Sirkus, Asal-Usul, Jelang Hari Akhir

Perbatasan tahun ini terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena perkuliahan semester gasal telah usai bahkan sebelum Natal sehingga saya yang biasanya ketika tahun berganti masih berkutat dengan hasil ujian dan tugas mahasiswa merasakan keriangan bersahaja namun tetap saja membuat ingin mendekap semesta raya. Memang, malam pergantian tahun tidak diisi dengan sesi kumpul tralalatrilili bersama TripTrop seperti yang telah menjadi tradisi selama empat tahun terakhir, namun bukan berarti saya mati gaya terlebih malam tahun baru bagi saya sejatinya tidak pernah benar-benar berbeda daripada malam-malam lain. Pada minggu-minggu terakhir tahun lalu saya pun mulai menggambar dan mewarnai lagi yang seingat saya terakhir saya lakukan sekitar dua tahun lalu ketika diminta seorang kawan membuatkan gambar sampul bukunya, melampaui target baca yang saya patok di Goodreads sekitar satu tahun yang lalu, dan mulai menekuni kembali linimasa kehidupan tokoh-tokoh novel saya.

Di antara sekian banyak hal baik di muara 2017, setidaknya ada tiga hal yang sangat berkesan bagi saya dan saya yakin akan terbawa hingga beberapa bulan mendatang. Pertama, The Greatest Showman. Film yang banyak menuai kritik bahkan dengan cara paling menyebalkan ini nyatanya menjadi film kesekian yang membuat saya mewek tahun lalu yang sepanjang ingatan saya menjadi salah satu tahun penuh airmata di dalam bioskop. Halah. Saya sangat menikmatinya sebagai sebuah cerita tentang orang(-orang) yang merekah, mendaki, mencapai puncak namun tetap ingin menapaki tangga menuju kastil di atas awan, jatuh, lalu bangun lagi dengan lagu-lagu luar biasa sebagai fondasinya yang tidak terpuruk pada melankolia. Terlebih lagi, secara tidak terduga muncul imaji apel dan Snow White, Buah Pengetahuan yang membawa konsekuensi luar biasa akan kesadaran tentang “yang hidup” dan “yang mati.” Tidak seperti film-film musikal sebelumnya yang saya tonton, saya menyukai seluruh lagu dalam film ini. Di atas kertas, saya membayangkan “The Greatest Show,” “Rewrite the Stars,” dan “This Is Me” adalah trinitas yang menjadi tulang punggung cerita. Meskipun begitu, pada “A Million Dreams”-lah saya pertama-tama menambatkan hati, lagu ini menjalin diri dengan rangkaian peristiwa yang seketika mengingatkan saya akan Finn dan Estella dalam Great Expectations (1998): inosen, puitis, dan ajaib. Melalui film ini, saya menyaksikan Hugh Jackman yang meledak-dak-dak! dan bahkan lebih membekas di pikiran saya daripada ketika ada di dalam Les Miserables dan Logan. Sebagai P.T. Barnum, tentu ia adalah poros film ini. Bagaimanapun, The Greatest Showman bukanlah one-man show dan saya justru menjumpai yang-gemilang-namun-tidak-menyilaukan pada Michelle Williams. Dia hadir, dia benar-benar mengada dalam berbagai tataran, dan saya tidak diberi pilihan selain mengakui ke-ada-annya. Tidak banyak film Michelle yang saya tonton, tapi dari yang sedikit itu saya tidak menyangka bahwa ia teleh berevolusi sedemikian jauh meninggalkan the girl next door Jen Lindley Dawson’s Creek. Betapa Alma Beers-nya dalam Brokeback Mountain berhasil membuat saya remuk melalui dialog-revelasi-setelah-menunggu-sekian-lama-nya dengan Ennis del Mar di dapur terkait “pergi memancing” sekaligus mengingatan saya bahwa ada rahasia yang dampaknya menghancurkan siapa pun yang menyimpannya dan berada di sekitarnya. Dan di film ini ia bersinar sedemikian rupa di semua adegan yang dihidupnya dan mencapai puncaknya melalui “Tightrope” yang terasa begitu dekat dengan saya yang pada suatu masa pernah berniat melepas banyak hal, tinggal di pulau kecil, dan menulis ulang masa depan demi seseorang yang sangat saya sayangi yang nyatanya… yaaa… nggak segitunya. Hukz. Mungkin sebagian yang menonton menganggap tokoh Charity yang dimainkannya sekadar perempuan dan ibu yang “tidak punya impian,” namun bagi saya justru ia adalah yang sosok yang pertama-tama menyadari dan paling memahami bahwa impiannya telah mewujud dan ia tidak membutuhkan lebih lagi untuk tahu bahwa ia telah bahagia. Wajahnya yang memandang ke kejauhan dan menyimpan arus yang bahkan selama itu tidak dipahami oleh suaminya sendiri dan tampak dari sisi kanan menjelang akhir film adalah imaji kehangatan. Entah disengaja atau tidak, selain Michelle Williams, para perempuan dalam film ini meskipun dengan porsi terbatas justru yang terasa paling berkilau: Keala Settle melalui “This Is Me” yang membuat saya tersenyum lebar sambil ngempet untuk tidak berdiri dan ikutan bergoyang segoyang-goyangnya, Rebecca Ferguson melalui “Never Enough” yang mau tidak mau mengingatkan saya kepada orang-orang yang terus-menerus mencari “sejauh mana aku dapat berlari dan sebanyak apa yang akan kudapat di depan sana” alih-alih “merasa cukup dengan menghidupi yang telah kumiliki,” dan Zendaya melalui “Rewrite the Stars” yang adegan melayang-layangnya bersama Zac Efron sungguhlah membuat ingin jatuh cinta (lagi). The Greatest Showman juga mengingatkan saya bahwa sirkus adalah cermin bagi setiap orang dan freak show tidak lebih daripada istilah untuk menyatakan yang tidak terkatakan, tidak dipahami, tidak terlihat, berbeda, liyan, yang mungkin selamanya akan tetap demikian. Namun, siapa pun yang ada di dalamnya adalah yang juga punya hati dan memahami makna rumah sebagai entitas yang bukan sekadar untuk tinggal dan berteduh. Dan sayup-sayup terdengar “From Now On” yang lagi-lagi membuat saya ingin bergoyang segoyang-goyangnya.

