Masa Lalu, Masa Kini, Michael Fassbender

Ada malam-malam ketika tidur adalah hal yang sulit untuk saya lakukan tanpa sebab pasti—patah hati adalah sebab pasti, hasil ujian mahasiswa adalah sebab setengah pasti, dan kopi adalah sebab seperempat pasti—seperti beberapa malam lalu hingga saya memutuskan mengawali tulisan ini yang ternyata tidak kunjung mencapai kalimat terakhir bahkan ketika bedug subuh bertalu lalu saya memikirkan kemungkinan lain yang lebih menyenangkan: nguleni adonan roti yang telah saya diamkan semalam demi menyemarakkan pagi di rumah dengan aroma gurih.

Sekitar delapan belas jam sebelumnya saya cabut dari kampus ketika langit masih terang lalu memutuskan nonton Assassin’s Creed yang ternyata membuat kecewa banyak orang—termasuk Chris Stuckmann, Jeremy Jahns, dan rogerebert.com yang ulasannya saya simak setiap minggu—namun termasuk salah satu yang saya tunggu kehadirannya. Ini bukan lantaran saya pernah memainkannya melalui konsol—saya berhenti bermain ketika memperoleh puncak kenikmatan dengan Chocobo Racing yang superimut itu, haha—melainkan pernah saya baca keempat novel pertamanya karya Oliver Bowden—yang hasilnya saya tulis di blog ini sebagai “Sanctum Sanctorum”—yang memsona. Itu alasan pertama, alasan kedua tentu saja Michael Fassbender yang membuat saya—dan seorang kawan baik—jatuh hati pada Magneto dan David. #mancrush

Ada beberapa film yang membuat banyak orang berputus asa namun justru menimbulkan dampak sebaliknya bagi saya—Ender’s Game, Sucker Punch, The Village—dan Assassin’s Creed sejauh ini termasuk salah satunya. Struktur film ini yang melibatkan dua masa yang berjalan paralel tampaknya menjadi salah satu yang paling bertanggung jawab atas terciptanya keengganan sejumlah penonton untuk merasa puas bahkan sekadar tersenyum, mereka seolah merasa disodori kenyataan yang tidak nyata atau setidaknya sepotong black forest yang tidak mengandung rum. Terlepas dari saya memahami keluhan yang demikian, struktur film ini justru menjadikannya memiliki kedalaman yang saya yakin tidak akan sama ketika cerita katakanlah—seperti harapan sebagian penonton—sepenuhnya berlatar masa lalu. Masa lalu yang berjalin rapat dengan masa kini tentu jauh lebih kaya daripada masa lalu saja atau masa kini saja. Tentu saja dengan catatan bahwa keterjalinan ini bukan sebuah kemandegan.

Pencarian Apel Eden—yang diyakini menjadi kunci pemerolehan kehendak bebas secara absolut—melalui piranti Animus menjadi fokus cerita, dan bukan tanpa alasan laku yang demikian dikawal oleh perempuan bernama Sofia yang di sepanjang cerita berada di dalam ketegangan dengan bapaknya yang mau tidak mau mengingatkan saya pada realitas tentang relasi anak—khususnya perempuan—dengan sosok patriarkis pertama yang dikenalnya yang diharapkan mengayomi namun di saat yang bersamaan juga menjadi benteng-penjara baginya. Apel, Eden, Sofia. Ayolah… tidakkah ketiganya jelas-jelas merumuskan sesuatu?

Sejumlah subteks dalam film ini nyatanya jauh lebih menarik daripada yang utama. Kehadiran Charlotte Rampling—yang dalam keserbaterbatasannya memberikan nuansa yang bahkan membuat saya bersuka cita hanya karena satu scene itu—sebagai salah satu yang paling berkuasa mengingat statusnya sebagai petinggi Templar. Penelusuran sejarah ratusan tahun melalui DNA tidak sekadar mengarah pada kemungkinan-kemungkinan fiksi ilmiah namun sekaligus menjadi renungan tentang pewarisan pertumpahan darah—seperti yang pernah saya tulis dalam “Tentang Kebencian yang Diwariskan.” Dan tentu saja kalimat “We work in darkness to serve the light” yang bisa diinterpretasi menjadi banyak hal—salah satu yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya: kerendahhatian. Orang-orang yang bekerja di balik layar dan di belakang panggung yang bahkan tidak akan pernah tercatat oleh dokumen sejarah namun justru memiliki kontribusi dalam jatuh-bangun umat manusia.

Pada akhirnya, setiap kita dan masa yang kita jalani kini tidak lebih daripada bagian dari benang panjang yang telah terulur sejak entah kapan hingga entah kapan.

~ Bramantio

Advertisements

About this entry