Ketika Dunia Masih Cilik

Telah banyak yang dianugerahkan oleh dunia yang usia Masehinya telah melampaui dasawarsa pertama 2000-an ini. Sangat banyak. Dan saya tentu berterima kasih atas kesempatan untuk merasakan hal-hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan ketika televisi di ruang tengah rumah masih sekadar hampir kubus yang memancarkan semesta hitam-putih. Namun, akhir-akhir ini saya mendapati diri saya berada di dalam semacam pusaran rusuh yang menjadikan saya memerlukan energi lebih besar untuk menjalani hari-hari hingga membuat saya seringkali mendamba dunia tempat saya menghidupi dua puluh tahun pertama kefanaan saya.

Hingga sekitar awal 2000-an saya masih bisa berujar mantap bahwa manusia lebih ramah dan dunia lebih baik. Dunia yang masih cilik. Dunia yang menyimpan segala momen baik di dalam ingatan dan lembar-lembar album foto. Dunia yang mengudarakan kabar melalui tinta pada surat di dalan amplop yang tersegel. Dunia yang menjadi milik manusia-manusia yang sangat memahami makna cukup. Manusia-manusia yang tidak mengumbar kata namun ada makna pada lakunya. Manusia-manusia yang tidak memerlukan banyak untuk menjadi sepenuh cangkang bulir padi menjelang jam panen. Manusia-manusia yang tidak memerlukan jargon “Bahagia itu sederhana” dan “Jangan lupa bahagia” untuk berbahagia. Manusia-manusia yang setabah keteduhan perdu muda bagi segala renik yang berumah di kedalamannya pada siang yang terik dan berdebu.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang tanpa saya rencanakan muncul di pikiran saya dan mau tidak mau membuat saya mencoba merunut kembali banyak hal demi merumuskan sebuah jawaban yang bahkan tidak pernah mencapai titik final. Tentang keterbukaan pintu-pintu yang justru menjadikan manusia-manusia sembrono dalam melangkah. Tentang keberlimpahan yang justru menjadikan manusia-manusia membanjiri diri dan sekitarnya dengan keluh-kesah. Tentang keserbamudahan yang justru menjadikan manusia-manusia memasang jebakan-jebakan keji bagi siapa dan apa pun yang berada selemparan pandang dari mereka. Tentang kelapangan untuk menanam dan memetik kebaikan di banyak tempat yang justru seolah menjemukan hingga kebencianlah yang dipilih untuk dikembangbiakkan dengan medium omong kosong. Saya pun membayangkan mereka beramai-ramai merapal mantra sambil menengadah menanti langit terbelah dan mengundang Neraka untuk datang dan tinggal di Surga yang belum baka ini.

Tidakkah manusia-manusia kini lupa bahwa mereka lahir karena Kasih?

~ Bramantio


About this entry