Oktober Hektik

Menjelang berakhirnya bulan kesepuluh tahun ini dan di sela-sela menyunting sejumlah artikel bagi jurnal ilmiah fakultas tebersit di pikiran saya untuk mengulas kembali yang telah terjadi selama tiga puluh hari terakhir. Tanpa terasa pula delapan bulan berlalu sejak saya terakhir kali menulis di sini. Dan saya pun menyadari sambil tergelak: dalam satu paragraf ini saya telah menghadirkan tiga penanda waktu dan durasi. Ini tidak biasa.

Demikian pula Oktober tahun ini. Tidak biasa. Meskipun, tentu saja pada tahun-tahun sebelumnya beberapa Oktober menghadirkan sesuatu yang apabila direnungkan kembali memiliki dampak signifikan dalam hidup saya: edisi pertama cerpen “Bizarroseania” dimuat di media massa sekaligus menjadi tulisan pertama saya yang bisa diakses oleh masyarakat pembaca meskipun tetap dalam cakupan terbatas, berhasil menihilkan senihil-nihilnya seseorang yang pernah saya sangat sayangi namun entah mengapa tidak kunjung memahami bahwa saya sangat menyayanginya, menjalani hari-hari pertama sebagai yatim piatu di sebuah rumah yang bagi sebagian orang tampak terlalu sunyi dan terlalu dingin namun sejatinya senantiasa memberikan keteduhan yang tidak sekadar sebagai tabir dari terik Matahari dan trenyuh air langit, menyadari bahwa tahun itu adalah tahun Ular Air sehingga segala hal buruk yang terjadi sejak awal tahun memperoleh penjelasan, mengawali finalisasi proses berumur satu dasawarsa yang bermuara pada kelahiran Equilibirium lima bulan kemudian. Hal-hal yang terjadi pada Oktober tahun ini memang tidak seluar biasa tahun-tahun sebelumnya. Bagaimanapun, tetap saja rasanya mmm-gimana-gitu ketika ditempatkan dalam konteks kehadirannya yang bertubi-tubi.

Pada awal bulan seorang kawan bertanya kepada saya tentang seseorang yang bisa direkomendasikan untuk mencipta gambar bagi sampul buku terbarunya. Karena saya tidak kenal seseorang yang bisa menggambar sekaligus memiliki ketertarikan pada sastra, saya tidak bisa merekomendasikan siapa pun, kecuali yah diri saya sendiri. Haha. Toh dia oke dengan tawaran saya, terlebih lagi siapa pun ilustratornya tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan konsep sekaligus merealisasikannya. Setelah ngobrol selama tidak kurang daripada dua jam terkait yang diinginkannya bagi sampul bukunya kelak, saya pun membaca ulang berkas bakal bukunya dan menjernihkan gambar awal yang tadinya remang di dalam pikiran saya. Karena tidak memiliki banyak waktu untuk membuat gambar yang sekiranya rumit untuk ukuran saya, beberapa hari kemudian hasil akhirnya adalah gambar pohon, kuda, perempuan, dan bayi yang dipoles dengan pensil warna alih-alih cat air atau campuran keduanya dan media lain. Keesokan harinya saya meminta seorang kawan lain untuk memotretnya dengan kamera yang bukan kamera ponsel. Selepas saya memberi sentuhan final, berkas foto itu pun saya kirim. Terlepas dari sejumlah komentar, pada intinya si kawan menyukainya. Beres.

