Akselerasi, Mutasi, Zona Nyaman

Pada awal minggu ini saya mendapati beberapa tautan sejumlah artikel surat kabar dalam klub obrolan sosial yang saya ikuti secara pasif. Artikel-artikel tersebut berkaitan dengan publikasi pada jurnal ilmiah internasional bereputasi yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi perbicangan yang oh-sungguh-melelahkan karena hanya berputar-putar di titik yang sama. Hal yang demikian semakin menyebalkan ketika dikaitkan dengan pemeringkatan berskala dunia fana sementara sejumlah anasir yang turut membangun—riwayat panjang—nya seolah diabaikan begitu saja.

Tidakkah mereka lupa bahwa entitas-entitas yang berada di peringkat teratas adalah yang telah melewati tahun-tahun panjang penuh cabaran dan kesabaran? Tidakkah mereka lupa bahwa entitas-entitas yang berada di peringkat teratas adalah yang sejak awal telah membangun dasar demi dasar yang kokoh hingga bangunan mereka yang semakin hari semakin tinggi tidak sekaligus mengalami keropos yang juga semakin hari semakin besar?

Akselerasi tampaknya menjadi kata kunci dalam konteks ini yang tentu saja tidak menjadi masalah apabila memang didasari kesadaran atas diri dan realitas. Masalahnya, para pengambil kebijakan seolah tidak memiliki kesadaran yang demikian sehingga yang terkena kebijakan pun jungkir-balik demi memenuhi impian massa yang mungkin memang belum masanya untuk terwujud karena masih saja tertimbun oleh perintilan-perintilan administratif yang oh-sungguh-keterlaluan mengingat esensinya yang tidak berkaitan dengan pengembangan keilmuan. Ini semacam usaha mengangkasakan pesawat terbang superduperjumbolalala pada landasan pacu yang pendek dan penuh sampah sementara teknologi antigraviton masih nun jauh entah di mana. Mungkin sebagian orang memang lebih senang melihat ke luar daripada ke dalam dirinya sendiri.

Hal-hal terkait akselerasi tersebut sekaligus mengingatkan saya pada salah satu fenomena terkuat dalam studi sastra di Indonesia sejauh pengamatan saya: kecenderungan melakukan lompatan dari Strukturalisme ke Pascastrukturalisme tanpa disertai landasan yang kokoh. Pascastrukturalisme yang mulai mengemuka pada dasawarsa 1960-an adalah sebuah tindak lanjut atas Strukturalisme yang dianggap tidak mampu lagi mengakomodasi kebutuhan para pemikir masa itu untuk melakukan interpretasi lebih jauh atas objek kajian mereka. Pada titik ini saja dapat dipahami bahwa Pascastrukturalisme bukanlah sebuah generatio spontanea. Ia ada karena Strukturalisme, dan karena itu, yang mengadakannya tentunya telah khatam Strukturalisme. Yang demikian merupakan mekanisme dasar kelahiran pemikiran-pemikiran baru. Khatam menjadi titik penting di sini sehingga meskipun ada yang merasa keberatan dengan rigiditas Strukturalisme, ia tidak semestinya langsung mencoretnya dan bahkan menganggapnya sebagai masa lalu kelam yang harus dikubur dalam-dalam.

Mungkin, sejumlah petinggi, akademisi, intelektual negara ini sedang mencanangkan mutasi besar-besaran demi mengubah Amanita muscaria menjadi Amorphophallus titanum. Padahal, si jamur tidak perlu dijadikan lebih-ini-lebih-itu karena eksistensinya telah selingkaran penuh: mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, beradaptasi pada hampir seluruh medan di permukaan Bumi, dan bersifat halusinogen pada yang mengonsumsinya. Mungil, cuek, dan memabukkan.

“Mutation. It is the key to our evolution. It is how we have evolved from a single-cell organism into the dominant species on the planet. This process is slow, normally taking thousands and thousands of years. But every few millennia, evolution leaps forward.” ~ Professor Charles Francis Xavier, X-Men (2000)

Mungkin juga, kita memang sedang berada di setiap beberapa millenia—dalam evolusi kecendekiaan—ketika “mutasi” terjadi secara masif dan sporadis termasuk dengan memperpendek bahkan memangkas sejumlah galur yang secara alamiah menjadikan kita-di-masa-depan kita-di-masa-depan.

