Anak, Pemakluman, Berkah yang Terlupakan

Dua hari yang lalu pada sebuah hari yang anomalistik karena mendadak bertitimangsa merah demi sejumlah kecil provinsi yang punya gawe yang seolah berskala nasional dan menjadikan semesta media sosial menjelma oh-sungguh-memuakkan dan sebagian besar orang seolah pernah terlambat menghadiri pembagian otak sehingga mereka tidak menerimanya, saya bertemu tiga kawan lama yang pada masa itu menyebut diri mereka Freak, sebuah nama yang sangat beralasan karena mereka senantiasa sumringah-nyaris-ekstatik ketika mengujarkan cyux, busugh, gendheng, jampudh, dan sempagh; saya juga sih, haha. Kami bertemu sejak siang hingga malam meskipun masih cukup jauh dari tengah malam karena dua di antaranya berasal dari kota lain yang sebenarnya tidak jauh-jauh amat namun memilih pulang lebih awal karena alasan yang kekanakan.

Salah satu yang kami beri sorotan selama pertemuan itu adalah ketika kami mulai mengobrolkan anak—yah meskipun hanya satu di antara kami yang beranak, dua entah akan atau tidak, dan satu yang pasti tidak. Obrolan yang mengingatkan saya akan obrolan serupa dengan seorang kawan tepat satu bulan lalu, ia menyatakan bahwa ia tidak bisa memastikan apakah mengingkan anak ataukah tidak karena—yang juga saya amini—“Dunia semakin buruk dan aku enggak rela anakku menjalani hidup di dunia yang seperti ini,” dunia tanpa udara 80-an, dunia tanpa komunikasi 80-an, dunia tanpa kelapangan yang dihamparkan 80-an. Obrolan yang juga mempertanyakan kembali hak dan kewajiban anak: anak berhak berbahagia dan tidak berkewajiban membalas kebaikan orangtua karena kelahiran anak telah menjadi hutang orangtua kepadanya; pernah saya tulis dalam Nuansa Resah.

Relasi orangtua dan anak yang saya dapati di sekitar saya seringkali tampak rumit atau setidaknya berat sebelah, dan betapa saya bersukacita tidak pernah mengalami yang demikian dengan mendiang Bapak dan Ibuk. Yang paling permukaan tidak jarang saya jumpai di ruang-ruang gedung bioskop: rengek bahkan tangis bocah yang pecah ketika film telah berjalan sehingga mood pun berantakan. Saya bertanya-tanya tentang yang dipikirkan oleh para penonton yang membawa bocahnya memasuki semesta dalam semesta yang sejatinya seringkali tidak ditujukan bagi yang bocah. Yang lebih parah—sekaligus menjijikkan—ketika orangtua-orangtua itu tanpa sedikit pun merasa sungkan menganggap bahwa semua orang bisa memaklumi kondisi yang demikian, “Namanya saja anak-anak. Wajar dong kalo nangis.” Wajar nenek lo! Fakta kecil—yang cyux-nget—ini memperlihatkan bahwa sebagian orang yang memutuskan menjadi orangtua nyatanya tidak sepenuhnya memahami konsekuensi menjadi orangtua. Entah bagi para pembaca tulisan ini, namun bagi saya: senantiasa ada konsekuensi untuk setiap pilihan, termasuk pilihan menjadi orangtua: ada yang harus dilepas untuk setiap yang didapat, sebagian kesenangan orangtua perlu diikhlaskan demi kebaikan anak-anaknya yang pada mereka orangtua berhutang kebahagiaan.

Senada dengan kasus di gedung bioskop, yang saya pikir juga terasa tidak benar dalam hubungan orangtua dan anak adalah ketika orangtua dengan tanpa a-i-u-e-o nyerocos dengan muka suntuk mengharap belas kasih, “Duh, biaya sekolah anak sekarang mahal” atau “Gaji habis untuk beli susu formula anak.” Helloooh… bukankah mereka sendiri yang memutuskan beranak? Lalu, mengapa kok sekarang mengeluh santai seolah lupa bahwa semesta raya telah memberkahi mereka dengan sekuntum nyawa? Mereka seolah menyesal punya anak; dan mungkin memang benar demikian adanya.

Di luar konstruksi keluhan yang demikian, ada yang bagi saya lebih parah, “Kamu enak belum punya anak. Bisa ngemall kapan pun. Bisa jalan-jalan ke mana-mana.” Dan mereka pun seringkali semakin terpuruk dalam genangan airmata darahnya sendiri (halah!) ketika mendapati tanggapan saya, “Yaeyalaaah… Pastinya enak dong bisa bebas jalan ke mana-manaaa!!!,” sambil cekikikan-manis-nan-santun hingga ngakak-sengaja-kurang-ajar. Yawdahlah, toh tanpa mereka ketahui, saya senantiasa menyumpahserapahi orang-orang yang melibatkan saya ke dalam permasalahan personal mereka; saya pun senantiasa meyakini bahwa yang senyap lebih mematikan daripada yang berisik.

Ayolah, Kawan, anak bukan skadar pelengkap, dudu mung kanggo jangkêp-jangkêpané wong omah-omah. #ngok

~ Bramantio

Advertisements

About this entry