Ihwal Hening yang Semakin Langka

Pada suatu malam sekitar tiga minggu yang lalu tiga puluh menit menjelang memenuhi janji bertemu dua kawan yang saya kenal sejak 2012, saya duduk rapi jali di sudut toko roti yang terhitung baru di sebuah mall. Sejatinya saya suka toko roti ini, bahkan melampaui toko-toko roti lain di kota saya. Produknya tidak banyak bersolek, dan suasananya sangat baik untuk mewadahi sebuah pertemuan dengan misi ngobrol ke mana-mana hingga malam tergelincir menggenapi nyaris separuh usianya. Sayangnya, yang demikian hanya terjadi pada kunjungan pertama. Dan betapa kunjungan-kunjungan berikutnya mengajarkan satu hal kepada saya, satu hal yang semakin hari semakin kokoh di dalam pikiran saya.

Yang berikut ini berawal dari entah. Entah mengapa mereka memilih yang demikian. Entah mengapa mereka menganggap yang demikian baik. Entah mengapa mereka memutuskan yang demikian bisa menyenangkan semua orang. Musik, televisi, dan WiFi. Salah satu dari ketiga hal ini seolah menjadi unsur yang harus ada dalam struktur tempat-tempat nongkrong yang pernah saya kunjungi. Musik, okelah, selama dipilih dengan kejelian seorang editor yang sedang menekuri naskah lengkap dengan terawangnya atas kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada aliran cerita ketika memutuskan memilihkan kata bagi si pengarang yang telah rehat selepas maraton di atas papan ketik. Sayangnya, sebagian mereka justru memutar lagu demi lagu yang seringkali seolah acak dan dengan kelantangan yang menabiri suara dua orang berhadapan yang sedang menghangatkan sebuah dialog. Televisi, ini semacam absurditas yang sama sekali tidak ada keren-kerennya. Apakah lantas orang-orang pergi ke tempat-tempat nongkrong itu demi satu-dua jam tayangan televisi yang seringkali sumpah-nggak-penting-blas? Rasanya ada yang sangat keliru hingga membuat saya berpikir untuk mengajak manajernya makan bareng ke rumah makan Padang dan memesankannya gulai otak dua porsi. WiFi, membuat saya adakalanya berpikir bahwa sejumlah tempat yang secara eksplisit memasang pengumuman “Free Wifi” mungkin tidak memiliki kepercayaan diri akan produk yang mereka tawarkan sehingga memerlukan daya lain untuk menebar rayuan gombalmukiyoh kepada orang-orang yang melewatinya.

Semakin seringnya saya terpapar oleh yang demikian membuat saya semakin merindukan suatu masa ketika manusia belum mencetak label “multitasking” lalu dengan bangga menempelkannya di salah satu bagian tubuhnya sebagai penanda bahwa ia semacam metamanusia. Suatu masa ketika manusia bisa berjalan tenang tanpa mengkhawatirkan ini-itu pada satu setapak yang bahkan adakalanya becek di sana-sini. Suatu masa ketika manusia bisa tersenyum hanya karena ujung-ujung jemarinya bisa menyentuh dedaunan di kanan-kirinya dan merabai udara di sekitarnya sambil menengadah hingga wajahnya menghangat oleh terpaan cahaya pagi yang menemukan tempat mendarat selepas menempuh perjalanan jauh melewati kehampaan yang umurnya selama masa itu sendiri. Suatu masa ketika manusia bisa melahap sepotong besar keik bercitarasa tinggi dan segelas minuman pekat dingin afrodisiak tanpa pernah sedikit pun mendengar bisik-bisik tentang kandungan kalori dan bom waktu yang menyaru kenikmatan. Suatu masa ketika manusia betah berlama-lama di dalam rumah meskipun tidak melakukan apa pun sambil sesekali menyalakan radio untuk menyimak satu-dua lagu keluaran terbaru dan mencoba menyalin liriknya untuk dinyanyikannya sendiri pada hari-hari berikutnya tanpa intervensi dari pihak kedua dan ketiga melalui medium mini bernama ponsel.

Kerinduan ini pun mengaramel ketika akhir-akhir ini kabar-kabar yang berseliweran lebih sering menetaskan kebusukan dan kebencian alih-alih cerah-Matahari dan wangi- memeluk milik telor ceplok muda pada sepiring nasi putih.

~ Bramantio


About this entry