Sabtu Malam Kurang Ajar dan Minggu Pagi Sakit Jiwa

Dua puluh empat jam telah berlalu sejak peristiwa menggelikan menjelang perhelatan—semoga—sekali seumur hidup salah satu kawan cangkruk yang selama bertahun-tahun menjalani moda backstreet meskipun ia maupun partnernya sesungguhnya tidak memenuhi kriteria untuk mengusung moda tersebut. Tidak satu kali pun ia pernah mengajak partnernya untuk cangkruk acak bersama kami. Bahkan, ia senantiasa mengingkari rahasia umum hubungannya dengan si partner. Capedeh. Pada akhirnya yang bisa disimpulkan: mungkin mereka menyukai drama-pakai-k. Entahlah.

Bermula dari Sabtu sore ketika saya dan kedua kawan cangkruk lain dari klub yang sama—kami bertujuh—sepakat bertemu di Tunjungan Plaza untuk mencari kado. Saya lupa kapan terakhir kali ngemall Sabtu malam. Yang jelas, saya tidak pernah keliru dengan keputusan untuk sebisa mungkin tidak ngemall Sabtu malam yang nyatanya memang terlalu sumpek bagi jiwa-jiwa yang lebih mencintai keheningan (halah!). Saya dan seorang kawan bertemu terlebih dulu, kawan satu lagi menyusul sekitar dua jam kemudian. Sesaat setelah tiba di mall, kami berdua memutuskan mencari kado—atau setidaknya mendata kemungkinan-kemungkinannya—sehingga ketika kawan yang satunya datang, kami tidak perlu berlama-lama lagi untuk memikirkannya. Tidak ada yang memuaskan pada putaran pertama. Karena sejak sehari sebelumnya menjalani pertemuan-pertemuan formal yang menjemukan, kami sama-sama merasa lelah dengan aktivitas yang tidak seberapa itu yang di kesempatan lain senantiasa menyenangkan. Kami pun memutuskan mencari tempat duduk yang nyaman untuk ngobrol santai tanpa harus bersaing dengan keberisikan orang-orang yang entah mengapa semakin hari semakin tidak  bisa bicara pelan. Kami pun memutuskan duduk di salah satu tempat ngopi yang sebenarnya telah menjadi pilihan pertama kami—saya tepatnya—namun sebelumnya merasa perlu memastikan tempat-tempat lain benar-benar tidak menyenangkan untuk didiami, pembuktian yang memerlukan sekitar setengah jam yang tentu saja semakin menguras energi kami terlebih lagi dengan ransel yang lumayan sesak dan berat; dua hari itu saya tidak membawa Vito—sehingga tidak bisa meletakkan sebagian bawaan selain laptop—karena enggan rempong dengan parkir hotel yang tidak lapang dan ogah memakai jasa valet yang menjadi tempat pertemuan-pertemuan formal dua hari itu. Kami hanya memesan minum karena sejak awal telah berencana untuk makan malam di tempat lain. Satu jam kemudian kawan kami bergabung. Beberapa jam kemudian kami tahu bahwa ketika kami berada di tempat ngopi itu, peristiwa penusukan seseorang oleh mantan kekasihnya—Yaoloo… tulung po’o—terjadi beberapa puluh meter dari kami namun sama sekali tidak kami ketahui.

Sekitar dua jam menjelang mall tutup kami beranjak untuk memenuhi tujuan utama kami ngemall malam itu, mencari kado dan menemukan di tempat pertama yang kami kunjungi beberapa saat setelah tiba tadi. Kadonya pun sebenarnya tidak seberapa, tapi hal itu tidak penting juga sih khususnya bagi saya yang senantiasa memiliki pemikiran: “Ketika seseorang mengundang—untuk menghadiri resepsi pernikahan—lalu yang diundang datang, itu sudah cukup.”

