Semesta Kerontang, Rumah Merana, Rahasia Dapur

Praskriptum: tulisan ini membocorkan sebagian cerita.

Hari ketika saya nonton Coco pada akhirnya adalah salah satu hari paling mengesankan dalam beberapa bulan terakhir karena beberapa jam setelah credit title melayar, saya nonton Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dan betapa film ini menjadi film Indonesia yang paling membuat saya terpesona setelah bertahun-tahun yang lalu dibuat girang oleh Pasir Berbisik dan Kala, tentu saja dengan catatan bahwa saya sangat jarang nonton film Indonesia dan sama sekali tidak pernah menjelajahi film-film lawasnya yang hitam-putih. Cara film ini menghadirkan dirinya baik secara verbal, visual, maupun audio sejak menit-menit perdana mau tidak mau membuat saya mengingat Kill Bill—khususnya volume kedua yang terasa gersang, sepi, dan tidak semeledak-ledak volume pertamanyayang secara gamblang juga terdiri atas beberapa bagian, dan tidak mengherankan apabila persaman ini sejatinya telah teraba bahkan melalui judul film ini yang tidak menyembunyikan fakta utama cerita selain bagaimana peristiwa itu terjadi. Judul ini pula yang membuat saya berada dalam kewaspadaan sekaligus ketercekaman ihwal yang dilakukan oleh dan terjadi pada Marlina yang bermuara pada pembunuhan, terlebih lagi ada kontras-kontras luar biasa antara bentuk dan isi cerita.

Setelah kesan perdana yang demikian, pada sejumlah titik pada film ini saya menjumpai hal-hal yang membuat saya tersandung meskipun tidak sampai mengacaukan jalinan cerita yang bagi saya terasa seperti metronom di atas meja yang adakalanya tersentak oleh seseorang yang menabrak meja atau menjatuhkan Di Bawah Bendera Revolusi ke meja yang sama namun tidak mencapai titik perubahan tempo yang signifikan. Pertama, peti lengkap dengan pengunci yang digunakan Marlina untuk membawa yang disebutnya sebagai barang bukti. Memang, cerita apa pun tidak berkewajiban menjelaskan dirinya sedemikian rinci dan tetap memberi ruang-ruang kosong untuk diisi sendiri oleh audiensnya, namun kehadiran sesuatu yang pada awalnya tidak ada demi mengamankan interaksi Marlina dengan si bocah adalah hal yang cukup disayangkan, terlepas apakah di perjalanan ia memang menemukan lalu memungut peti yang terbuang atau membelinya dari entah siapa yang ditemuinya di antara rumahnya dan kantor polisi. Kedua, si bocah anak bakul sate bagi saya terasa tidak alami ketika ngobrol dengan Marlina, bukan pada diksinya melainkan pada caranya menyampaikan sapaan, tawaran, dan pertanyan. Sungguh tidak mudah bagi orang dewasa menghadirkan anak sebagai sepenuhnya, dan ini pula yang menjadikan sastra anak sebagai salah satu yang bagi saya paling sulit digarap. Ketiga, sate yang dipesan Marlina terlalu cepat matang, dan terkait hal ini saya sempat berdebat dengan diri sendiri: mungkin si bakul sudah setengah jalan menyiapkan satennya ketika Marlina memasuki kedainya; tapi, jika pun itu benar, bukankah peristiwa itu tetap janggal mengingat—sejauh yang saya tahu—tidak ada bakul sate yang membakar dagangannya sebelum ada yang memesannya. Keempat, ayam yang dimasak Novi; jika semua ayam Marlina telah diangkut pergi, dari mana Novi memperoleh ayam? Saya bisa saja melewatkannya karena sesaat melamun atau terbawa oleh siapa entah ke mana, tapi saya memang tidak melihat ayam dan tidak ada adegan makan sup ayam, sehingga apakah yang demikian lantas bisa disimpulkan bahwa sejatinya Novi tidak pernah memasak sup ayam? Jika benar demikian, buah merah mungil nan letal yang dipungutnya dari tabir tanah dapur apakah sekadar untuk menghadirkan imaji yang sama dengan yang dihadirkan Marlina pada bagian sebelumnya untuk memperkuat kesan nasib yang berulang yang dialami perempuan? Kelima, kata dosa pada terjemahan bagian Confession. Saya tidak tahu mana yang muncul lebih dulu: pembagian babak dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Kehadiran satu kata itu bagi saya mengganggu tidak hanya terkait kesepadanan namun juga adanya bayang-bayang lelaki yang menyatakan bahwa laku perempuan untuk membela dirinya sendiri adalah dosa. Tulung.