Berselang satu hari kemudian, saya berangkat ke Kendari untuk berada di sana selama satu minggu dalam rangkaian kegiatan Pekan Seni Mahasiswa Nasional. Tahun ini merupakan tahun ketiga saya mendampingi mahasiswa kontingen Jawa Timur dalam kegiatan dua tahunan ini. Empat tahun sebelumnya saya ke Mataram, dua tahun sebelumnya saya ke Palangkaraya, dan dibandingkan dengan keduanya, Peksiminas tahun ini adalah yang paling panas sekaligus paling rusuh. Saya tidak pernah menyangka Kendari sepanas itu. Saya pun tidak menyangka kegiatan berskala nasional ini mengusung semangat tidak tepat waktu dalam banyak hal. Bisa dibayangkan, pembukaan kegiatan telat, penutupan kegiatan telat, dan sebagian besar kegiatan di antara keduanya telat. Oleh karena itu, setiap hari adalah persiapan menghadapi kekecewaan dan membesarkan hati para mahasiswa yang sedikit-banyak tentu mengalami kekesalan. Bagaimanapun, di antara itu semua, saya memperoleh pengalaman menyenangkan ketika berada di lokasi tangkai lomba keroncong: para peserta berhasil membuat saya tersenyum oleh kepiawaian mereka menahan suara dan meredam emosi ketika menyanyikan lagu-lagu yang bagi saya membersitkan miris dan mistis apa pun liriknya. Benar-benar menginspirasi. Hal terbaik dari seminggu di Kendari adalah Pulau Bokori yang berjarak sekitar lima belas menit dari tepian kota dan meruapkan kesenangan tersendiri meskipun tidak meledak-ledak yang datang dari laut jernih, langit biru, dan pantai sepi yang salah satu bagiannya memanjang menjauh hingga menyerupai setapak punggung seekor naga air yang sedang hibernasi. #ngok

Pulau Bokori

Saya kembali ke Surabaya Senin malam dan disambut oleh visi tentang serangkaian kegiatan sepanjang minggu itu yang tentu tidak memberi saya kesempatan untuk rehat lebih lama demi memulihkan diri dari pengalaman traumatis (halah!) selama tujuh hari sebelumnya. Sekitar lima belas jam selepas memasuki rumah, saya berada di Rumah Kebudayaan Jawa Timur dalam rangka diskusi buku bersama Tia Setiadi, Sungging Raga, Eko Triono, dan tidak kurang daripada empat puluh pembaca sastra baik dari lingkungan Universitas Airlangga maupun sejumlah komunitas sastra di Surabaya. Keterlibatan saya dalam acara berawal pada pangkal Oktober ketika Tia Setiadi meminta saya untuk membahas buku yang saya iyakan tanpa banyak pertimbangan terlebih lagi acara tersebut menjadi momen reuni kami yang terakhir bertemu enam tahun yang lalu di Teater Kecil dalam Malam Anugerah Sayembara Telaah Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Dalam acara yang berlangsung selama hampir tiga jam itu, seperti biasa, saya tidak membicarakan hal-hal di luar teks karena hanya itulah yang saya bisa sejak satu dasawarsa yang lalu. Berikut inilah yang saya tulis tentang kumpulan cerpen Sungging Raga untuk mengawali diskusi hari itu.

_________

MELANKOLIA PENCERITA 

DAN HAL-HAL YANG TERASA MENGGANTUNG

Membaca sastra merupakan laku hening namun penuh konflik mengisi ruang-ruang gelap kemungkinan. Setiap pembaca pun dengan caranya masing-masing menemukannya dalam keadaan yang bisa jadi berbeda: selarik retakan memanjang, celah sempit yang tidak terlalu dalam, lubang seluas bola mata dengan kedalaman tidak terbayangkan, dan labirin menyesatkan sekaligus membuat siapa pun nyaman berlama-lama menyusuri bahkan mendiaminya. Realitas ini dalam perkembangannya seolah diamini sebagai sesuatu yang subjektif, sesuatu yang ada dan tiadanya ditentukan sepenuhnya oleh si pembaca. Teks seolah dilupakan, dan kuasa teks atas penciptaan makna pun terpinggirkan. Padahal, diakui atau tidak, tekslah yang membentangkan titian, jalan setapak, atau pun jalan raya bebas hambatan bagi pembacanya.

Membaca kumpulan cerpen Reruntuhan Musim Dingin saya langsung diterjang oleh sejumlah citra yang kurang lebih berada pada satu bingkai bahkan ketika saya baru menamatkan daftar isinya. Betapa tidak, judul-judul “Selebrasi Perpisahan,” “Dermaga Patah Hati,” “Melankolia Laba-Laba,” Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis,” “Reruntuhan Musim Dingin,” “Abnormaphobia,” “Turbulensi Kenangan,” “Kompor Kenangan,” “Sepasang Semut dan Gadis Kecil yang Sedih,” “Tak Ada Kematian di Alaska,” “Aku Berjalan Sendirian,” dan “Biografi Sepasang Rangka” mau tidak mau membangun sebuah konstruksi bayangan di dalam pikiran saya terkait yang akan saya jumpai ketika benar-benar membaca dan menamatkan cerpen-cerpen tersebut. Sebuah konstruksi yang di dalamnya tidak ada kelegaan terlebih lagi kebahagiaan konvensional. Dan memang demikianlah adanya.

