masyarakat setempat. Tentu saja agar hal ini dapat terjadi seorang turis perlu mengetahui beragam informasi terkait layanan dan produk produk pariwisata yang memang berbasis pada masyarakat lokal.

  • Hargai kehidupan alam sekitar.

Alam seringkali dianggap sebagai penyedia daya tarik yang penting bagi pariwisata, namun pada saat yang bersamaan alam juga kerapkali ada dalam tekanan (eksploitasi) demi pariwisata. Oleh karena itu, sebagai seorang wisatawan yang baik diperlukan suatu kesadaran bahwa alam dan segenap ekosistem yang ada didalamnya (termasuk manusia) adalah suatu kesatuan yang memiliki hubungan dimana ketika salah satunya mengalami kerusakan maka akan berdampak kepada lainnya (termasuk manusia itu sendiri). Disini yang menjadi kata kunci adalah penghormatan dan kerjasama. Artinya alam sekitar harus dihormati sebagai bagian (mitra) dari aktivitas pariwisata demi keberlanjutan keseluruhan ekosistem. Dengan demikian seharusnya tidak ada lagi alasan bagi wisatawan untuk memperlakukan alam lingkungan dengan semena-mena. Tindakan menyampah, mengotori lingkungan dan merusak lingkugan di suatu destinasi berarti mengancam kehidupan manusia itu sendiri dan menodai pengalaman berwisata.

  • Antisipasi kondisi lingkungan serta kesiapan fisik.

Poin ini mungkin terkesan sepele, namun ia menjadi penting karena demi mendapatkan suatu pengalaman berwisata yang baik, seorang turis perlu mempersiapkan dirinya secara fisik. Disini berlaku suatu ungkapan bijak yang penting untuk dijadikan pedoman, “dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat”, artinya menjadi seorang turis yang baik (dari dalam jiwa yang baik) selaras dengan fisik yang prima. Selain mempersiapkan dari dalam diri anda sendiri, perlu diantisipasi kondisi lingkungan suatu destinasi sehingga seorang turis dapat menjaga daya tahan tubuhnya.

~ Yesaya


About this entry