Di luar kelima hal itu, Marlina dan Marlina yang terkesan datar adalah kunci terbaik untuk membuat siapa pun yang menyimaknya tidak sekadar menonton melainkan merasa pengalaman perempuan. Saya pertama-tama memahami yang demikian melalui The Hours khususnya bagian Laura Brown yang dimainkan Julianne Moore dengan menghadirkan semacam kehampaan yang pedih milik lubang hitam yang terpinggirkan: tidak ada lonjakan dalam hari-hari Laura sebagai perempuan dan ibu 1950-an yang terbelenggu dalam idealisasi konsep keluarga dan impian pascaperang, namun justru karena itulah bagiannya jauh lebih mengiritasi, menyeret, dan menenggelamkan dibandingkan hentakan-hentakan pada bagian Virginia Woolf dan Clarissa Vaughan. Luka dan duka Marlina tidak lantas menjadikan film ini melodramatik, tidak pula membanjirinya dengan kemurkaan tsunamik, ia tetap melangkah dengan ritme sama sekaligus mendengungkan suara khas milik perempuan yang mungkin hingga kapan pun tidak akan benar-benar berhasil dipahami oleh yang bukan perempuan.

Latar tempat yang kerontang seperti yang juga muncul bahkan secara lebih nyata dalam Pasir Berbisik memiliki kontribusi tidak sebatas sebagai pemberi kesadaran akan ruang melainkan juga matra untuk menonjolkan Marlina. Dengan pakaiannya yang mbalela, tidak taat pada warna sekitar, Marlina adalah eksistensi, ketegasan, sekaligus perlawanan. Sekilas sosok yang ke mana-mana menenteng barang bukti memang terkesan komikal namun mungkin begitulah sejatinya yang dihadapi oleh perempuan—dan manusia—mana pun: ke mana-mana membawa masa lalu yang disukai atau tidak turut menentukan masa kini dan masa kelaknya. Dengan begitu, jalan melingkar yang ditempuhnya pun tidak lagi terbaca sebagai ketidakmampuan untuk sepenuhnya beranjak dan menjelang episode baru: ini adalah laku mengurai dan menyelesaikan segala yang menggantung dan bukan pula kebetulan bahwa rumahlah yang menjadi titik awal dan akhir cerita.

Sebatas yang saya ingat dari satu kali nonton, pada scenescene yang melibatkannya dari kejauhan, rumah tidak hadir di tengah layar: ia ada di pinggir. Hal serupa juga terjadi pada pohon tempat Marlina menyembunyikan diri. Dua hal yang pada umumnya berkonotasi sebagai pemberi keteduhan justru dengan sengaja ditepikan sehingga yang tampak adalah padang terbuka dan potensi gempuran dari arah mana pun. Fakta tekstual yang demikian masih ditambah dengan kematian (sunyi) demi kematian (mendadak) demi kematian (kolosal) demi kematian (hampir setengah hati) yang terjadi di dalam rumah, bahkan di tempat-tampat paling intim sekaligus sakral. Rumah begitu merana karena menjadi sumber sekaligus sarat malapetaka. Bagaimanapun, tetap ada kehidupan (baru) di sana.

Kehadiran Novi sebagai sosok yang tanpa sengaja terlibat dalam kemelut Marlina menjadi bentuk paling eksplisit persaudaraan perempuan (sisterhood). Adegan pipis bareng di tengah padang terbuka yang mungkin tidak seberapa dan bahkan tampak konyol, nyatanya justru memberikan pemahaman bahwa taraf kedekatan seperti itulah yang bisa dicapai oleh perempuan; salah satu hal yang pernah saya diskusikan dengan para mahasiswa di kelas: mengapa perempuan bisa begitu santai izin meninggalkan kelas berdua bertiga berbanyak untuk ke toilet sementara hal yang sama terasa wagu ketika dilakukan oleh lelaki.