Semesta ciptaan Sungging Raga ini dengan nada yang kurang-lebih sama menghadirkan fragmen hidup sejumlah tokoh yang bertempat pada semesta yang mungkin telah begitu kita akrabi: urban, kini, generasi baru. Mereka memang memiliki problematikanya masing-masing namun berkisar pada serangkaian tindakan menyikapi satu-dua hal yang sama. Hal ini semakin terasa ketika dalam sejumlah cerita muncul tokoh-tokoh dengan nama sama yang tidak mengacu pada sosok tunggal. Mereka juga hadir sebagai manusia periferi dalam hal perasaan: ada yang secara terus-menerus ditepikan sedemikian rupa bahkan tidak diperkenankan untuk mereka rasakan sehingga mereka tidak mengalami kerusakan atau semakin parah. Saya pun mau tidak mau membayangkan semesta paralel yang dihuni oleh orang-orang berbeda sekaligus sama. Kesan keparalelan tersebut tentu tidak tanpa alasan mengingat sebagian cerpen-cerpen menceritakan perpisahan, penantian, dan tanpa pertemuan. Jika pun ada pertemuan, ia justru menjadi titik awal perpisahan. Seperti kata salah satu tokoh, “Kita tidak gagal, kita hanya selesai melakukan perjalanan, dan kini sudah tiba di ujungnya. Setelah ini, kita melanjutkan perjalanan masing-masing ke arah yang berbeda.” Miris manis.

Meskipun demikian, sulit saya bagi saya untuk meraba nestapa pada cerpen-cerpen tersebut. Sebagai pembaca, saya seolah ditempatkan sebagai pemandang dari balik kaca, saya seolah ditahan sepanjang lengan. Sosok-sosok dan problematikanya yang terasa dekat dengan keseharian justru terasa jauh. Perpisahan ada untuk dirayakan alih-alih ditangisi. Kenangan ada sebagai bahan bakar yang menghidupi sosok yang mencinta. Keadaan ngelangut pun memperoleh asupan berkalori tinggi. Ada pola yang terasa nyata di dalam kumpulan cerpen ini yang tentu memerlukan pembacaan lebih lanjut untuk menggambar dan mengurainya lebih gamblang.

Di sejumlah cerpen saya menjumpai aroma metafiksi. Tidak hanya pencerita, tokoh-tokohnya pun menyadari bahwa ia adalah bagian dari semesta fiksi. Pada awalnya, fakta ini menarik sekaligus membuka peluang untuk dicermati lebih lanjut. Namun, pada akhirnya, setidaknya dalam pembacaan perdana saya, hal tersebut justru menimbulkan tanda tanya terkait keberadaannya yang tampak sekadar sambil lalu, juga kebermaknaannya. Kesan yang demikian semakin kuat ketika di sejumlah cerpen muncul beberapa judul buku dan lagu lengkap dengan nama penyanyinya yang bagi saya terasa menggantung bahkan seandainya dilenyapkan tidak memengaruhi cerita secara keseluruhan karena pembaca tidak lagi memerlukan informasi tersebut sementara nuansa sudah terbangun dengan jelas.

Terkait dengan hal tersebut, saya jadi memikirkan tentang jarak yang terentang antara pengarang dan pencerita. Pada suatu waktu yang belum lama berlalu melalui salah satu media sosial saya menulis: “Penggunaan kata ganti orang pertama tunggal dalam bercerita merupakan salah satu yang paling riskan dalam penulisan fiksi.” Cerpen-cerpen di dalam kumpulan cerpen ini sebagian besar memanfaatkan kata ganti orang yang demikian: pencerita adalah tokoh, tokoh adalah pencerita.

Secara sepintas, teknik penceritaan yang demikian memang yang paling mudah karena si pengarang bisa dengan leluasa mencipta dengan mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh. Bagaimanapun, yang saya anggap riskan seperti tersebut di atas adalah adanya kemungkinan bahwa dalam menghadirkan cerita dengan kata ganti orang pertama tunggal terjadi rembesan yang bahkan tidak disadari dari segala sesuatu yang berasal dari si pengarang: dirinya, latar belakangnya, hal-hal yang disukainya, cara bertuturnya, cara berpikirnya, dan pandangan dunianya.