Pertemuan kami berakhir di gerai burger yang baru beberapa bulan beroperasi di mall itu. Kami hampir saja tidak memperoleh tempat duduk dan pada akhirnya berbagi meja panjang dengan pasangan yang telah berada di situ entah sejak berapa lama. Bagi saya, dalam keadaan yang memang menjadi ciri khas Sabtu malam bukan masalah untuk berbagi tempat duduk, toh kami memang berencana makan di situ dan terlalu malas untuk memikirkan tempat lain. Saya sekadar mempertimbangkan pengaruh kami—dua di antara kami tepatnya—kepada orang-orang asing yang berada di dekat kami yang mungkin tidak terbiasa mendengar obrolan tanpa filter termasuk segala variasi sumpah serapah yang dituturkan dengan santai dan penuh tawa. Tapi, yawdahlah. Kami pun ngobrol woles hingga semua makanan di atas meja tandas dan fokus kami bergeser dari burger-burger lucuk itu ke orang-orang di sekitar kami yang senantiasa menyenangkan… untuk dikomentari secara asal, tanpa mengurangi volume suara, dan penuh perayaan atas kemurahan semesta raya. Haha. Ada tiga yang paling berkesan. Pertama, ketika ada dua orang lelaki gempal berkepala plontos—salah satunya memakai topi namun dari bagian yang terekspos kami bisa menyimpulkan kepalanya tidak berambut—kami langsung memikirkan Ipin dan Upin. Dan karena mereka Ipin dan Upin, yang kemudian mau tidak mau terjadi adalah: “Mereka pasti pesan ayam goreng!” Dan beberapa saat kemudian mereka pun lewat tidak jauh dari kami sehingga kami bisa melihat isi nampan mereka: ayam goreng! Ngakak. Kedua, ketika ada sepasang abegeh yang tadinya mengantre di kasir tiba-tiba keluar dari antrean lalu mojok di dekat pintu tidak jauh dari kami. “Nggak jadi kencan hepi deeeh…,” “Kamu sih ngajak makan di sini,” “Kayaknya nggak nyangka harganya segitu,” “Diskusi dulu. Mau urunan. Pakai jatah kencan minggu depan.” Ngakak. Mencipta peristiwa imajiner memang menyenangkan. Ketiga, ketika sebuah keluarga memasuki gerai dari pintu luar, salah satunya membawa tas belanja putih besar berlabel Mango. “Woooh… Mango,” “Emang ada isinya?” “Kok datangnya dari luar ya,” “Tas dari kapan hari kayaknya,” “Eh… emang ada lho yang jual-beli tas belanja berlabel merk-merk gitu. Ada yang pernah bikin penelitian tentang itu,” “Kayaknya sih emang gitu.” Keluarga itu pun mengantre di kasir. Dan yang paling anteng dan santun di antara kami bertiga pun nyeletuk, “Sori ya. Nggak tahan. Ternyata, tasnya sudah lecek. Fix tas lawas.” Ngakak. Bagaimanapun, yang menjadi juara malam itu adalah yang berikut ini: “Ketika SD, salah satu sepupuku pernah mengalami insiden dalam pelajaran Bahasa Daerah. Ingat, kan, materi nama-nama anak binatang? Pepak Basa Jawa. Jadi, dia pernah mendapat soal ujian tentang nama-nama anak binatang, salah satunya Anaké tumo—kutu rambut—jênêngé…. Jawaban si sepupu dong: ketombe! Matèk nggak koen?” Ngakak hingga berlinang airmata haru—oleh kepolosan sekaligus kebodohan si sepupu.

Sabtu malam pun berakhir. Dan perjalanan pulang masih dihantui oleh segala tawa kurang ajar selama beberapa jam terakhir.

Minggu pagi. Saya bersiap membungkus kado dan betapa saya mendadak senewen karena ternyata saya tidak punya stok kertas kado dan terlalu malas untuk keluar rumah sebentar demi satu-dua lembar. Saya pun memutuskan membungkusnya dengan beberapa amplop berukuran A4 yang saya urai sambungannya lalu menulisinya. Dan saya pikir memang demikianlah yang semestinya terjadi—takdir kado itu—yang apabila dibungkus dengan kertas kado, tidak akan menjelma seperti ini….

img_4746-1

Betapa menyenangkan!

Dua puluh empat jam telah berlalu sehingga tidak masalah jika si kawan melihat lalu membaca unggahan ini. Saya berpikir positif saja bahwa ia telah membuka semua kado—juga amplop—yang telah diterimanya, dan meskipun tidak mendatangkan cekcok pada hari pertama pascaperistiwa ijab qabul, salah satu di antara mereka—syukur-syukur keduanya—setidaknya sempat mengalami serangan jantung mini ketika membaca yang tertera pada pembungkus salah satu kado jahanam yang mereka terima; salah satu karena saya tahu salah satu—atau mungkin dua—kawan cangkruk Sabtu malam itu juga mengirim kado jahanam senada dengan yang saya kirim namun lebih eksplisit lengkap dengan inisial nama (mantan) gebetan si kawan. Legit!

~ Bramantio

Advertisements

About this entry