Libur Natal, Her, Relasi Tanpa Raga

Libur Natal tempo hari saya dan beberapa kawan baik memutuskan staycation di rumah saya dengan jadwal acak-yang-tidak-sepenuhnya-acak karena senantiasa mengikuti pola yang selama hampir tiga tahun ini kami tekuni: masak, makan pada gelaran lante berusia belasan tahun namun semakin mengilap, nonton film-film lawas dan baru berdasarkan mood, dan tentu saja ngobrol sambil sesekali nyacat siapa pun yang menurut kami—atau setidaknya salah satu di antara kami—layak dicacat. Rangkaiannya berawal Sabtu pagi dan berakhir Minggu sore dengan rincian: roti-muesli bikinan sendiri dengan saputan selai blueberry dan keju oles, plus sorbet mangga, anggur, dan jambu merah, serta es degan beraroma lemon (Sabtu pagi—siang); nasi cumi pedas, yang ini pakai jasa GoJek karena dibeli entah di mana tidak jauh dari Suramadu (Sabtu sore); ayam-krim oven, percobaan pertama yang secara teknik hasilnya memadai namun terlalu asin #tulung (Sabtu malam); nasi pecel ngawi, beli di penjual yang seringkali kukut menjelang jam 9.00 (Minggu pagi); pempek-yang-enggak-pempek-pek, mumpung penjualnya lewat di depan rumah (Minggu siang). Malamnya kami ngemol dan cangkruk di kedai yang menyajikan makanan peranakan namun justru virgin-mojito-yang-sejatinya-enggak-virgin-mojito-to-nya yang paling saya rindukan, juga kari laksa singapura, juga donburi ayam katsu, juga adakalanya sayap ayam krispi pedas dan es teh hijau tarik. #halah

Sekitar dua jam sebelum meninggalkan rumah sambil menanti azan maghrib usai berkumandang—woles, kami enggak segitunya kok, kami nonton Her. Bertahun-tahun setelah kelahirannya saya baru bisa menjadi saksi kecemerlangannya lalu terpesona selama hampir dua jam sore itu untuk kemudian saya lanjutkan keesokan harinya: pada sinematografinya, pada ketenangannya, pada percikan di sana-sini yang serupa kembang api sopan-santun di tangan anak-anak, pada warnanya yang membuat saya ingin bekerja di kantor yang seperti itu, pada pekerjaan Theodore yang benar-benar membuat terharu karena berkaitan dengan menulis surat cinta—mengingatkan saya pada suatu masa yang cukup jauh di belakang ketika saya ingin menjadi bagian dari pabrik kartu ucapan Harvest, pada suara Scarlett Johannson, pada Joaquin Phonenix yang tampil kalem dan sempat membuat saya nyeletuk “Mirip Michael Fassbender”—masih Michael Fassbender ternyata, haha—dan memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari kelak mereka bermain di satu film, sebagai saudara mungkin—seperti yang pernah saya pikir dan harapkan terjadi pada Nicole Kidman dan Naomi Watts, juga Emily Blunt dan Alicia Vikander, juga Javier Bardem dan Jeffrey Dean Morgan, dan tentu saja Amy Adams dan Isla Fisher yang tahun ini benar-benar bermain satu film dalam Nocturnal Animal.

Secara sepintas film ini mengusung problematik manusia introvert yang menemukan kenyamanan melalui sekeping dunia berupa piranti elektronik bersistem operasi kecerdasan buatan yang jauh melampaui Siri. Theodore memiliki SuperSiri bernama Samantha—nama yang mau tidak mau membuat saya selalu mengingat Samantha Sex and the City—yang suaranya mirip Scarlett Johansson—haha, yang membuatnya mengalami perubahan dalam tempo tidak terlalu lama sejak memasangnya: lebih nyaman dengan diri dan hidupnya, mengambil keputusan-keputusan penting, dan menemukan Mataharinya kembali setelah sempat redup oleh perpisahannya dengan yang terkasih.

Bagaimanapun, relasi Theodore dan Samantha justru tidak membuat saya sebatas melihatnya sebagai relasi antara yang memiliki dan yang dimiliki, atasan dan bawahan, manusia dan alat. Mereka justru menghadirkan pertanyaan terkait sejauh apa manusia memerlukan manusia lain dalam sebuah relasi yang kemudian dikenali sebagai relasi cinta. Satu hal yang pasti, relasi ini bukan melulu bergantung pada keberadaan raga untuk disentuh, diraba, diremas, dihirup, dicium, dirasakan, dipeluk, direngkuh, didekap, dibuai, dan di-di lainnya—saya sepenuhnya bisa memahami bagian ini karena pernah dua kali mengalami hubungan jarak jauh yang meskipun berakhir tetap mengajarkan setidaknya satu hal: rasamu bukanlah sebuah bangun yang kongruen dengan ragamu. #ngok

Theodore dan Samantha memperlihatkan—sekaligus menawarkan—sebuah kemungkinan yang bisa ditempuh oleh siapa pun yang mengharapkan relasi yang kaya dan mengayakan tanpa menyertakan kontak-penuh raga sebagai variabel penentu. Dan memang demikianlah adanya: bagian terbaik film ini—yang berhasil membuat saya banyak tersenyum, dan secara ajaib bersyukur atas hidup saya saat ini—adalah ketika Theodore dan Samantha berbagi hari, cerita, dan pemikiran tentang hal-hal sepele hingga jawaban atas pertanyaan eksistensial. Ada ketulusan di sana. Bening.

Enggak mungkin banget yah? Haha. Yang ideal memang senantiasa jauh dari jangkauan sih, terlebih lagi dengan sifat dasar manusia—khususnya yang berada dalam relasi cinta—yang dalam usahanya menyelaraskan irama dengan kekasihnya justru mengembangkan keinginan untuk mengatur, mendominasi, memiliki, menguasai. Padahal, bukankah setiap orang pernah nyaris merasakan yang ideal ini dalam relasi pertemanan? Teman yang teman lho ya, bukan teman main drama.

Dan Samantha sempat berujar ketika Theodore mempertanyakan statusnya terhadap Theodore: “I’m yours and I’m not yours.” Kalimat sederhana. Nggapleki. Sekaligus penuh kebenaran. #momenhancik

~ Bramantio


About this entry