Penceritaan dengan aku—setidaknya bagi saya—mjustru yang paling sulit. Memang, pengarang memiliki hak penuh untuk mencipta semesta fiksinya, ia bisa keluar-masuk dengan sesuka hati, membelokkan yang lurus, membolak-balik yang telah tertata rapi. Bagaimanapun, ada nalar bersastra yang perlu dirawat. Salah satunya, setiap orang memiliki cara bertutur dan berpikir yang berbeda. Hal-hal di dalam kumpulan cerpen ini tampak disampaikan oleh pencerita tunggal. Karena sebagian besar penceritanya merangkap sebagai tokoh, hal-hal tersebut secara otomatis tampak disampaikan oleh tokoh tunggal. Padahal, tokoh-tokoh tersebut berbeda meskipun ada yang memiliki kesamaan nama. Belum lagi ungkapan-ungkapan bermuatan filosofis yang dengan enteng disampaikan oleh tokoh-tokoh yang tampaknya tidak memiliki latar belakang yang mendukung hal-hal yang diungkapkannya. Mungkin mereka memang hidup di semesta paralel yang betapa pun berbeda satu sama lain, sejatinya mereka satu. Mungkin juga tidak.

Sebagai sebuah kumpulan cerpen, Reruntuhan Musim Dingin impresif. Cerpen satu dengan cerpen lain memiliki kaitan yang tidak sekadar bayangan samar seseorang yang berjalan tengah malam di sebuah gang kecil. Kehadiran sejumlah hal yang berlawanan dengan yang seringkali kita jumpai di keseharian menjadikannya menarik untuk dibaca lagi dan lagi untuk mengubah benang merah menjadi tenunan merah.

_________

Menyenangkan sekali bisa bertemu kawan lama dan kawan baru yang dengan cara mereka masing-masing memperkaya saya sebagai pembaca sastra sekaligus membuat saya berbahagia bahwa keputusan saya enam belas tahun yang lalu untuk berpetualang di semesta sastra adalah yang terbaik bagi saya. Juga membuat saya semakin menyayangi Bapak dan Ibuk saya yang tidak lagi menemani saya secara fisik namun senantiasa hadir yang dari beliau berdualah jalan saya terbentang melampaui yang pernah saya bayangkan.

Kesenangan hari itu ternyata tidak gratis karena saya perlu membayarnya dengan mengaudit satu unit kerja dan dua program studi di lingkungan Universitas Airlangga selama Rabu minga Jumat. Hasil akhirnya, ngilu meretih di punggung belakang saya karena terlalu banyak duduk menekuri data ditambah kurang minum hingga membuat saya mendekam di rumah sepanjang akhir pekan demi bisa kembali beraktivitas minggu berikutnya. #tulung

Seperti halnya hidup yang ada naik-turunnya, Oktober pun bergerak dengan cara yang demikian. Beberapa hari setelah punggung saya benar-benar pulih, saya memutuskan untuk memainkan game Agoda demi menemukan kemungkinan-kemungkinan menyenangkan yang bisa saya peroleh dalam dua minggu mendatang. Saya pun memenangkan permainan dan menghadiahi diri dengan menepi ke Kamandalu Ubud seminggu kemudian selama dua malam. Di antara hari kemenangan dan keberangkatan, saya tiba-tiba teringat akan Ubud Writers & Readers Festival sehingga membuat saya menyiapkan rencana sampingan untuk menyinggahinya meskipun tidak wajib karena toh misi saya ke Ubud adalah menepi selepas badai di Kendari dan Surabaya. #ngok

Dan memang demikianlah adanya yang terjadi selama di Ubud. Hari pertama saya habiskan di Kamandalu yang memiliki banyak titik untuk didiami meskipun sekadar ruang-ruang sepi yang merengkuh dan membuat saya mengingat salah satu wejangan Bapak: “Le, kita datang dari sepi untuk kembali ke sepi.” Matur nuwun, Pak, Buk, yang telah mengajarkan saya makna sepi.