Peristiwa transformasi Novi menjelma seperti Marlina pun yang pada awalnya tampak sebagai penyeragaman, pada akhirnya sekali lagi adalah tentang pertautan yang dijalin oleh cara pandang yang sama akan nasib, diri, dan kehidupan mereka. Dua perempuan yang pada awalnya adalah korban, seiring waktu membangun kesadaran bahwa yang terjadi pada mereka bukan lagi ihwal kepada siapa mereka menuangkan kekesalan, kemarahan, dan tuntutan, namun lebih pada bagaimana mereka mengambil tindakan, menyelesaikan masalah, dan menentukan jalan hidup mereka sendiri terserah apa kata orang; hmmm… jadi ingat cerpen “Sang Ratu” Intan Paramaditha. Dari rumah ke padang terbuka ke rumah lagi lalu entah ke mana di luar layar adalah batu-batu loncatan yang tanpa mereka benar-benar ketahui alasannya telah dipilihkan untuk mereka jalani dan pada akhirnya mereka merengkuhnya dengan kelegaan.

Yang paling menarik dan membuat saya bersuka cita selama nonton adalah “rahasia dapur.” Awalnya saya menganggap kehadiran buah merah mungil nan letal serupa antonim Wijayakusuma sebagai kejanggalan ketika mengaitkannya dengan pertanyaan mengapa Marlina menyimpan yang semacam itu di laci meja riasnya? Bagaimanapun, seiring pergerakan cerita saya dapat memaklumi bahwa ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar senyata penampakannya dan terjelaskan secara empiris terkait semesta bernama dapur. Siapa pun yang mengakarabi dapur akan tahu bahwa tidak ada rumus pasti untuk mewujudkan makanan yang nikmat meskipun yang digunakan sebagai dasarnya adalah resep yang sama: sejumput garam bagi seseorang nilainya tidak sama dengan sejumput garam bagi orang lain, api sedang bagi seseorang panasnya tidak sama dengan api sedang bagi orang lain, sekelingking kurus kayumanis bagi seseorang mungkin terlalu menyengat bagi orang lain dan membuatnya melepeh makanan, satu sendok teh baking powder nyatanya tidak senantiasa berhasil menggelembungkan adonan ketika ada di tangan yang mengaduk dengan berbeda, secukupnya bagi seseorang bisa jadi kurang banyak bagi orang lain, segala roti menjelma sekadar senyawa tepung terigu, air, garam, dan ragi tanpa aura yang menggugah ketika diuleni dengan hati kemrungsung, dan karena itu pula bukanlah hal yang mustahil ketika ternyata ada bumbu yang pada saat tertentu melenakan membahagiakan seseorang justru pada kesempatan lain membuatnya terbangun di dunia orang-orang mati. Saya jatuh hati pada adegan di dapur dan yang melibatkan dapur karena mengingatkan saya akan realitas yang saking terlalu sepelenya sering terlewatkan: dapur adalah salah satu wacana sekaligus mitos terkuat dalam riwayat umat manusia, yang dalam film ini menjadi milik perempuan tanpa benar-benar dilihat dengan sepasang mata dan mata-yang-lain oleh tokoh-tokoh lelaki yang mungkin tidak pernah membersitkan pikiran bahwa mungkin ada sedikit ludah, dahak, ingus, upil, jigong, congek, cukup banyak doa dan mantra, dan banyak bibit kematian yang larut dengan subtil dalam segala hidangan yang mereka lahap sehari tiga kali. Dapur adalah kuasa yang menghidupi, mematikan, namun lebih sering terlupakan maknanya.

Terakhir, ada satu hal yang tanpa saya duga justru menjadi hal paling mengerikan dan meremukkan di sepanjang nonton Marlina: sebagian penonton lelaki dan perempuan cekikan menjelang dan selama pemerkosaan Marlina oleh Markus. Ini keliru, sangat keliru, dan yang demikian nyatanya diinsafi sebagai kewajaran oleh sebagian orang.

~ Bramantio

Advertisements