Sepasang Tempat Duduk

Beberapa bulan terakhir ini ada satu hal yang berkali-kali meletup di pikiran saya yang diakhiri tanda tanya yang sejatinya tidak menuntut sebuah jawaban. Sebuah pertanyaan ihwal apakah saya sebenarnya sedang depresi. Seorang kawan di kejauhan ternyata juga mengalami hal serupa. Tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak ingin melakukan apa pun. Bahkan, sekadar memanggang adonan roti pun tidak. Paling cuma baca ini-itu dan mantengin laptop ngedit ini-itu. Dan tentu saja… bobok seharian. Katanya, ini semacam pengembangan diri, menguasai Seni Tidak Melakukan Apa-Apa.

Jika memang ini adalah depresi, setidaknya saya tahu saya depresi. Yah, meskipun yang demikian bisa jadi dinihilkan begitu saja dengan fakta bahwa yang depresi biasanya tidak mengetahui dirinya depresi. Bagaimanapun, bukankah pernyataan bahwa yang depresi tidak mengetahui dirinya depresi juga memuat segala bentuk pengingkaran? Entahlah. Sebaliknya, jika ini bukan depresi dan sekadar fluktuasi mood, setidaknya saya juga tahun penyebabnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu saya merasakan sebuah kecenderungan masif manusia-manusia di sekitar saya: semakin berisik dan aneh pada tataran yang layak menerima apresiasi berupa “Cyux, utekmu nang endi seeeh?” Saya tidak tahu bagaimana reaksi kawan-kawan pembaca ketika mengalami hal-hal berikut ini: (1) Cangkruk di tempat itu-itu saja karena sebagian besar tempat lain dikuasai oleh orang-orang yang tidak bisa berbicara pelan bahkan kepada yang duduk di hadapannya; (2) Memperlambat langkah hanya karena orang di depan saya berjalan begitu pelan demi menyerap sebanyak-banyaknya kehidupan dari layar ponselnya seolah dalam beberapa menit kemudian dia mati; (3) Merelakan beberapa detik menguap karena orang di sekitar saya menyalakan ponselnya bahkan ngobrol sementara film masih sangat jauh dari akhir; (4) Harus berputar memperpanjang perjalanan untuk mendapatkan bingkai karena sebuah mobil parkir sembarangan dan memakan dua bingkai; (5) Menjumpai sejumlah status di media sosial yang isinya hanya eker-ekeran masalah siapa menyembah siapa, siapa menyembah apa, sembahyang dan tidak sembahyang, poso dan gak poso; (7) Menjumpai sejumlah foto di media sosial yang menampilkan kunjungan penuh senyum dan gaya ke kerabat yang dirawat di rumah sakit dan ziarah makam sambil berpose berdoa atau sekadar memegangi nisan dengan pandangan menerawang; duh, gilo; (8) Mlongo dan menahan hasrat ingin misuhi raine karena kelompok sok keren yang dengan pede mempresentasikan makalah yang nyatanya adalah mempresentasikan tulisan saya yang pernah saya unggah di blog dan Academia; congok pol, kan?

Pada akhirnya, saya hanya bisa berharap: semoga senantiasa diberi kelapangan untuk membeli sepasang kursi bioskop, kereta api, dan juga pesawat terbang untuk dipakai sendiri demi bisa berjarak meskipun minimal dari orang-orang di sekitar saya. #aminyaowoh

~ Bramantio

P.S.: Sempat nyaris menyemburkan kopi fensi akibat momen hancik: seseorang yang mirip mantan memasuki gerai tempat saya mengetik dan ia menggendong bayi yang enggak lucuk blas. Sumpah pingin ngakak karena… yaolooo… masa sih mantan saya bakal beranak.

Advertisements

About this entry