Saya senanantiasa meyakini keniscayaan perjalanan selangkah demi selangkah bersama waktu. Masa-masa yang bagaimanapun tidak bisa dilompati begitu saja. Bahkan, ketika setidaknya dua kali pernah memperoleh keleluasaan untuk melakukannya, saya tidak mengambilnya. Pertama, ketika guru TK A—Nol Kecil sebutannya pada masa itu—menyampaikan kepada Ibuk bahwa saya bisa langsung masuk SD tanpa terlebih dulu TK B. Saya menolak karena saya ingin menikmati satu tahun Nol Besar yang ruangan kelasnya ada di lantai dua. Memang konyol namun demikianlah adanya saya sebagai bocah, demikianlah adanya yang saya butuhkan sebagai bocah. Kedua, ketika Bapak menyemangati saya untuk mengambil studi magister pada tahun yang sama selepas saya menamatkan studi sarjana. Saya menolak karena saya ingin sepenuhnya memberi kesempatan pada diri saya untuk berduka atas berpulangnya Ibuk satu bulan sebelum saya ujian skripsi—yang tidak bisa benar-benar saya lakukan selama menyelesaikan skripsi—sekaligus menata ulang hidup yang runtuh sebagian tiba-tiba.

Yang terjadi pada saya memang tidak bisa begitu saja diparalelkan dengan yang dipikirkan dan dialami oleh orang lain terlebih lagi yang senantiasa menantang dirinya untuk mencapai titik-titik yang lebih We-O-We dalam pandangan umum publik. Saya bukan orang yang suka menantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang membuat saya tidak nyaman meskipun bermuara pada hal-hal yang mungkin jauh lebih baik. Saya pencinta kenyamanan meskipun dengannya saya tidak bisa ke mana-mana atau ke mana-mana namun tidak pernah jauh. Hal yang demikian juga berlaku berkaitan dengan relasi saya dengan Strukturalisme yang telah saya kenal sejak sekitar lima belas tahun lalu. Saya merasa sangat nyaman hidup di dalam Pulau Strukturalisme—di Kastil Naratologi, tepatnya—karena saya memang tidak perlu ke mana-mana untuk bisa melihat, membaca, dan menafsir semesta raya; ada Teropong Proppian, Greimasian, Genettian, Chatmanian, Todorovian, Bakhtinian, dan lain-lain yang membantu memperluas daya jelajah saya menekuri renik-renik dorman yang tersembunyi di bawah lapisan kalimat-kalimat—harfiah dan simbolik—permukaan. Saya cukup duduk atau berbaring di kamar dengan sebuah semesta mikro di tangan saya tanpa perlu keluar-masuk-keluar-masuk dari teks ke konteks ke teks ke konteks yang tentu melelahkan bagi saya. Sayangnya, yang demikian seringkali disalahpahami sebagai tirakat tanpa makna.

Tidak kurang dari satu dasawarsa lalu saya berkenalan pertama kali dengan model aktansial A.J. Greimas. Saya dan seorang kawan membayangkan bahwa betapa keenam aktan dan relasinya—sebuah model struktural yang “sempit”—sejatinya bisa dimanfaatkan untuk membaca banyak hal yang tidak sebatas kesastraan.

model-aktansial

Demikian pula jejak-jejak pemikiran Vladimir Propp—terkait dongeng-dongeng Rusia— yang apabila dipahami dengan kelenturan tertentu dapat dimanfaatkan untuk mencermati pengulangan yang membentuk pola dalam sejarah panjang sebuah bangsa; ketiga puluh tiga fungsi yang dicanangkannya bisa diubah sedemikian rupa sesuai karakteristik target baca. Bisa dibayangkan, dengan nektar Morphology of the Folktale, kita bisa merumuskan Fungsi Insiden, Fungsi Teror, Fungsi Pembunuhan, Fungsi Pelenyapan, Fungsi Pengungkapan, Fungsi Pengalihan, dan lain-lain untuk membaca bagaimana bangsa dan negara ini—dan bangsa dan negara lain—bergerak dari masa ke masa. Meskipun tidak senantiasa ada keajegan, setidaknya dapat memberikan alternatif antisipasi atas rekahan dan tanjakan—yang saya bayangkan serupa pegas dengan rentang tidak beraturan—dalam riwayat sang Kronos.

~ Bramantio

Advertisements