Hari kedua ditandai dengan percintaan sendu pagi dan hujan selama beberapa jam yang membuat saya semakin betah dan sempat memikirkan memperpanjang masa tinggal saya hingga satu atau dua hari. Menjelang tengah hari saya keluar Kamandalu menuju lokasi UWRF dengan komuter yang sekadar sampai pusat keramaian Ubud sehingga saya melanjutkan perjalanan sendiri. Saya memutuskan jalan kaki saja alih-alih menggunakan ojek atau taksi yang ternyata lumayan jauh namun tetap menyenangkan dan berkali-kali membuat saya tersenyum ketika merasakan otot-otot kaki saya tertarik. Karena sejak awal memang tidak berniat berpartisipasi penuh dalam acara tersebut, selepas mengambil tanda pengenal tidak ada satu pun panel yang saya ikuti dan memilih menghabiskan sepanjang hari itu dengan menjumpai orang-orang yang kenal dan dengan merekalah saya menjalin cerita baru. Saya bertemu lalu ngobrol dengan Royyan Julian—salah satu penulis berstatus emerging writer dalam UWRF 2016—di sebuah kedai yang entah memang keliru atau sengaja penjualnya menyajikan dua mangkok mie ayam yang semestinya hanya kami pesan satu. Saya pun menghabiskan keduanya lengkap dengan dua gelas es teh tawar yang membuat saya teringat peristiwa di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia yang kantinnya menyediakan mie ayam rasa soto namun setiap kali ke situ tetap saja saya pesan dua porsi dan mendatangkan kegembiraan tersendiri bagi kawan-kawan yang melihatnya. Saya mengenal Royyan pada 2012 ketika menjadi juri tangkai lomba penulisan cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Regional dan saya terpesona oleh adegan persetubuhan yang dihadirkannya dengan imaji seekor sapi yang terjagal. Ketika kami kembali ke lokasi utama, saya berjumpa Norman Erikson Pasaribu yang sebelumnya sekadar saya kenal melalui buku kumpulan cerpen Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu, buku kumpulan puisi Sergius Mencari Bachhus, dan komunikasi melalui surel terkait program penerjemahan karya sastra yang diadakan oleh InterSastra yang digawangi Eliza Vitri Handayani. Kami ngobrol di kedai kopi yang setelah beberapa saat berlalu diramaikan—meskipun tetap bertiga—oleh kehadiran Cyntha Hariadi yang kemudian menghadiahi saya buku kumpulan puisinya Ibu Mendulang Anak Berlari. Saya benar-benar berterima kasih kepada semesta raya yang telah mempertemukan saya secara tidak terduga dengan mereka bertiga. Dan ada kebenaran yang akan senantiasa benar: kita memperkaya diri melalui siapa pun yang kita ajak bicara. Dari Royyan saya memahami sebuah visi untuk mengeksplorasi kekayaan filosofis Madura yang nyatanya tidak sekadar seperti yang selama ini terlanjur dikenal publik, dari Norman saya memahami sebuah kerinduan akan memiliki ruang dan waktu yang ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran, dan dari Cyntha saya memahami sebuah hasrat milik seorang ibu-yang-menulis terkait kehidupan yang semakin hari semakin menyempitkan taman bermain bagi anak-anak serta mewariskan kebencian-kebencian yang bahkan sama sekali tidak kami kenal pada dekade 80-an dan 90-an. Dan malam kedua saya di Ubud ditutup dengan makan malam rame-rame selepas hujan bersama kawan-kawan emerging writers.

img_3589

Saya pulang ke Surabaya Minggu siang dalam keadaan yang jauh lebih baik daripada ketika saya pergi. Bagaimanapun, saya masih memiliki banyak naskah peserta Sayembara Menulis Novel DKJ untuk dibaca dan dibaca ulang yang kemungkinan besar akan saya diskusikan bersama Seno Gumira Ajidarma dan Zen Hae pada akhir pekan ini di Jakarta. #mimisan

Oya, Happy Halloween!

~ Bramantio

Rangkaian Melati

P.S.: Sambil membayangkan sebuah villa tua di ujung tebing berkabut dengan seorang penjaganya yang tidak banyak bicara namun seolah bisa berada di mana-mana dengan iringan musik keroncong yang terdengar sejauh masa puluhan tahun silam dari sebuah gramofon uzur di sudut ruangan yang senantiasa remang dan lembab.