Kedua, Origin. Sebagai novel kesekian karya Dan Brown yang saya baca, petualangan Robert Langdon kali ini tidak bergerak di ranah yang sama dengan Angels & Demons, The Da Vinci Code, The Lost Symbol, dan Inferno. Tidak sekadar penceritaannya yang terasa polifonik dan menggabungkan sejumlah sudut pandang, melainkan juga ceritanya yang tidak sepenuhnya “simbolis.” Bahkan, novel ini di sejumlah bagian terasa seperti Next Michael Crichton minus referensi seni. Melalui judulnya, pembaca sedikit-banyak bisa membayangkan yang diusung novel ini: dari mana kita berasal. Mengambil struktur cerita detektif seperti dalam novel-novel sebelumnya, cerita bergulir sedemikian dengan revelasi selapis demi selapis yang tidak semenggigit serial Robert Langdon sebelumnya. Ketukannya cenderung lambat namun bukan berarti tidak berhasil menyisip dan mengendapkan cerita dalam-dalam, terlebih lagi ketika sampai pada bagian ke mana kita akan pergi. Selepas kalimat terakhir novel ini, saya pun terkejut dengan kenyataan bahwa Origin adalah petualangan Robert Langdon favorit saya. Bagi Origin, tradisi keimanan adalah sebuah mitos yang terus-menerus direvisi sepanjang sejarah umat manusia. Segala tanya tentang asal-usul senantiasa menjadi salah satu yang menarik minat saya sejak pertama kali menemukan visualisasi menarik dalam komik Teen Titans lawas: pada awalnya adalah keos, lalu dari kedalamannya lahirlah Gaia, lalu dari kedalamannya lahirlah Uranus, lalu dari keduanya lahirlah para Titans. Beberapa tahun lalu bahkan saya bersukacita karena menonton Prometheus yang mungkin bagi sebagian orang terasa menjemukan karena minim alien Xenomorph. Rangkaian adegan ketika David dan kawan-kawan melihat Kubah itu untuk kali pertama menjadi salah satu visual yang membuat saya menahan nafas sambil membayangkan “Bagaimana jika memang demikianlah kebenarannya?”

Ketiga, The Joshua Files: Invisible City. Seperti halnya serial Robert Langdon, novel pertama dari pentalogi ini mengambil bentuk cerita detektif: cerita berawal dari tengah, diawali dengan—salah satunya—kematian, lalu bergerak maju sekaligus mundur karena melalui investigasi tokohlah pembaca mengetahui hal-hal di masa lalu. Tema Kiamat 2012 bisa jadi memang terasa basi, namun nyatanya tidak demikian ketika ia sekadar pembungkus perjalanan ke lorong-lorong gelap peradaban Maya dan diri manusia. Ketika menulis ini, saya telah menuntaskan novel kedua The Joshua Files: Ice Shock yang meskipun tidak terasa semengikat novel pertamanya, nyatanya tetap membuat saya mengingat Bapak dan Ibuk serta betapa saya adalah orang yang sangat beruntung.

Semoga 2018 adalah terang dan berkah bagi kita semua.

~ Bramantio

Advertisements